

DEMOCRAZY.ID — Purna sudah masa jabatan formal, namun panggung politik sang mantan kepala negara tak kunjung sepi dari kontroversi.
Langkah politik Presiden ke-7 RI Joko Widodo kembali memantik reaksi keras dari kalangan pengamat dan politisi usai menerima gelar kehormatan adat sebagai Raja Timor di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Penobatan yang digelar dalam balutan karnaval budaya di Kelurahan Lai Lai Besi Kopan, Kota Kupang, Sabtu (1/8/2026) lalu, langsung menuai kritik pedas.
Sejumlah tokoh menilai rentetan gelar adat yang terus disematkan kepada Jokowi mengindikasikan ambisi politik yang tak pernah surut.
Direktur Lingkar Madani (LIMA), Ray Rangkuti, melontarkan sindiran telak melalui akun pribadinya.
Ia memetakan rekam jejak kekuasaan Jokowi yang secara konsisten terus merangksek naik, mulai dari tingkat lokal hingga nasional, yang dinilai masih menyisakan hasrat kekuasaan yang belum tuntas.
“Lima tahun wali kota, dua tahun gubernur, 10 tahun presiden (tadinya minta nambah satu periode). Ternyata tak cukup, kini jadi raja,” sindir Ray tajam.
(Catatan redaksi: Merujuk pada data historis masa jabatan, kepemimpinan Jokowi di DKI Jakarta tercatat selama kurang lebih dua setengah tahun sebelum terpilih menjadi presiden).
Kritik senada juga datang dari Senayan. Anggota Fraksi PDI Perjuangan, Deddy Yevri Sitorus, secara terbuka mempertanyakan motivasi di balik berbagai gelar kehormatan yang terus diterima Jokowi pasca-menanggalkan jabatannya.
Menurutnya, fenomena tersebut mencerminkan syahwat politik yang sudah melampaui batas kewajaran.
“Paduka, raja, besok kaisar lalu berikutnya mau jadi Yang Maha Besar kah? Syahwat kuasa yang melampaui nalar,” ujar Deddy geram.
Prosesi penobatan Jokowi sebagai Raja Timor sendiri dipimpin langsung oleh para pemangku adat dari seluruh Pulau Timor, serta turut diwarnai kemeriahan pertunjukan seni tradisional seperti Tari Caci dan Tari Bonet khas Manggarai di hadapan ribuan warga yang hadir.
Penobatan di Kupang ini semakin melengkapi daftar panjang gelar kehormatan adat yang disematkan kepada Jokowi setelah dirinya lengser dari kursi kepresidenan.
Sebelumnya, suami Iriana tersebut juga sempat dinobatkan sebagai warga kehormatan pemegang gelar adat Baginda Pemuka Bangsa oleh lima kerajaan adat Lampung dalam sebuah prosesi sakral di Kedatun Keagungan Lampung, Bandar Lampung.
Dalam upacara adat tersebut, Jokowi bahkan turut menjalani sejumlah ritual tradisional, termasuk prosesi menginjak kepala kerbau.
Kendati dikemas dalam bungkus pelestarian budaya lokal, gelombang kritik dari para pengamat menegaskan bahwa simbol-simbol adat kerap kali dibaca publik sebagai instrumen pencitraan politik lanjutan guna merawat pengaruh di ruang publik.