DEMOCRAZY.ID – Pusat ibu kota diprediksi akan mengalami kelumpuhan arus lalu lintas esok hari.
Gelombang massa yang terdiri dari ribuan mahasiswa dari berbagai universitas lintas Jabodetabek dipastikan bakal turun ke jalan.
Titik jantung Jakarta, kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), dipilih sebagai episentrum pergerakan untuk menyuarakan rapor merah terhadap kebijakan pemerintah saat ini.
Aksi besar-besaran ini bukan gerakan tanpa arah. Ini adalah puncak dari keresahan mendalam setelah konsolidasi matang yang digelar secara maraton di Universitas Indonesia (UI), Depok, pada Rabu malam kemarin.
Para mahasiswa menilai, kondisi ekonomi masyarakat bawah kian terjepit, sementara ruang-ruang kritik justru terasa semakin dipersempit.
Ketua Umum Pimpinan Pusat Front Mahasiswa Nasional (FMN), Sympati Dimas Rafi’i, mengonfirmasi bahwa massa akan bergerak serentak sejak siang hari.
“Besok kita kumpul sebelum Jumatan. Rencananya, massa akan melaksanakan ibadah salat Jumat bersama di kawasan Bundaran HI sebelum memulai orasi dan menggelar aksi unjuk rasa secara resmi, ungkap Dimas saat dikonfirmasi oleh wartawan.”
Gerakan esok hari dipastikan memiliki basis massa yang masif karena didukung oleh jajaran Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dari universitas-universitas top di Jabodetabek.
Tercatat seluruh BEM Fakultas se-UI, BEM IPB, Universitas Gunadarma, Politeknik Negeri Jakarta (PNJ), UIN Jakarta, UPN Veteran Jakarta, hingga Universitas Pancasila melebur menjadi satu kekuatan.
Tak sendirian, kelompok masyarakat sipil seperti Serikat Perempuan Indonesia (Seruni) juga akan ikut merapatkan barisan.
Melalui pesan video yang disebarkan, para aktivis ini menyampaikan keprihatinan mendalam mengenai paradoks kekayaan alam Indonesia dengan realita di lapangan.
“Indonesia adalah negara yang kaya, namun rakyatnya belum sejahtera. Indonesia negara besar, tapi masih banyak rakyat yang belum terbebas dari rasa lapar, tegas Dimas dalam orasinya yang lugas dan tajam.”
Selain masalah isi dompet rakyat yang kian menipis akibat hantaman harga-harga yang melambung, mahasiswa juga menyoroti iklim demokrasi.
Mereka mengkritik kecenderungan pemerintah yang dianggap menutup kuping terhadap suara sumbang, bahkan menyayangkan dugaan penggunaan aparat negara untuk membungkam para pengkritik kebijakan.
Dalam aksi pengosongan jalanan menuju Bundaran HI besok, aliansi mahasiswa Jabodetabek ini mengusung lima tuntutan utama yang langsung menohok jantung kebijakan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto:
Hentikan Militerisme di Ranah Sipil: Menuntut penghentian segala bentuk pelibatan atau pendekatan militeristik dalam urusan-urusan sipil demi menjaga marwah reformasi.
Tuntut Pengakuan Presiden: Meminta Presiden Prabowo Subianto secara ksatria mengakui kegagalan dan kesalahan pemerintah atas berbagai krisis multidimensi yang terjadi saat ini.
“Hidup mahasiswa! Hidup rakyat Indonesia! Hidup perempuan yang melawan! seru Dimas menutup pernyataannya dengan membakar semangat.”
Aksi esok hari akan menjadi ujian berat sekaligus panggung pembuktian bagi pergerakan mahasiswa angkatan ini: apakah mereka masih menjadi oposisi jalanan yang paling ditakuti oleh penguasa, atau sekadar riak kecil di tengah kota?
Himbauan Publik: Bagi warga DKI Jakarta yang biasa melintasi jalur Sudirman-Thamrin, Gatot Subroto, dan Menteng, disarankan untuk mencari rute alternatif sejak Jumat siang guna menghindari jebakan kemacetan total.
Pihak kepolisian pun kabarnya telah menyiapkan ratusan personel gabungan untuk mengawal jalannya aksi ini agar tetap kondusif.
Sumber: Akurat