DEMOCRAZY.ID — Tamparan keras kembali menghantam wajah rezim kekuasaan!
Lembaga riset terkemuka Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) baru saja merilis hasil studi evaluasi kualitas kepemimpinan 31 tokoh nasional per Oktober 2026.
Hasilnya sangat mengejutkan: mantan Menko Polhukam Prof.
Mahfud MD bertengger kokoh di posisi puncak, sementara skor kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka hancur merosot di papan bawah!
Penilaian independen yang melibatkan 200 opinion leaders (166 akademisi/ilmuwan dan 34 jurnalis senior nasional) ini memperlihatkan betapa buruknya persepsi kalangan cendekiawan dan pers terhadap kapasitas kepemimpinan duet Istana yang kini didera krisis integritas dan skandal ijazah fiktif.
Dalam survei berbasis penilaian pakar (expert judgment) dengan skala 0 hingga 10 tersebut, Mahfud MD berhasil menyapu bersih kepercayaan para elit terdidik dengan menyabet skor rata-rata tertinggi sebesar 7,6.
Mahfud dinilai unggul mutlak berkat rekam jejak yang bersih, integritas moral yang teruji, komitmen teguh pada demokrasi, serta ketegasannya dalam penegakan hukum.
Di bawah Mahfud, deretan figur publik dan tokoh nasional menyusul rapat dengan raihan skor rata-rata 7,0, antara lain:
Anies Baswedan (Mantan Gubernur DKI Jakarta)
Basuki Tjahaja Purnama / Ahok
Dedi Mulyadi / KDM (Gubernur Jawa Barat)
Zainal Arifin Mochtar (Pakar Hukum Tata Negara)
Pramono Anung (Gubernur DKI Jakarta)
Sorotan paling tajam dan memalukan tertuju pada skor kepemimpinan dua penguasa tertinggi Republik.
Berdasarkan pengujian ketat atas 10 indikator utama—termasuk integritas, kompetensi manajerial, komitmen demokrasi, hingga dorongan kesejahteraan umum—nilai Presiden Prabowo Subianto dan Wapres Gibran Rakabuming Raka benar-benar jeblok!
Presiden Prabowo Subianto hanya mampu mendulang nilai rata-rata 5,1. Sementara itu, sang Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka terjerembap di posisi yang jauh lebih mengenaskan dengan skor 4,4!
Hasil studi SMRC ini menjadi bukti telanjang bahwa di mata kalangan intelektual, akademisi, dan insan pers nasional, duet Prabowo-Gibran mengalami defisit legitimasi moral yang amat parah.
Terbongkarnya skandal perampokan konstitusi (MK90), rekayasa aturan PKPU, hingga ketiadaan bukti ijazah SMA sah milik Gibran di Mahkamah Konstitusi telah meruntuhkan kepercayaan para pemikir bangsa terhadap kapasitas kepemimpinan Istana.
Ketika rapor kepemimpinan sang Wakil Presiden berada di angka jongkok 4,4 dan kalah jauh dibanding tokoh-tokoh oposisi serta akademisi, masihkah rezim ini punya muka untuk mengklaim legitimasi di hadapan rakyat?