DEMOCRAZY.ID — Jurnalis senior Hersubeno Arief melontarkan analisis tajam mengenai dinamika relasi dan ketegangan politik yang melibatkan Presiden ke-5 RI sekaligus Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, dengan Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi).
Menurutnya, kompleksitas kekecewaan dan luka batin yang dirasakan Megawati terhadap Jokowi jauh lebih mendalam jika dibandingkan dengan konflik politik yang pernah terjadi di masa lalu tatkala ia bersaing dengan Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
Dalam ulasannya melalui kanal YouTube Hersubeno Point, dikutip Jumat (14/8/2026), Hersubeno membedah karakteristik dan latar belakang relasi Megawati dengan kedua tokoh tersebut yang memiliki perbedaan esensial.
“Kalau dibandingkan dengan SBY, luka batin Mega itu jauh lebih dalam ya dibanding kalau di-apple-to-apple dengan Joko Widodo,” ujar Hersu.
Ia mengenang kembali dinamika politik pada era kepresidenan Megawati, di mana SBY saat itu berposisi sebagai salah satu menteri di dalam kabinet.
Meskipun saat itu sempat muncul polemik ketika SBY memutuskan maju sebagai calon presiden setelah sebelumnya menyatakan tidak akan mencalonkan diri—yang berujung pada kemenangan SBY atas Megawati dalam Pilpres 2004—relasi tersebut tetap berada dalam koridor persaingan politik struktural.
Sebaliknya, hubungan antara Megawati dan Jokowi dinilai memiliki dimensi emosional yang jauh lebih personal.
Jokowi tidak sekadar diposisikan sebagai kader atau mitra kerja di dalam partai, melainkan telah dianggap dan diperlakukan layaknya anggota keluarga sendiri.
“Tapi kalau Jokowi ini benar-benar parah, karena tadi itu dia ini kan seperti apa ya, Jokowi sendiri menyebut sudah dianggap seperti ibunya sendiri katanya, ibunya sendiri kemudian dikhianati. Kalau dikhianati ya kayak Malin Kundang dong begitu ya,” tandas Hersu mengibaratkan dinamika tersebut.
Latar belakang retaknya hubungan Megawati dan Jokowi bermuara pada konstelasi politik pada Pemilu 2024.
Di internal PDI Perjuangan, langkah politik keluarga Jokowi dinilai sebagai bentuk pembangkangan terhadap garis keputusan partai.
Meskipun saat itu Jokowi masih memegang status resmi sebagai kader partai berlambang banteng moncong putih sekaligus kepala negara, arah dukungan politiknya justru diidentifikasi tidak sejalan dengan keputusan resmi PDI Perjuangan yang mengusung pasangan Ganjar Pranowo dan Mahfud MD.
Situasi semakin meruncing ketika putra sulung Jokowi, Gibran Rakabuming Raka, secara resmi maju mendampingi Prabowo Subianto sebagai calon wakil presiden.
Langkah strategis tersebut dibaca oleh lingkaran internal partai sebagai bentuk restu terselubung dari Jokowi, yang sekaligus menandai titik nadir runtuhnya aliansi politik antara Megawati dan sang mantan presiden.