Tokoh Muda NU Lontarkan Sentilan Telak: Tidak Usah Malu, Kita Memang Sudah ‘Busuk’ Hari Ini!

DEMOCRAZY.ID – Dugaan aliran uang dalam jumlah besar ke arena Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Jombang menyita perhatian publik.

Tokoh muda NU, Gus Lilur alias HRM Khalilur R. Abdullah Sahlawiy, meminta seluruh pihak yang diduga menerima uang tersebut tidak menutup-nutupi persoalan apabila nantinya terbukti.

Gus Lilur bahkan menyinggung dugaan keterkaitan Menteri ATR/BPN Nusron Wahid dengan uang sekitar Rp480 miliar yang disebut mengalir ke Muktamar NU.

Ia meminta uang tersebut dikembalikan kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) apabila penyidikan membuktikan bahwa dana itu berasal dari praktik korupsi.

Klaim mengenai aliran dana tersebut sebelumnya juga disampaikan Gus Lilur dengan menyebut informasi informal yang ia terima dari penyidik KPK.

Namun, dugaan tersebut belum menjadi kesimpulan hukum.

KPK masih mendalami asal-usul dan penggunaan uang dalam perkara dugaan suap pengurusan HGB di lingkungan ATR/BPN.

Gus Lilur Minta Uang Dikembalikan jika Terbukti

Gus Lilur mengatakan pihak-pihak yang menerima uang tidak perlu merasa malu untuk mengembalikannya apabila memang nantinya terbukti berasal dari tindak pidana korupsi.

“Kalau ternyata ulah Nusron ini terbukti yang membawa Rp480 miliar ke Muqtamar, maka saya berharap PW, PC yang menerima uang ini segera mengembalikan ke KPK,” uja tGus Lilur, Rabu (23/9/2026).

“Tidak usah malu, karena kita memang sudah busuk hari ini,” tambahnya.

Lanjut Gus Lilur, persoalan dugaan suap atau aliran uang dalam Muktamar NU tidak seharusnya ditutupi apabila memang terdapat bukti yang dapat menguatkannya.

“Jadi info ada suap di Muqtamar NU, nggak usah dihindari dan nggak usah ditutupi. Tidak perlu jadi munafik,” tukasnya.

Gus Lilur Kritik Rais ‘Aam NU

Lebih jauh, Gus Lilur juga mengkritis kondisi internal NU.

Ia menyebut adanya kemunafikan yang menurutnya terjadi di tubuh organisasi.

“Jadi, saya sedih sebenarnya untuk mengatakan Rais ‘Aam saya ini munafik hari ini,” sesalnya.

Ia kemudian mengaitkan pernyataannya dengan persoalan kemampuan membaca kitab serta proses penerbitan sebuah kitab Nahwu yang menurutnya melibatkan pihak lain.

“Sangat sederhana kan, ketika saya bilang dia gak bisa ngaji. Dia kemudian berpura-pura ngarang kitab Nahwu yang tebel segini (menunjukkan ilustrasi),” Gus Lilur menuturkan.

“Ya anak kecil juga tau kan dia nyuruh orang untuk ngarang bukunya. Lalu bukunya itu dilaunching seakan-akan dia yang ngarang gitu,” tambahnya.

Gus Lilur berujar, tindakan tersebut sebagai bentuk kebohongan yang menurutnya tidak semestinya terjadi pada seorang pemimpin tertinggi dalam struktur NU.

“Nah padahal ini kan praktek kebohongan, praktek kemunafikan yang justru menjustifikasi ini gak layak jadi Rais ‘Aam,” timpalnya.

Gus Lilur bilang, persoalan yang ia ungkap tidak semestinya hanya dilihat sebagai masalah individu, tetapi menjadi momentum untuk melakukan pembenahan internal.

“Kalau Rais ‘Aam aja munafik, gimana pengurus lainnya. Makanya ini udah waktunya NU dicuci,” tandasnya.

Artikel terkait lainnya