DEMOCRAZY.ID – Frono Jiwo, teman satu angkatan Joko Widodo saat menempuh pendidikan di Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM), mengaku prihatin dengan polemik mengenai keaslian ijazah dan skripsi Presiden ke-7 RI tersebut yang beredar di media sosial.
Frono mengatakan dirinya dan Jokowi merupakan mahasiswa satu angkatan.
Keduanya sama-sama mulai kuliah di Fakultas Kehutanan UGM pada 1980 dan menyelesaikan pendidikan pada 1985.
“Kami seangkatan dengan Pak Jokowi, masuk tahun 1980,” ungkap Frono dalam keterangannya dikutip dari situs resmi UGM, Senin (10/8/2026).
Menurut Frono, selama menjadi mahasiswa, Jokowi dikenal sebagai sosok yang cenderung pendiam.
Namun karakter tersebut berbeda ketika Jokowi berada di tengah teman-teman dekatnya.
Frono mengingat Jokowi memiliki selera humor yang cukup tinggi.
Dalam berbagai kesempatan berkumpul, Jokowi disebut kerap melontarkan candaan yang membuat teman-temannya tertawa.
“Pak Jokowi orangnya pendiam, tapi kalau ngobrol selalu kocak, apa yang jadi pembicaraan selalu mengundang tawa,” ujarnya mengenang.
Selain mengenang karakter Jokowi saat menjadi mahasiswa, Frono juga membenarkan bahwa Jokowi ketika kuliah memiliki kegemaran mendaki gunung.
Menurut dia, sejumlah gunung di Pulau Jawa dan Sumatera pernah didaki Jokowi.
Namun, Frono mengatakan dirinya tidak terlalu sering melakukan kegiatan tersebut dan tidak pernah mengingat pernah mendaki gunung bersama Jokowi.
“Pak Jokowi sering naik gunung, tapi saya jarang dan seingat saya, saya tidak pernah bareng naik gunung sama Pak Jokowi,” katanya.
Kesaksian tersebut menjadi bagian dari kenangan Frono mengenai kehidupan Jokowi sebelum dikenal sebagai pengusaha, wali kota, gubernur, hingga presiden.
Dalam polemik mengenai dokumen akademik Jokowi, Frono juga menyinggung ijazah yang diterimanya dari Fakultas Kehutanan UGM.
Ia mengatakan tampilan ijazah miliknya memiliki kesamaan dengan ijazah Jokowi yang selama ini menjadi objek perdebatan di media sosial.
Menurut Frono, kesamaan tersebut antara lain terlihat pada penggunaan jenis huruf serta nama pejabat universitas dan fakultas yang menandatangani dokumen.
“Ijazah saya bisa dibandingkan dengan ijazahnya Pak Jokowi. Semua sama kecuali nomor kelulusan ijazah dari Universitas dan Fakultas,” ujar Frono.
Ia menyebut ijazah tersebut ditandatangani Rektor UGM Prof. T. Jacob dan Dekan Fakultas Kehutanan Prof. Soenardi Prawirohatmodjo.
Frono tidak menjelaskan lebih jauh mengenai proses verifikasi keaslian dokumen tersebut.
Pernyataannya merupakan kesaksian pribadi berdasarkan ijazah yang ia miliki dan pengalamannya sebagai mahasiswa pada periode yang sama.
Frono juga memberikan gambaran mengenai proses penyusunan skripsi mahasiswa Fakultas Kehutanan UGM pada awal 1980-an.
Menurut dia, mahasiswa pada masa tersebut umumnya masih menggunakan mesin ketik untuk menyusun skripsi.
Komputer memang sudah mulai dikenal, tetapi penggunaannya belum umum di kalangan mahasiswa.
“Pembuatan skripsi semua pakai mesin ketik, walaupun sudah ada komputer tapi jarang sekali yang bisa,” katanya.
Adapun sejumlah bagian dalam skripsi, seperti sampul, lembar pengesahan, hingga proses penjilidan, menurut Frono umumnya dikerjakan melalui jasa percetakan.
“Kalau sampul, lembar pengesahan, penjilidan skripsi semua di percetakan,” ujarnya.
Kesaksian tersebut memberikan gambaran mengenai kondisi teknologi dan kebiasaan akademik pada masa ketika Frono dan Jokowi menyelesaikan pendidikan mereka.
Hubungan Frono dan Jokowi tidak berhenti setelah keduanya menyelesaikan pendidikan di UGM.
Keduanya juga sempat melamar pekerjaan di perusahaan yang sama, PT Kertas Kraft Aceh (Persero).
Frono mengatakan dirinya, Jokowi, dan almarhum Hari Mulyono, yang merupakan adik ipar Jokowi, sama-sama bekerja di perusahaan tersebut.
Namun, Jokowi tidak lama bekerja di Aceh. Menurut Frono, Jokowi mengundurkan diri sekitar dua tahun setelah bekerja.
Frono mengaitkan keputusan tersebut dengan kondisi tempat tinggal di lokasi kerja yang berada di kawasan hutan pinus di Aceh Tengah.
Setelah menikah, Iriana Jokowi disebut tidak betah tinggal di kawasan tersebut.
“Kami bertiga, Pak Jokowi, saya dan almarhum Hari Mulyono (adik ipar Jokowi) bareng-bareng masuk kerja. Setelah Pak Jokowi menikah, Ibu Iriana kayaknya tidak betah karena basecamp berada di tengah hutan pinus di Aceh Tengah,” tuturnya.
“Pak Jokowi resign dulu, tinggal saya dan almarhum Hari Mulyono yang masih bertahan,” lanjut Frono.
Kesaksian Frono memperlihatkan potongan lain dari kehidupan Jokowi sebelum terjun ke dunia politik.
Selain menjadi teman satu angkatan di Fakultas Kehutanan UGM, Frono juga pernah berada dalam lingkungan pekerjaan yang sama dengan Jokowi.
Di tengah kembali ramainya perdebatan mengenai dokumen akademik Jokowi, kesaksian teman seangkatannya tersebut menambah perspektif dari orang yang mengaku mengalami langsung masa perkuliahan dan kehidupan awal karier Jokowi.