DEMOCRAZY.ID – Polemik mengenai keaslian ijazah dan skripsi Presiden ke-7 RI Joko Widodo kembali menyeret persoalan yang tampak sederhana: jenis huruf pada sampul skripsi.
Penggunaan Times New Roman pada sampul dan lembar pengesahan skripsi Jokowi sempat dijadikan bahan spekulasi di media sosial.
Font tersebut dipersoalkan karena dianggap belum lazim digunakan pada era ketika Jokowi menempuh pendidikan di Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM).
Namun, kesaksian sejumlah alumni justru memberikan gambaran berbeda mengenai praktik pembuatan skripsi pada dekade 1980-an.
Ketua Senat Fakultas Kehutanan UGM, San Afri Awang, misalnya, mengaku pernah mengalami sendiri bagaimana mahasiswa kala itu mencetak sampul skripsi.
San Afri merupakan kakak angkatan Jokowi. Ia mengatakan, pada masa tersebut sudah terdapat jasa percetakan di sekitar kampus UGM yang melayani pembuatan sampul skripsi.
“Saya masih ingat waktu saya buat cover (skripsi), lari ke Prima. Di zaman itu sudah ada tempat cetak sampul yang terkenal, Prima dan Sanur,” kata San Afri dalam keterangan UGM.
Menurut dia, keberadaan komputer di sekitar kampus juga bukan sesuatu yang mustahil pada masa itu.
Bahkan, jasa pengetikan dengan komputer IBM PC telah tersedia meski penggunaannya belum semasif sekarang.
San Afri sendiri mengaku pernah menggunakan komputer untuk mengolah data statistik.
Artinya, menurut dia, munculnya tulisan dengan karakter huruf yang menyerupai Times New Roman pada sampul skripsi mahasiswa era tersebut tidak otomatis menunjukkan bahwa dokumen dibuat jauh setelahnya.
Kesaksian San Afri sekaligus memperlihatkan satu hal penting: tidak semua mahasiswa menggunakan cara yang sama dalam menyusun dokumen skripsi.
Sebagian mahasiswa memang memanfaatkan jasa percetakan untuk membuat sampul dan lembar pengesahan. Namun, sebagian lainnya masih menggunakan mesin ketik.
Terutama mahasiswa yang memiliki keterbatasan ekonomi.
“Kawan saya yang secara ekonomi tidak mampu, banyak yang membuat lembar sampul dan pengesahan dengan mesin ketik,” ujar San Afri.
Kesaksian ini menjadi relevan karena polemik mengenai skripsi Jokowi salah satunya bertumpu pada tampilan fisik dokumen.
UGM sebelumnya menjelaskan bahwa isi skripsi Jokowi dikerjakan menggunakan mesin ketik, sedangkan bagian sampul dan lembar pengesahan dapat dibuat melalui jasa percetakan.
Kampus juga menyebut jasa seperti Prima dan Sanur telah dikenal di sekitar lingkungan UGM pada masa itu.
Dengan demikian, perbedaan teknologi antara isi naskah dan bagian sampul bukan sesuatu yang otomatis janggal jika melihat konteks teknologi percetakan pada zamannya.
Kesaksian lain datang dari Frono Jiwo, teman seangkatan Jokowi di Fakultas Kehutanan UGM.
Frono mengatakan dirinya dan Jokowi masuk kuliah pada 1980 dan sama-sama menyelesaikan pendidikan pada 1985.
Ia mengaku prihatin dengan informasi di media sosial yang mempertanyakan keaslian ijazah dan skripsi Jokowi.
Menurut Frono, bentuk ijazah miliknya memiliki tampilan yang sama dengan ijazah Jokowi.
Termasuk jenis huruf serta tanda tangan Rektor UGM Prof. T. Jacob dan Dekan Fakultas Kehutanan Prof. Soenardi Prawirohatmodjo.
Perbedaannya, kata Frono, terdapat pada nomor kelulusan.
“Ijazah saya bisa dibandingkan dengan ijazahnya Pak Jokowi. Semua sama kecuali nomor kelulusan ijazah dari Universitas dan Fakultas,” ujar Frono.
Kesaksian tersebut menjadi penting karena Frono tidak hanya berbicara berdasarkan pengamatan terhadap dokumen Jokowi.
Ia mengalami sendiri sistem administrasi akademik dan pembuatan skripsi pada periode yang sama.
Frono juga mengingat bagaimana mahasiswa satu angkatannya menyelesaikan skripsi.
Menurut dia, hampir seluruh mahasiswa masih menggunakan mesin ketik untuk menulis isi skripsi.
Komputer memang sudah ada, tetapi belum banyak mahasiswa yang dapat mengakses atau menggunakannya.
Sementara itu, urusan sampul, lembar pengesahan, hingga penjilidan umumnya diserahkan kepada percetakan.
“Pembuatan skripsi semua pakai mesin ketik, walaupun sudah ada komputer tapi jarang sekali yang bisa. Kalau sampul, lembar pengesahan, penjilidan skripsi semua di percetakan,” kata Frono.
Kesaksian tersebut memberikan konteks terhadap dokumen yang kini menjadi objek perdebatan di media sosial.
UGM juga mencatat bahwa skripsi Jokowi berjudul Studi tentang Pola Konsumsi Kayu Lapis pada Pemakaian Akhir di Kotamadya Surakarta.
Tugas akhir tersebut dikerjakan pada 1985 dan tercatat dalam basis data tugas akhir UGM.
UGM sendiri telah berulang kali memberikan penjelasan mengenai status akademik Jokowi.
Fakultas Kehutanan UGM menyatakan Jokowi merupakan alumnus fakultas tersebut.
Ia tercatat memulai studi pada 1980 dengan nomor mahasiswa 80/34416/KT/1681 dan diwisuda pada 5 November 1985.
Kampus juga menyatakan memiliki data akademik yang berkaitan dengan proses pendidikan Jokowi, termasuk riwayat perkuliahan hingga kelulusan.
Karena itu, San Afri menilai tuduhan bahwa ijazah dan skripsi Jokowi merupakan produk palsu tidak dapat dilepaskan dari bukti-bukti akademik yang dimiliki UGM.
“Dia (Joko Widodo) lulus dari sini dan buktinya ada kok,” kata San Afri.
Polemik itu, menurut dia, telah berkembang terlalu jauh karena sejumlah analisis di media sosial tidak selalu ditempatkan dalam konteks sejarah teknologi dan kebiasaan akademik pada masa tersebut.
Persoalannya bukan semata-mata apakah sebuah font tampak modern bagi pembaca masa kini, melainkan apakah penggunaan font tersebut memang mustahil dilakukan pada periode ketika dokumen itu dibuat.
Dalam kasus skripsi Jokowi, kesaksian alumni menunjukkan bahwa jasa percetakan dan komputer sudah dikenal di lingkungan UGM pada era tersebut.
Karena itu, tampilan sampul saja tidak cukup untuk menarik kesimpulan mengenai keaslian sebuah dokumen.
UGM sebelumnya juga menegaskan bahwa pemeriksaan semestinya tidak dilakukan hanya terhadap dokumen Jokowi, tetapi dibandingkan dengan dokumen mahasiswa lain dari periode yang sama.
Dari sana, perdebatan mengenai satu jenis huruf bergeser menjadi persoalan yang lebih besar: bagaimana membaca dokumen lama dengan konteks teknologi, administrasi, dan kebiasaan akademik pada zamannya.
Bagi para alumni yang mengalami langsung masa tersebut, Times New Roman pada sampul skripsi bukanlah bukti tunggal yang dapat menentukan keaslian sebuah dokumen.
Dan bagi UGM, status Jokowi sebagai alumnus bukan sekadar persoalan tampilan selembar ijazah, melainkan bagian dari catatan akademik institusi yang dapat ditelusuri.