DEMOCRAZY.ID – Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto kembali mendapat sorotan.
Pemerhati Politik dan Kebangsaan, Rizal Fadillah, menilai sejumlah kebijakan dan gaya komunikasi pemerintah masih menyisakan persoalan.
Rizal secara khusus menyoroti pidato kenegaraan Prabowo pada 14 Agustus 2026.
Menurutnya, selain substansi pidato, sejumlah pernyataan spontan Presiden justru memunculkan kontroversi.
Salah satunya mengenai pernyataan Prabowo saat memperkenalkan seorang ibu yang disebut bekerja mengupas bawang dengan pendapatan Rp700 ribu per kilogram.
“Benar saja pidato kenegaraan 14 Sgustus 2026 ternyata konstan kontroversial. Ada saja narasi blunder di luar teks,” ujar Rizal, Minggu (16/8/2026).
“Celetukan yang menimbulkan kegaduhan sekarang ialah soal memperkenalkan seorang ibu yang pekerjaannya mengupas bawang berpendapatan Rp700 ribu perkilogram,” tambahnya.
Rizal menilai pernyataan tersebut menunjukkan pentingnya kehati-hatian Presiden dalam menyampaikan informasi kepada publik.
Ia mengingatkan agar setiap data yang disampaikan dalam pidato maupun pernyataan resmi telah diverifikasi.
“Sudah banyak warning agar lebih berhati-hati dalam berpidato. Data mesti valid dan jangan terbuai dengan improvisasi,” ucapnya.
Namun, Rizal menilai kesalahan serupa kembali terjadi dalam pidato kenegaraan.
Ia kemudian mengaitkannya dengan pernyataan Prabowo sebelumnya mengenai pengusaha penggilingan padi yang disebut memperoleh keuntungan hingga Rp2 triliun per bulan.
“Namun bagai keledai yang terperosok ke lubang yang sama, Prabowo mengulangi kesalahannya,” tukasnya.
“Sebelumnya ia pernah berpidato dengan menunjukkan pengusaha penggilingan padi yang memperoleh keuntungan 2 trilyun rupiah per bulan. Antartika pun kaget,” imbuhnya.
Selain komunikasi publik, Rizal menyoroti sejumlah program pemerintah, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Menurutnya, penyampaian mengenai capaian dan manfaat MBG justru dinilai membingungkan publik.
“Pidato puji, kebanggaan serta manfaat MBG juga belepotan disamping katanya mananam lele dijual, juga menanam telor hidup,” bebernya.
Rizal juga mengungkit sejumlah pernyataan Prabowo yang pernah menuai perhatian publik.
“Dulu 10 ditambah 2 sama dengan 13 dan 10 ditambah 6 sama dengan 17, menyebut jurnalis sebagai londo ireng, serta pengkritik dengan narasi negatif agar kabur saja ke Yaman,” jelasnya.
Kritik Rizal kemudian meluas pada kebijakan pemerintahan Prabowo.
Ia menilai terdapat kontradiksi antara narasi pemerintah dengan sejumlah kebijakan yang dijalankan.
“Penghematan dengan penggendutan kabinet, berantas korupsi melalui jaringan SPPG yang rentan korupsi, koperasi yang seharusnya bottom up justru dibentuk dari atas dan berbiaya raksasa, apa yang terbersit dalam otaknya segera dijadikan proyek seperti Sekolah Rakyat dan URI,” timpalnya.
Menurut Rizal, kondisi tersebut menunjukkan pemerintah belum memiliki perencanaan yang matang.
“Prabowo tidak mampu mrmbuat perencanaan matang. Bagai hidup dari ilusi, halusinasi, dan orasi-orasi,” cetusnya.
Ia juga mempertanyakan sikap pemerintah terhadap oligarki dan institusi penegak hukum.
“Tangan kiri melawan oligarki, tangan kanan merangkulnya. Polisi harus direformasi tetapi Kapolri susah untuk diganti,” tegasnya.
Komitmen pemerintah dalam pemberantasan korupsi turut menjadi sorotan Rizal, terutama terkait wacana pengembalian uang hasil korupsi.
“Apa yang akan dibasmi jika pelaku korupsi dimaafkan asal mengembalikan uang hasil korupsi?” timpalnya.
Rizal juga mengkritik arah politik luar negeri Indonesia di bawah pemerintahan Prabowo.
Ia mempertanyakan sejumlah kebijakan yang dinilainya dapat menempatkan Indonesia dalam posisi sulit di tengah persaingan geopolitik.
“Melanggar konstitusi dengan membuat perjanjian luar negeri semaunya sendiri. Abu abu dan bolak balik blok Amerika-Israel dan Rusia-China,” sesalnya.
Lebih jauh, Rizal menyampaikan penilaian keras mengenai kepemimpinan Prabowo. Ia menilai Prabowo tidak cocok menduduki posisi Presiden.
“Prabowo gak cocok jadi Presiden. Lebih mulia dan terhormat kalah dicurangi ketimbang menang dengan curang,” Rizal menuturkan.
“Menang sebagai pecundang adalah strategi yang bersandar apologi. Rakyat pun dipaksa harus mengerti. Walau sakit hati,” tambahnya.
Rizal bahkan menyarankan Prabowo mempertimbangkan kehidupan setelah tidak lagi menjabat sebagai kepala negara.
Menurutnya, Prabowo lebih cocok menjalankan bisnis dan berkontribusi melalui kegiatan sosial.
“Prabowo lebih cocok menjadi pensiunan yang berbisnis. Mengabdi pada rakyat di ruang filantropis dan mati dengan kemuliaan dalam watak populis,” bebernya.
Ia juga menyinggung pernyataan Prabowo yang kerap menyampaikan kesediaannya berkorban untuk rakyat.
“Kini tidak perlu berisik dengan teriak ingin mati demi rakyat, cukup bukti menggendong anak kecil bersama mengundurkan diri,” Rizal menekankan.
“Rakyat akan bahagia tanpa Prabowo harus mati. Rakyat justru sudah mati di bawah pemerintahan Prabowo bersama anak kecil yang menjadi penerus dinasti Jokowi,” kuncinya.
Pernyataan Rizal tersebut merupakan pandangan dan kritik politik terhadap pemerintahan Prabowo.
Sejumlah tudingan serta penilaiannya dalam artikel ini tidak disertai tanggapan dari pihak pemerintah dalam materi yang diberikan.