Pidato Kerap Ngawur dan Picu Polemik, Cendekiawan NU Secara Terbuka Minta Prabowo Introspeksi Diri!

DEMOCRAZY.IDCendekiawan Nahdlatul Ulama (NU), Gus Hilmi Firdausi, menanggapi sejumlah pernyataan Presiden Prabowo Subianto dalam pidato yang menuai sorotan publik.

Menurut Gus Hilmi, kesalahan dalam berbicara di depan publik merupakan hal yang wajar dan dapat terjadi kepada siapa pun, terutama bagi seseorang yang memiliki intensitas tinggi dalam menyampaikan gagasan.

Namun, ia menilai persoalan menjadi berbeda apabila kesalahan atau kekeliruan dalam menyampaikan informasi terjadi secara berulang.

Gus Hilmi mengatakan seorang pembicara perlu melakukan introspeksi apabila kekeliruan dalam komunikasi publik terus terjadi.

Ia menilai evaluasi penting dilakukan untuk meningkatkan kualitas penyampaian informasi kepada masyarakat.

“Saya ini pendakwah, pengisi seminar, dosen tamu, pengisi acara diskusi juga di TV,” ujar Gus Hilmi, Senin (17/8/2026).

Ia menegaskan, kesalahan pengucapan atau slip of tongue yang hanya terjadi sesekali tidak semestinya langsung dianggap sebagai persoalan serius.

“Jadi slip tounge sekali dua kali itu hal yang lumrah,” ucapnya.

Menurut Gus Hilmi, kondisi berbeda apabila kesalahan serupa terus muncul dalam berbagai kesempatan.

Ia meminta pembicara mengevaluasi cara berkomunikasi agar informasi yang disampaikan kepada publik tidak menimbulkan polemik.

“Tapi kalau tiap kali bicara di publik selalu terulang, artinya kita selaku pembicara harus introspeksi diri,” tukasnya.

Ia kemudian menekankan perlunya upaya memperbaiki kemampuan komunikasi, terutama bagi tokoh publik yang pernyataannya menjadi perhatian masyarakat luas.

“Nerusaha memperbaiki kualitas public speaking kita ke depan,” kuncinya.

Pernyataan Prabowo dalam Pidato

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto memperkenalkan sejumlah masyarakat dalam pidatonya pada Sidang Tahunan MPR RI.

Salah satu yang disebut adalah Susanah dari Kabupaten Bogor.

Prabowo menyampaikan bahwa Susanah bekerja sebagai buruh harian dengan pekerjaan mengupas bawang.

“Hari ini hadir bersama kita Ibu Susana dari Kabupaten Bogor,” ujar Prabowo diiringi tepuk tangan para pejabat negara dan tamu undangan.

“Ia bekerja sebagai buruh harian, mengupas bawang dengan upah 700 ribu rupiah per kilogram,” tambahnya.

Prabowo juga menjelaskan Susanah mendapatkan dukungan melalui sejumlah program bantuan pemerintah.

“Program Keluarga Harapan dan Program Sembako membantu menjaga pendidikan anak-anaknya,” jelasnya.

Selain Susanah, Prabowo turut memperkenalkan Margaret Lita Roy dari Kupang, Nusa Tenggara Timur.

“Hadir pula Ibu Margaret Lita Roy dari Kupang, Nusa Tenggara Timur,” ucap Prabowo.

“Sejak kecil ia hidup dalam kesulitan dan tidak pernah menyenyam pendidikan,” sambung dia.

Prabowo mengatakan Margaret yang berusia 38 tahun masih berdagang sekaligus merawat tantenya yang telah berusia 80 tahun.

“Pada usia 38 tahun, ia masih berdagang serta merawat tantunya yang sudah berusia 80 tahun,” imbuhnya.

Menurut Prabowo, bantuan sosial yang diterima Margaret turut menjadi penopang keluarganya.

“Bantuan sosial atensi berupa beras dan minyak menjadi penopang keluarganya,” tandasnya.

Prabowo kemudian menegaskan bahwa kehadiran negara bukan untuk menggantikan kerja keras masyarakat, melainkan memastikan perjuangan mereka mendapatkan dukungan.

“Negara hadir bukan untuk menggantikan kerja keras rakyat negara hadir agar kerja keras rakyat tidak sia-sia,” kuncinya.

Artikel terkait lainnya