Blunder Istana! Aktivis 98 Sebut Narasi ‘Reformasi Jilid II’ Versi Qodari Cuma Pepesan Kosong

DEMOCRAZY.ID – Klaim Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom), Muhammad Qodari, yang melabeli Presiden Prabowo Subianto sebagai “Pemimpin Reformasi Jilid II” memicu reaksi keras.

Ketua Presidium Aktivis 98 sekaligus Analis Politik Menteng Kleb, Muhammad Surya Wijaya, menilai statement tersebut adalah bukti nyata kegagalan akut dalam komunikasi publik otoritas istana.

Surya menganggap narasi itu sangat ironis dan kehilangan substansi.

Pasalnya, jargon tersebut dilempar ke ruang publik justru saat ribuan elemen mahasiswa sedang mengepung jalanan demi menuntut perubahan yang sesungguhnya.

​”Jika pemerintah memang sedang menjalankan reformasi besar sebagaimana diklaim Qodari, pertanyaannya sederhana: mengapa narasi reformasi itu justru lebih dahulu muncul dari gerakan mahasiswa dibanding dari pemahaman publik terhadap kebijakan pemerintah?” kritik Surya tajam, Sabtu, 13 Juni 2026.

Minim Transparansi Kebijakan: Rakyat Butuh Peta Jalan, Bukan Slogan

Menurut Surya, manuver Bakom selama ini hanya sibuk memproduksi kosmetik politik alih-alih menjembatani edukasi kebijakan kepada konstituen.

Upaya perbaikan struktur ekonomi yang digaungkan pemerintah sama sekali tidak memiliki parameter keberhasilan yang transparan dan dapat diukur oleh masyarakat luas.

Ketidakmampuan aparat mentransformasikan bahasa birokrasi menjadi informasi yang membumi dinilai menjadi pemantik utama munculnya gejolak ketidakpuasan di akar rumput.

​”Pemerintah tidak membutuhkan slogan baru. Yang dibutuhkan publik adalah peta jalan yang jelas mengenai apa yang sedang diperbaiki, siapa yang dikoreksi, siapa yang diuntungkan, dan kapan hasilnya dapat dirasakan.”

“Tanpa itu, istilah Reformasi Jilid II akan sulit memperoleh legitimasi di mata masyarakat,” cetus Surya.

Klaim Istana vs Realita Lapangan: Qodari Sebut Prabowo Tokoh Reformasi, Ubedilah Badrun Bilang Kakistokrasi

Aksi demonstrasi besar-besaran yang digelar ribuan mahasiswa di Bundaran HI pada Jumat, 12 Juni 2026, berbuntut panjang sampai ke ruang diskusi publik.

Isu “Reformasi Jilid II” yang digelorakan massa di jalanan langsung memicu perdebatan sengit antara Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Muhammad Qodari, dengan akademisi Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Ubedilah Badrun.

Qodari pasang badan dengan menyebut bahwa Presiden Prabowo Subianto adalah motor penggerak reformasi yang sesungguhnya lewat kebijakan transformasi ekonomi yang berani mendobrak dominasi kaum elite.

​”Pak Prabowo itu adalah pemimpin reformasi perubahan. Namanya bukan Reformasi Jilid II, tapi strategi transformasi bangsa.”

“Nah, itu yang dikerjakan oleh pak Prabowo saat ini. Apalagi yang Anda cari?” kata Qodari berapi-api.

Mendengar argumen tersebut, Ubedilah Badrun langsung memberikan respons menohok.

Dirinya menilai klaim Qodari sangat keliru dan tidak sesuai dengan realitas sosial-politik hari ini.

Alih-alih melabeli rezim dengan sebutan agen reformasi, Ubed justru menyentil pemerintah dengan istilah kakistokrasi, sebuah kondisi di mana suatu negara dikelola oleh jajaran kabinet yang tidak kompeten, tidak layak, serta minim moralitas.

Bongkar Pasang Kabinet Jadi Bukti Ketidakpastian

Ubed menegaskan, rapor merah pemerintahan saat ini bisa dilihat dengan gamblang dari maraknya kasus korupsi yang belum juga reda serta fenomena bongkar pasang (reshuffle) posisi menteri yang terjadi berulang kali.

Menurutnya, kegelisahan yang dibawa oleh para mahasiswa dalam unjuk rasa tersebut adalah sinyal nyata bahwa ada masalah struktural mendasar yang sengaja diabaikan oleh para penguasa.

Qodari: Prabowo Adalah Pemimpin Reformasi Jilid II

Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) Republik Indonesia, Muhammad Qodari, menyatakan Presiden RI Prabowo Subianto adalah pemimpin Reformasi Jilid II.

Hal itu disampaikan Qodari merespons gema “Reformasi Jilid II” dalam pelaksanaan aksi menyampaikan pendapat yang dilakukan oleh ribuan mahasiswa dan masyarakat lainnya di Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, Jumat (12/6).

“Saya mau letakkan pada konteks yang sesungguhnya. Pak Prabowo itu adalah pemimpin Reformasi Jilid II. Saya ulang ya: Pemimpin Reformasi Jilid II,” ujar Qodari dalam agenda diskusi di CNNIndonesia TV, Jumat (12/6) malam.

Qodari menuturkan penilaian tersebut dilandaskan dengan tindakan Prabowo yang sedang mereformasi struktur ekonomi.

Prabowo, kata dia, tengah berusaha agar manfaat atau keuntungan ekonomi tidak lagi dirasakan oleh elite-elite tertentu saja.

“Yang dilakukan pak Prabowo sekarang beliau sedang melakukan reformasi terhadap struktur ekonomi Indonesia; struktur yang selama ini hanya menguntungkan elite saja, struktur yang selama ini memungkinkan elite-elite tertentu untuk membawa lari uang negara. Itu dikoreksi oleh pak Prabowo,” imbuhnya.

Qodari menyebut tindakan Prabowo itu sangat berani.

Dalam hal ini dia membanggakan pengusutan kasus dugaan korupsi tata kelola minyak mentah dan produk kilang Pertamina 2018-2023 serta penertiban kawasan hutan oleh Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH).

“Pak Prabowo itu adalah pemimpin reformasi perubahan. Namanya bukan Reformasi Jilid II, tapi strategi transformasi bangsa. Nah, itu yang dikerjakan oleh pak Prabowo saat ini. Apalagi yang Anda cari?” ucap Qodari.

“Inilah pemimpin yang secara konsekuen dan secara nyata melakukan perubahan yang diinginkan. Pak Prabowo justru yang melakukan perubahan-perubahan yang sangat radikal,” sambungnya.

Sementara itu, Dosen Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Ubedilah Badrun menepis penilaian tersebut. Menurut dia, Prabowo merupakan tipe pemimpin kakistokrasi.

Secara sederhana, kakistokrasi merupakan bentuk pemerintahan yang dikelola oleh orang-orang tidak kompeten, tidak layak, atau tidak bermoral.

“Terbukti dengan sekian kali reshuffle(kocok ulang kabinet), kemudian korupsi masih merajalela,” kata Ubed.

Dia menegaskan tidak tepat jika Prabowo disebut sebagai pemimpin Reformasi Jilid II.

Ubed mempersilakan Prabowo melakukan sesuatu yang dianggap besar.

Namun begitu, dia mengingatkan supaya kehendak mahasiswa yang jauh lebih besar sebagaimana tuntutan dalam demonstrasi hari ini supaya dipertimbangkan betul.

“Karena mereka (mahasiswa) adalah generasi yang akan merasakan masa depan Republik ini. Mereka adalah generasi yang sesungguhnya menjadi korban dari ulah kekuasaan yang justru merugikan generasi mereka,” ucapnya.

“Jadi, banyak kegelisahan mahasiswa itu yang mereka pikir ini perlu ada perubahan mendasar yang mereka sebut sebagai Reformasi Jilid II itu. Bukan seperti yang Bung Qodari jelaskan. Itu bagian dari ikhtiarnya Prabowo saja untuk mengatasi satu hal, tapi hal lain tidak diatasi,” lanjut Ubed.

Pada hari ini, mahasiswa dan warga menggelar aksi unjuk rasa di Jakarta. Pusat aksi berada di Bundaran HI, Jalan Sudirman, Jakarta Pusat.

Mereka membawa sejumlah tuntutan, seperti meminta pemerintah untuk menyetop pemborosan anggaran negara; menurunkan harga kebutuhan pokok dan Bahan Bakar Minyak (BBM); menghentikan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan pembangunan Koperasi Desa Merah Putih; menghentikan militerisme di ranah sipil; serta meminta Prabowo untuk berhenti mengelak dan mengakui kesalahan pemerintah.

Sumber: CNN

Artikel terkait lainnya