✍️ Muhammad Afthon Lubbi
Berbeda dengan Joko Widodo yang menjadikan kekuasaan di tangannya, berharap terus menjadi penguasa di republik ini, Gibran tidak seperti ayahnya.
Gibran itu kosong. Bukan bodoh. Kosong, tak punya hasrat apapun.
Seperti gaya bicaranya yang selalu bilang, “ya biasa saja”.
Justru ini yang sangat berbahaya bagi siapapun, bagi lawan politik, pun juga bagi rakyat.
Bagaimana maksudnya?
Seperti saya sebut di awal, ia beda dengan bapaknya.
Apakah apa yang dijalankan Gibran hari ini adalah perintah bapaknya?
Sejauh ini mungkin iya, tapi sebagai manusia, Gibran punya jalannya sendiri.
Bapaknya menginginkan kekuasaan, Gibran hanya menginginkan mainan.
Jika Jokowi meletakkan kekuasaan di hatinya, haus dan rakus kuasa, Gibran menaruhnya di meja.
Semau-mau dia saja. Baginya menjadi wapres, “ya biasa saja”.
Catatan ketika menjadi walikota Solo, ia memimpin dengan gaya semua-maunya saja.
Parkir mobil berhari-hari di mall, ditinggal begitu saja.
Bawa banyak mainan ke meja kantor walikota, dll.
Bab mobil ditinggal di mall berhari-hari, ada yang menafsir itu cara Gibran menegur.
Membawa mainan ke kantor, ditafsir Gibran butuh refreshing yang positif.
Ya bebas saja menafsir, asal bukan untuk menutupi rahasia Gibran yang sebenarnya.
Ia kosong. Masalah ijazah Gibran yang penuh masalah, itulah realitanya.
Problematika anak-anak pejabat yang isi kepalanya kosong, dikirim ke berbagai lembaga pendidikan. Gagal berkali-kali. Karena susah diatur.
Kalau Gibran pintar, anak pejabat pula, ia sekolah dengan benar, kuliah S1, S2, sampai S3, di kampus-kampus bereputasi.
Ngapain ke MDIS, ke UTS Insearch Australia, ke lembaga-lembaga yang sama sekali tidak dikenal, kecuali untuk sekolah anak-anak pejabat yang punya masalah belajar?
Analisa paling sederhana, bahasa Inggris Gibran yang masih tidak bisa lepas teks.
Bagi seorang yang disebutkan sudah kuliah di Singapura dan Australia, kemampuan bahasa Inggrisnya minimal di band 7 untuk IELTS. Itu minimal.
Tidak ada penjelasan lain selain Gibran mempunyai masalah atau kesulitan belajar.
Sebenarnya apa yang membuat Gibran kesulitan belajar? Pindah-pindah sekolah demi mencari ijazah?
Dari lembaga yang tidak berkualitas sekalipun untuk ukuran anak pejabat?
Saya menduga, pendidikannya bermasalah, karena Gibran punya masalah psikologis yang menggangu belajar.
Semacam down syndrom atau ADHD.
Ini dugaan ya! Bukan tuduhan!
Mungkin levelnya tidak separah penyintas lainnya.
Tapi ini menjadi sangat serius, ketika Gibran adalah seorang wakil presiden.
Gibran sangat sulit mengendalikan diri dan sulit dikendalikan.
Terlepas dari urusan politik, Gibran justru perlu dikasihani.
Jiwanya masih anak-anak dan kekanak-kanakan.
Ia dieksploitasi oleh orang tuanya sendiri.
Betul kata Rocky Gerung yang kini duduk di istana memberi nasehat ke Presiden Prabowo, “Jokowi melanggar Undang-undang Perlindungan Anak”. ***