Bocoran Orang Dalam! Raja Juli Dikabarkan Bakal Didepak Diganti Budi Arie, Rencana Besar Jokowi Disorot

DEMOCRAZY.ID – Peta politik internal partai pendukung pemerintah kembali menjadi sorotan setelah beredar berbagai informasi mengenai langkah strategis dan perombakan struktur kepengurusan di tingkat nasional.

Para pengamat dan pemerhati politik terus menganalisis arah pergerakan serta kalkulasi kekuatan para elite dalam menghadapi agenda pemilu mendatang.

Rencana Perombakan Kepengurusan dan Posisi Strategis

Perhatian publik tertuju pada informasi yang diungkapkan oleh jurnalis senior Hersubeno Arief mengenai dinamika di internal Partai Solidaritas Indonesia (PSI).

Berdasarkan informasi yang dihimpun dan disampaikannya melalui kanal YouTube Hersubeno Point, terdapat wacana perubahan struktur kepemimpinan partai yang dinilai cukup signifikan.

Salah satu poin utama dari informasi tersebut adalah rencana penunjukan Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi) untuk memegang posisi puncak sebagai Ketua Umum PSI, yang disebut-sebut bakal disertai dengan perombakan susunan pengurus harian.

“Saya mendengar kabar bahwa Jokowi sesungguhnya memang dia sudah bersiap untuk menjadi ketua umum,” ujar dia dalam kanal YouTube Hersubeno Point, dikutip Rabu (19/8/2026).

Selain itu, dalam perombakan tersebut, posisi Sekretaris Jenderal partai dikabarkan bakal mengalami pergantian dari pejabat sebelumnya kepada figur yang dinilai memiliki kedekatan erat dengan lingkaran kekuasaan mantan presiden.

“Dan dia disebut-sebut bahwa ada nama yang dia inginkan menjadi sekretaris jenderal untuk mendampinginya, bukan Raja Juli lagi. Kabarnya orang yang diharapkan oleh Jokowi untuk mendampingi dia sebagai Sekjen itu adalah mantan ketua umum Projo yakni Budi Arie Setiadi ya,” lanjutnya.

Kalkulasi Politik dan Efek Kepemimpinan Langsung

Hersu menilai bahwa langkah langsung untuk memimpin partai secara struktural memiliki kalkulasi elektoral yang lebih kuat dibandingkan jika figur sentral hanya berada di balik layar sebagai Ketua Dewan Pembina.

Menurutnya, kehadiran langsung di posisi puncak akan memberikan dampak psikologis dan momentum politik yang lebih besar bagi pergerakan partai ke depan.

“Kalau masih menyerahkan kepada Kaesang Pangarep sebagai ketua umum, dan Jokowi masih belakang layar sebagai ketua dewan pembina, ini efeknya tidak semenendang gitu kalau dia menjadi ketua umum,” jelasnya.

Target Jangka Panjang dan Agenda Pemilu

Wacana perombakan struktur ini juga tidak terlepas dari target besar yang sebelumnya telah dicanangkan oleh para pimpinan partai dalam berbagai kesempatan konsolidasi di berbagai daerah.

Sebelumnya, Presiden ke-7 Joko Widodo secara terbuka menegaskan bahwa orientasi perjuangan partai tidak hanya berfokus pada pemenuhan syarat parlemen, melainkan dipatok pada pencapaian kemenangan total dalam kontestasi Pemilu 2029.

“Sekali lagi saya sampaikan, target kita bukan hanya target masuk Senayan. Bukan itu. Target kita adalah kemenangan di 2029,” kata Jokowi dalam sambutannya pada Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) PSI Kota Kupang di Hotel Harper, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (1/8/2026).

Di hadapan para pengurus dan kader yang hadir dalam forum tersebut, arah konsolidasi ditekankan untuk terus memperkuat struktur pemenangan guna menghadapi persaingan politik nasional yang kian kompetitif.

“Ada target besar yang ingin kita capai, tetapi tidak usah saya sampaikan di sini,” ujarnya.

Artikel terkait lainnya