

DEMOCRAZY.ID — Gelombang kritik pedas terhadap kinerja kabinet ekonomi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto kian tak terbendung.
Ekonom senior Ferry Latuhihin secara terbuka mendesak agar Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa segera dicopot dari jabatannya menyusul ambruknya berbagai indikator fundamental makroekonomi nasional.
Kritik tajam ini disampaikan Ferry menanggapi hasil survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) yang mencatat tingkat kepuasan publik terhadap penanganan ekonomi anjlok drastis dari 40 persen kini tersisa 15,7 persen saja.
Menurutnya, rapor merah tersebut bukan sekadar persepsi politik, melainkan divalidasi langsung oleh hancurnya angka-angka ekonomi riil di lapangan.
“Pak Purbaya tidak perlu merasa bete karena [survei itu] memang didukung oleh angka-angka ekonomi, misalnya Purchasing Managers Index (PMI) kita jatuh dari level 50 ke 46,9 yang menandakan sektor manufaktur kita berada dalam zona kontraksi,” tegas Ferry melalui kanal YouTube miliknya, dikutip Kamis (30/7/2026).
Ferry membeberkan bahwa pelemahan ekonomi ini merembet ke berbagai lini krusial.
Neraca perdagangan Indonesia yang sebelumnya perkasa mencetak surplus selama 72 bulan berturut-turut, secara mengejutkan berbalik arah dan mencatatkan defisit hingga 1,61 miliar dolar AS pada Juni lalu.
Tekanan juga menghantam sektor moneter secara masif.
Nilai tukar rupiah terpuruk hingga memaksa Bank Indonesia (BI) turun tangan melakukan intervensi habis-habisan agar dolar AS tidak semakin menggila, kendati kurs jual di pasaran telanjur menyentuh level Rp18.178.
“Untuk kondisi ekonomi kita yang tidak memuaskan, menurut saya yang harus bertanggung jawab adalah Menteri Keuangan kita. Sebab apa? Sebab ini tidak terlepas dari kebijakan fiskalnya,” kritik Ferry.
Tak hanya menyoroti angka-angka makro, Ferry melayangkan kecaman keras terhadap langkah kontroversial Direktorat Jenderal Pajak (DJP) di bawah komando Kementerian Keuangan yang mengerahkan aparat keamanan hingga tingkat desa demi mengawasi kepatuhan pajak warga.
Menurutnya, pendekatan ala represif tersebut justru menciptakan iklim ketakutan dan menjadi bukti telak rapuhnya kesehatan fiskal negara.
Dengan sederet kegagalan dan kebijakan yang dinilai miskin inovasi tersebut, Ferry mengimbau Presiden Prabowo Subianto untuk segera mengevaluasi posisi bendahara negara dan mencari figur yang jauh lebih kompeten.
“Saya rasa Purbaya bukan orang tepat untuk menduduki posisi sebagai Menteri Keuangan karena kalau cuma mengejar pajak, mengeluarkan surat utang, everyone can do it,” pungkasnya.
Desakan ini kian menambah panjang daftar tekanan multidimensional yang mengepung ring satu Istana.