

DEMOCRAZY.ID — Lingkaran terdekat kekuasaan Presiden Prabowo Subianto kembali diteropong tajam dari sudut pandang sosiologi politik.
Mantan Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Lukas Luwarso, secara terbuka melontarkan kritik pedas terhadap atmosfer ring satu istana yang dinilai telah berubah menjadi zona nyaman penuh sanjungan semu.
Lukas menyoroti bagaimana dinamika kekuasaan saat ini memanjakan sang kepala negara dengan kehadiran para pembantu dan loyalis bermental pengekor atau kerap disebut sebagai Yes Men.
Menurutnya, Prabowo tampak begitu menikmati euforia jabatan tertinggi di negeri ini, di mana setiap gestur maupun retorika yang disampaikan selalu disambut dengan pemujaan tanpa reserve, betapapun substansi pidatonya kerap memicu kontroversi di ruang publik.
“Jadi dia betul-betul menikmati sekarang menjadi presiden dikelilingi Yes Men, para loyalis yang akan memuja-muja bertepuk tangan. Kalo kita lihat di TV pidato Prabowo itu pidato yang tidak bermutu, tapi orang pada ketawa tepuk tangan. Nah itu kan ironis banget sebenarnya,” ujar Lukas melalui kanal YouTube Forum Keadilan TV, dikutip Rabu (5/8).
Budaya ABS (Asal Bapak Senang) yang kembali menggejala di lingkaran elite ini dikhawatirkan dapat menutup mata dan telinga presiden dari realitas obyektif di luar pagar istana, membiarkan sang pemimpin terisolasi dalam gema pujian internal yang menyesatkan.
Di sisi lain, Lukas turut membandingkan kapasitas intelektual dan latar belakang keluarga besar yang dimiliki Prabowo dengan mantan Presiden ke-7 RI, Joko Widodo.
Dengan silsilah keluarga terpelajar dan wawasan global yang mumpuni, publik semestinya bisa menaruh ekspektasi yang jauh lebih tinggi terhadap standar kepemimpinan maupun kedalaman narasi kenegaraan yang ia formulasikan.
“Jadi ya kalau secara latar belakang mestinya begitu bahwa dia mestinya sih lebih punya kemampuan berpikir lebih baik ketimbang Jokowi,” tandas Lukas.
Namun, ekspektasi tersebut kerap berbenturan dengan gaya komunikasi spontan tanpa teks yang dipilih Prabowo dalam berbagai kesempatan resmi.
Diksi-diksi mentah seperti penggunaan kata “ndasmu” saat merespons kritik kabinet gemuk di HUT ke-17 Partai Gerindra, penyematan istilah “Londo Ireng” bagi pihak yang dituding membela kepentingan asing, hingga seruan emosional agar warga yang pesimistis pindah negara, dinilai sebagian kalangan mencederai marwah kepresidenan.
Di tengah perdebatan panjang antara kritik media massa terhadap kontradiksi kebijakan versus pembelaan para pendukung yang memuja keaslian karakter sang jenderal, perang narasi ini terus bergulir, menguji apakah istana mampu keluar dari kepungan Yes Men demi mendengar denyut nadi rakyat yang sesungguhnya.