DEMOCRAZY.ID – Presiden Prabowo Subianto melontarkan sindiran keras kepada sejumlah pakar yang menurutnya terlalu merasa pintar hingga menyampaikan tudingan yang ia nilai sebagai fitnah.
Pernyataan tersebut disampaikan Prabowo saat menghadiri puncak peringatan HUT ke-28 Partai Amanat Nasional (PAN) di Jakarta International Convention Center (JICC), Jumat (18/9/2026).
Awalnya, Prabowo berbicara mengenai keinginannya membawa Indonesia menjadi negara yang terhormat dengan rakyat yang hidup sejahtera.
Ia juga menyoroti persoalan gizi dan masa depan anak-anak Indonesia.
Prabowo ingin tidak ada lagi anak Indonesia yang mengalami stunting, kekurangan gizi, maupun kesulitan mengenyam pendidikan.
Menurutnya, kualitas generasi muda menjadi salah satu kunci agar Indonesia mampu bersaing dengan bangsa lain.
Di tengah pembahasan tersebut, Prabowo kemudian menyinggung para pakar yang kerap mengkritik atau mempertanyakan kebijakan pemerintah.
“Terserah pakar-pakar yang menganggap dirinya pakar. Saking pintarnya, saking pintarnya jadi goblok,” kata Prabowo dalam sambutannya.
Prabowo bahkan menyebut pernyataannya tersebut kemungkinan akan kembali dipotong dan diulang.
Namun, ia menegaskan bahwa kalimat itu disampaikannya secara serius di hadapan para pendukungnya.
“Ini masalahnya kalau bicara di tengah kawan-kawan sejati. Nanti yang diulang-ulangi tadi itu. Tapi benar. Benar,” ujarnya.
Rujukan etimologi yang tersedia mencatat goblok dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Jawa, yaitu goblog.
Dalam bahasa Jawa, goblog berarti sangat bodoh.
Bentuk goblok kemudian digunakan dalam bahasa Indonesia.
Yang menarik, jejak kata ini bukan fenomena bahasa gaul modern.
Etimologi goblok merujuk antara lain pada W.J.S.
Poerwadarminta, Bausastra Jawa (1939) dan E.C.
Horne, Javanese-English Dictionary (1974).
Artinya, bentuk dan penggunaannya sudah terdokumentasi dalam tradisi leksikografi Jawa setidaknya sejak paruh pertama abad ke-20.
Yang menarik ucapan goblok yang disampaikan oleh Prabowo Subianto juga pernah dilontarkan presiden pertama Indonesia, Soekarno.
Soekarno sendiri menggunakan kata tersebut dalam autobiografinya.
Pada buku Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia karya Cindy Adams, Soekarno menceritakan seorang wartawan yang menurutnya goblok karena menulis bahwa nama awalnya adalah Ahmad.
“Sekali ada seorang wartawan goblok yang menulis, bahwa nama awalku adalah Ahmad.” tulis Cindy Adams di buku Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia halaman 36.
Tak hanya itu, Soekarno pun pernah mengucap kata goblok dalam forum resmi.
Dalam pidato di Sidang Paripurna Kabinet Dwikora di Bogor pada 6 November 1965, Soekarno menyebut wartawan yang menurutnya menyebarkan berita tidak benar dengan istilah Belanda “stommelingen”, yang dalam sumber sejarah tersebut diterjemahkan sebagai kata goblok.
“Engkau punya wartawan itu stommelingen (goblok)!” kata Soekarno seperti dikutip dari buku Revolusi Belum Selesai: Kumpulan Pidato Presiden Soekarno 30 September 1965–Pelengkap Nawaksara.
Soekarno dilengserkan dari jabatannya sebagai Presiden Republik Indonesia melalui pencabutan mandat oleh MPRS pada 12 Maret 1967 usai peristiwa G30S.