DEMOCRAZY.ID – Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI Syahganda Nainggolan kini berada di lingkar pemerintahan Presiden Prabowo Subianto setelah dilantik untuk menduduki jabatan tersebut.
Namun, posisi baru Syahganda itu kembali dikaitkan dengan jejak pernyataannya di masa lalu.
Mantan Komisaris PT Pelni, Dede Budhyarto, mengungkit cuitan Syahganda pada 2020 yang saat itu masih dikenal sebagai salah satu tokoh yang vokal mengkritik pemerintahan.
Dede menyebut Syahganda akrab disapa Bang Ganda oleh para sahabatnya.
Ia kemudian menyinggung perubahan posisi politik Syahganda setelah kini dipercaya masuk ke pemerintahan Prabowo.
“Bang Ganda, begitu sahabat-sahabatnya manggil. Sekarang dia Kepala Bakom, dilantik Presiden Prabowo kemarin,” ujar Dede, Minggu (4/10/2026).
Dede mengatakan dirinya tidak melihat perubahan sikap politik Syahganda sebagai sesuatu yang sepenuhnya asing.
Sebab, ia mengaku pernah mengalami perjalanan politik yang hampir serupa.
“Kalau lihat jejak bidjitalnya, saya ngaca ke diri sendiri. Nggak jauh beda,” tukasnya.
Dede kemudian mengungkap perjalanan politiknya pada periode 2014-2019.
Saat itu, ia mengaku berada pada posisi yang berseberangan dengan Prabowo.
“Dulu 2014-2019 saya anti Prabowo. Begitu bliyo diajak gabung Jokowi di periode kedua, saya ikut mendukung. Bang Ganda juga begitu,” kata Dede.
Seingat dia, perubahan sikap politik tersebut menunjukkan dinamika politik yang dapat berubah seiring perkembangan situasi.
Dede lantas mengungkit pernyataan Syahganda yang dibuat pada 2020.
Saat itu, Prabowo sudah menjabat sebagai Menteri Pertahanan di pemerintahan Presiden Jokowi.
Dede menyebut Syahganda ketika itu masih berada di Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) dan aktif menyampaikan kritik.
“Tahun 2020, pas Prabowo sudah jadi Menhan, dia masih di KAMI dan ngegas,” terang Dede.
Ia bahkan menyebut cuitan tersebut hingga kini masih tersedia dan berkaitan dengan pernyataan Prabowo mengenai aksi demonstrasi yang disebut ditunggangi pihak asing.
“Cuitannya masih ada, nuding Menhan yang nuduh demo ditunggangi asing, terus nanya, KAMI atau asing yang dituding,” lanjutnya.
Dede kemudian mengaitkan kembali cuitan tersebut dengan posisi Syahganda saat ini.
Kata dia, terdapat kontras antara sikap Syahganda pada 2020 dengan perannya sekarang sebagai Kepala Bakom RI.
“Sekarang dia yg pegang komunikasi pemerintahannya,” kata Dede.
Dede menilai dinamika tersebut menjadi bagian dari realitas politik.
Ia mengingatkan agar publik tidak menelan seluruh perubahan sikap politik begitu saja.
“Itulah politik, kawan. Sisakan setengahnya untuk ketidakpercayaan,” imbuhnya.
👇👇
Bang Ganda, begitu sahabat-sahabatnya manggil. Sekarang dia Kepala Bakom, dilantik Presiden Prabowo kemarin.
Kalau lihat jejak bidjitalnya, Saya NGACA ke diri sendiri. Nggak jauh bedaðŸ¤
Dulu 2014–2019 saya anti Prabowo. Begitu bliyo diajak gabung Jokowi di periode kedua, saya… pic.twitter.com/wft6nqeJE9— Dede Budhyarto (@kangdede78) October 3, 2026
Sebelumnya, pada 10 Oktober 2020, Syahganda memang pernah menyampaikan kritik terkait pernyataan Prabowo yang ketika itu menjabat Menteri Pertahanan.
Dalam cuitannya, Syahganda mempertanyakan pernyataan mengenai aksi demonstrasi yang disebut ditunggangi pihak asing.
“Makan malam makin sinting lihat yang nuding. Sekarang Menhan Jokowi nuding aksi demo ditunggangi asing. Lah, jangan mencla mencle, KAMI atau asing yang lu tuding?,” kata Syahganda saat itu.
Dalam cuitan yang lain, Syahganda juga menyinggung permintaan Prof Hikmahanto agar pemerintah memberikan perlindungan kepada Prabowo jika bepergian ke Amerika Serikat.
“Prof Hikmahanto minta pemerintah lindungi Prabowo kalau nanti ke USA. Takut sampai di sana ditangkap,” timpalnya.
Syahganda kemudian menyampaikan pandangannya mengenai kemungkinan Prabowo menghadapi persoalan hukum ketika berada di Amerika Serikat.
“Setahuku USA tak bisa jamin, krn atas desakan pegiat HAM intl bisa jadi pemerintahnya lepas tangan,” tandasnya.
Pada bagian akhir cuitannya, Syahganda bahkan mengusulkan agar Prabowo memilih Arab Saudi sebagai tujuan perjalanan.
“Usulku Bowo ke Arab Saudi aja, jemput IB HRS. Peace!,” kuncinya.