DEMOCRAZY.ID – Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) merilis hasil survei Opinion Leaders periode September 2026 mengenai penilaian kemampuan kepemimpinan para tokoh nasional.
Survei ini dilakukan terhadap nama-nama tokoh yang sering disebut-sebut sebagai calon pemimpin jelang 2029.
Penilaian tersebut menggunakan indikator “Bisa bekerja, tegas, bisa mengambil keputusan” dengan rentang skor 0 hingga 10.
Pendiri SMRC, Saiful Mujani, menyampaikan bahwa kriteria pemimpin yang ideal terletak pada keberanian dan kepastian dalam mengambil keputusan serta menentukan skala prioritas.
“Mampu memimpin. Kan banyak pemimpin-pemimpin terlalu banyak mikir ya, ragu untuk ngambil keputusan dan seterusnya. Tidak bisa juga menetapkan prioritas dan seterusnya kayak gitu. Ini juga Pak Mahfud, Ahok, Dedi Mulyadi di atas. Kemudian yang di bawahnya Kaesang, Gibran lagi. 3,9, 4,3,” ujar Saiful Mujani di Gedung FISIP UIN Jakarta, Kamis (15/10/2026).
Berdasarkan paparan data survei tersebut, Mahfud MD menempati peringkat teratas dengan skor 7,6.
Posisi berikutnya diisi oleh Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dengan skor 7,4 dan Dedi Mulyadi sebesar 7,3.
Menyusul di jajaran sepuluh besar adalah Pramono Anung Wibowo (7,2), Sri Mulyani Indrawati (7,1), Anies Baswedan (7,1), Sherly Tjoanda Laos (6,9), Ganjar Pranowo (6,9), Retno Marsudi (6,7), dan Megawati Soekarnoputri (6,7).
Selanjutnya, deretan tokoh dengan skor di kisaran menengah meliputi Agus Harimurti Yudhoyono (6,6), Zainal Arifin Mochtar (6,6), Saldi Isra (6,6), Usman Hamid (6,4), Andika Perkasa (6,4), Sudirman Said (6,4), Feri Amsari (6,3), Yusril Ihza Mahendra (6,2), Bivitri Susanti (6,2), Surya Paloh (6,1), dan Gatot Nurmantyo (6,0).
Sementara itu, untuk kelompok tokoh dengan skor di bawah 6,0 antara lain Sukidi (5,8), A.
Muhaimin Iskandar (5,7), Ubedilah Badrun (5,6), Almuzammil Yusuf (5,5), Prabowo Subianto (5,5), Bahlil Lahadalia (5,4), Puan Maharani (5,3), serta Zulkifli Hasan (5,3).
Adapun peringkat terbawah dalam indikator kemampuan memimpin ini ditempati oleh Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang memperoleh skor 4,3, diikuti Kaesang Pangarep di posisi buncit dengan skor 3,9.
Survei ini melibatkan 200 opinion leader, terdiri atas 166 akademisi/ilmuwan dari berbagai bidang (politik/pemerintahan, filsafat/sejarah/agama/budaya, sosiologi/antropologi, ekonomi/pembangunan, sains/teknik, komunikasi, hukum, dan psikologi) serta 34 jurnalis.
Karena tidak ada daftar populasi opinion leader secara nasional, responden tidak dipilih secara acak, melainkan dengan teknik snowballing, terutama melalui media massa nasional dan daerah.
Karena itu temuan survei ini bersifat deskriptif: mencerminkan penilaian para responden, bukan populasi opinion leader secara keseluruhan.
Sebanyak 149 responden bersedia namanya dipublikasikan.
Responden menilai 31 tokoh dengan skor 0 sampai 10.
Kelompok responden tersebut terdiri atas opinion leaders dengan latar belakang beragam, antara lain intelektual publik atau akademisi, pengamat, pimpinan media massa cetak, elektronik, dan daring, serta jurnalis senior yang biasa menjadi narasumber media massa.
Nama tokohtokoh nasional yang muncul dalam survei adalah nama-nama dalam top of mind (responspontan)survei-survei opini publik nasional.
Tokohtokoh yang dibicarakan terutama di media massa dan di kalangan politisi nasional dalam kaitannya dengan pencalonan presiden atau wakil presiden.
Kemudian tokoh-tokoh intelektual dan aktivis yang banyak bersikap untuk masalah-masalah nasional dan politik nasional.