

DEMOCRAZY.ID – Pakar Hukum Tata Negara, Denny Indrayana, kembali mengulas faktor-faktor yang menurutnya dapat menyebabkan sebuah pemerintahan kehilangan legitimasi hingga akhirnya tumbang.
Dikatakan Denny, sejarah menunjukkan ada tiga penyebab utama yang kerap menjadi pemicu runtuhnya sebuah rezim.
Denny menilai ketiga faktor tersebut bukan sekadar teori, melainkan memiliki banyak contoh dalam perjalanan politik berbagai negara, termasuk Indonesia.
Blak-blakan, Denny menuturkan tiga faktor utama yang menurutnya menjadi alarm bagi sebuah pemerintahan.
“Jadi, saya mengatakan ada tiga hal yang bisa menyebabkan satu rezim itu tumbang,” ujar Denny, Selasa (4/8/2026).
Ia kemudian merinci ketiga faktor tersebut. Pertama, krisis ekonomi. Kedua, skandal publik. Ketiga, skandal pribadi.
Menurut Denny, krisis ekonomi merupakan faktor yang paling mudah dikenali karena pernah dialami Indonesia saat krisis moneter 1998.
“Kalau krisis ekonomi kita udah sama-sama paham lah. Contoh nyatanya 98, krisis moneter,” tukasnya.
Denny memandang, skandal publik yang paling berpotensi mengguncang pemerintahan adalah praktik korupsi.
Baginya, persoalan tersebut masih menjadi akar persoalan bangsa hingga saat ini.
“Skandal publik yang paling mengganggu menurut saya pasti korupsi. Akar masalah kita masih sama di situ,” tegasnya.
Lebih lanjut, Denny menilai ruang privat seorang pejabat negara memang harus dihormati.
Namun, menurutnya, perlindungan terhadap privasi memiliki batas ketika menyangkut kepentingan publik.
“Ruang pribadi memang patut dihormati. Namun perlindungan privasi berhenti ketika perbuatan pribadi menyentuh pelanggaran hukum, penyalahgunaan jabatan, konflik kepentingan, hingga kebohongan kepada publik,” terangnya.
Ia juga mengutip pandangan dalam buku Political Scandal Power and Visibility in the Media Age karya John B. Thompson mengenai klasifikasi skandal.
“Yang sering dirujuk memang skandal asusila, karangan John Thompson ini mengatakan, dia membedakan ada tiga skandal,” Denny menuturkan.
“Skandal seks, skandal keuangan, dan skandal kekuasaan,” tambahnya.
Dalam konteks tersebut, Denny turut menyinggung pernyataan Amien Rais yang sebelumnya melontarkan dugaan mengenai adanya skandal privat di lingkungan Istana.
Menurutnya, tuduhan semacam itu semestinya tidak dibiarkan menggantung tanpa kejelasan.
“Dalam konteks itu, unggahan Bapak Amien Rais yang melontarkan dugaan adanya skandal privat di lingkaran istana seharusnya dijawab secara serius dan berbasis fakta,” katanya.
Namun demikian, Denny menegaskan dirinya tidak membenarkan ataupun memastikan tuduhan tersebut.
“Nah, sama sekali saya tidak menyatakan dugaan tersebut pasti benar dan berdasar, justru karena tuduhannya serius, ia tidak boleh dibiarkan menggantung,” tegasnya.
Lebih jauh, Denny menekankan bahwa ketiga persoalan tersebut tidak cukup direspons hanya melalui pidato politik.
“Bapak Presiden, tiga alarm tersebut sama sekali tidak cukup dijawab dengan pidato,” terangnya.
Ia kemudian menjelaskan langkah yang menurutnya perlu dilakukan pemerintah.
“Krisis ekonomi harus dipulihkan dengan kebijakan yang kredibel. Korupsi harus ditindak tegas tanpa pandang bulu kawan atau lawan,” jelasnya.
“Skandal privat, skandal pribadi, harus dihadapi dengan kejujuran, keteladanan, dan proses hukum yang adil,” sambung dia.
Denny tidak lupa mengingatkan agar tiga persoalan tersebut tidak diabaikan.
“Jika tiga alarm itu terus diabaikan, sejarah tidak akan pernah berhenti mengamuk. Sejarah akan mendobrak dan merusak fondasi bernegara,” kuncinya.