DEMOCRAZY.ID – Pernyataan Presiden Prabowo Subianto dalam pidato sidang tahunan MPR RI masih menjadi perbincangan publik.
Pegiat media sosial, Bachrum Achmadi, bahkan mendorong Prabowo memberikan penjelasan sekaligus meminta maaf kepada masyarakat terkait pernyataan yang dinilai menimbulkan kegaduhan.
Bukan tanpa alasan, belakangan ini justru orang-orang di sekitar Presiden yang sibuk memberikan klarifikasi atas polemik yang muncul.
Ia mempertanyakan mengapa Prabowo sendiri tidak tampil memberikan penjelasan kepada publik.
Bachrum mempertanyakan apakah angka yang disampaikan Presiden merupakan kesalahan pengucapan atau memang tercantum dalam naskah pidato.
“Rp700.000 karena salah ucap, tapi tidak minta maaf untuk mengkoreksi,” ujar Bachrum, Selasa (18/8/2026).
Baginya, jika memang terjadi kesalahan pengucapan, publik seharusnya dapat mengetahui apakah angka tersebut benar-benar tertulis dalam naskah yang dipersiapkan untuk Presiden.
“Kalau memang salah ucap coba tunjukin naskah pidatonya bener ga tertulis Rp700 perkilogram atau Rp700.000 perkilogram,” lanjutnya.
Bachrum menegaskan bahwa persoalan tersebut semestinya diselesaikan melalui penjelasan langsung dari Presiden.
Ia menyayangkan apabila klarifikasi justru datang dari jajaran pemerintahan atau pihak lain yang berupaya menjelaskan pernyataan Prabowo.
Kata Bachrum, Presiden sebagai pihak yang menyampaikan pidato seharusnya mengambil tanggung jawab langsung apabila terdapat bagian pernyataan yang menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat.
Bukan hanya mempersoalkan polemik besaran gaji ibu Susanah dalam pidato, Bachrum juga melontarkan kritik terhadap gaya komunikasi Prabowo.
Ia menilai Presiden kerap melontarkan pernyataan yang kemudian menjadi perdebatan publik.
“Setiap pidato bikin blunder, tapi gemar ngejek orang nyenyenye sambil menjulurkan lidah, Presiden kok gini amat,” Bachrum menyesalkan.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto memperkenalkan Susanah dalam pidatonya pada Sidang Tahunan MPR RI.
Dalam kesempatan tersebut, Prabowo menyampaikan kondisi Susanah yang disebut berasal dari Kabupaten Bogor dan bekerja sebagai buruh harian.
“Hari ini hadir bersama kita Ibu Susana dari Kabupaten Bogor,” ujar Prabowo diiringi tepuk tangan para pejabat negara dan tamu undangan.
“Ia bekerja sebagai buruh harian, mengupas bawang dengan upah 700 ribu rupiah per kilogram,” tambahnya.
Prabowo juga menyebut Susanah mendapatkan dukungan melalui sejumlah program bantuan pemerintah.
“Program Keluarga Harapan dan Program Sembako membantu menjaga pendidikan anak-anaknya,” jelasnya.
Dalam pidato yang sama, Prabowo turut memperkenalkan sosok lainnya, yakni Margaret Lita Roy dari Kupang, Nusa Tenggara Timur.
“Hadir pula Ibu Margaret Lita Roy dari Kupang, Nusa Tenggara Timur,” ucap Prabowo.
“Sejak kecil ia hidup dalam kesulitan dan tidak pernah menyenyam pendidikan,” sambung dia.
Prabowo menyebut Margaret pada usia 38 tahun masih berdagang sekaligus merawat tantenya yang telah berusia 80 tahun.
“Pada usia 38 tahun, ia masih berdagang serta merawat tantunya yang sudah berusia 80 tahun,” imbuhnya.
Menurut Prabowo, bantuan sosial yang diterima Margaret menjadi salah satu penopang keluarganya.
“Bantuan sosial atensi berupa beras dan minyak menjadi penopang keluarganya,” tandasnya.
Lebih jauh, Prabowo bilang bahwa kehadiran negara semestinya memperkuat perjuangan masyarakat, bukan menggantikan kerja keras mereka.
“Negara hadir bukan untuk menggantikan kerja keras rakyat negara hadir agar kerja keras rakyat tidak sia-sia,” kuncinya.