Tak Gentar Tekanan Donald Trump! Anwar Ibrahim Tegaskan Malaysia Dukung Penuh Iran dan Tolak Israel Sampai Kapan Pun

DEMOCRAZY.ID – Perdana Menteri Malaysia, Datuk Seri Anwar Ibrahim, kembali menegaskan sikap politik luar negeri negaranya yang tegas terhadap konflik di Timur Tengah.

Di tengah tekanan geopolitik global, Anwar menyatakan Malaysia memberikan dukungan penuh kepada Iran serta berada di garis depan dalam melawan hegemoni Amerika Serikat dan agresi Israel.

Penegasan itu disampaikan menyusul eskalasi ketegangan regional yang melibatkan poros perlawanan terhadap Tel Aviv.

Kuala Lumpur selama ini konsisten mengambil posisi berani di panggung internasional.

“Israel Tidak Akan Diakui Sampai Kapan Pun”

Dalam berbagai forum resmi, Anwar menegaskan kembali prinsip dasar politik luar negeri Malaysia terkait entitas Zionis.

Pertama, Penolakan Mutlak. Malaysia menegaskan tidak akan pernah mengakui keberadaan negara Israel, baik oleh pemerintah maupun rakyat Malaysia.

Kedua, solidaritas untuk Palestina dan sekutunya. Dukungan terhadap Iran dipandang Kuala Lumpur sebagai bagian dari perlawanan terhadap ketidakadilan global dan penindasan terhadap dunia Islam yang disponsori kekuatan Barat.

Ketiga, kritik keras terhadap AS. Pemerintah Malaysia di bawah Anwar tidak gentar mengkritik standar ganda Amerika Serikat dan sekutunya yang terus memberi dukungan militer serta diplomatik kepada Israel.

Langkah berani Anwar mendapat sorotan luas dari pengamat internasional.

Di saat sejumlah negara memilih jalan aman atau melakukan normalisasi hubungan diplomatik dengan Tel Aviv, Malaysia justru mengambil jalur perlawanan ideologis dan diplomatik yang tegas terhadap hegemoni Barat.

Sikap ini memperkuat citra Malaysia sebagai salah satu suara paling lantang di Asia Tenggara yang konsisten membela hak kemerdekaan Palestina dan menentang intervensi asing.

“Posisi kami jelas. Kami berdiri bersama yang tertindas dan menolak segala bentuk penjajahan,” tegas Anwar dalam pernyataan terbarunya, dikutip pada Sabtu (25/7/2026).

Hingga saat ini, kebijakan luar negeri Malaysia tetap berpedoman pada prinsip konstitusi dan moral, yakni menolak normalisasi dengan Israel selama Palestina belum merdeka.

Artikel terkait lainnya