Ancaman Keras Habib Bahar: Tutup Pabrik Miras atau Saya Bakar!

DEMOCRAZY.ID — Panggung politik tanah air kembali memanas! Sebuah ultimatum keras dan penuh tekanan dilayangkan langsung dari jantung Kabupaten Bogor, memicu gelombang polemik baru yang siap mengguncang stabilitas keamanan dan ketertiban regional.

Ancaman Terbuka di Tengah Kepungan Massa

Aksi demonstrasi besar-besaran yang digawangi oleh Front Persaudaraan Islam (FPI) bersama berbagai elemen masyarakat di Citeureup, Kabupaten Bogor, mendadak berubah menjadi panggung tekanan politik berisiko tinggi.

Di tengah lautan massa yang menggelar Aksi Bela Al-Qur’an, Habib Bahar bin Smith secara terbuka melontarkan peringatan keras yang dialamatkan langsung kepada korporasi raksasa di balik pabrik minuman keras setempat.

Tanpa pandang bulu, tuntutan yang diajukan bukan lagi sekadar dialog atau negosiasi administratif.

Tekanan massa mendesak agar aktivitas korporasi dihentikan secara total demi menjaga muruah moral publik.

Penolakan Mentah-Mentah Tenggat Waktu Korporasi

Ketegangan mencapai puncaknya ketika Habib Bahar dengan tegas menolak mentah-mentah keringanan waktu yang diajukan atau diberikan kepada pihak manajemen pabrik PT Inti Tirta Sari Makmur.

Pabrik yang beroperasi di bawah naungan OT Group dan memproduksi merek minuman keras NEWPORT tersebut kini berada di ujung tanduk akibat kemarahan massa yang kian tidak terbendung.

Dalam orasinya, ia menegaskan bahwa kompromi tidak lagi menjadi pilihan. Massa menuntut pembersihan total, termasuk penarikan seluruh produk yang telanjur beredar luas di tengah masyarakat.

Ultimatum Ekstrem: Penutupan Paksa atau Konsekuensi Hukum

Suasana semakin mencekam tatkala ultimatum bernada ekstrem diucapkan di hadapan ribuan massa pendukung. Tanpa keraguan, ia menyatakan kesiapannya mengambil tindakan langsung apabila tuntutan penutupan permanen diabaikan oleh pihak pengelola.

“Kalau enggak ditutup, kalian duduk diam, saya yang bakar. Habis saya bakar, saya menyerahkan diri Polda Jabar,” tegasnya di lokasi aksi.

Sebagai simbol perlawanan nyata, massa yang hadir dalam aksi tersebut langsung bergerak menyegel gerbang utama pabrik menggunakan bentangan spanduk bertuliskan “Pabrik Ini Disegel Masyarakat dan Ummat.”

Ketegangan ini dipicu oleh buntut kontroversi distribusi hadiah minuman keras dalam sebuah acara publik yang dikaitkan dengan hafalan kitab suci, yang sebelumnya sempat viral di berbagai platform media sosial.

👇👇

Artikel terkait lainnya