Pengamat: Kemerosotan Prabowo Jadi ‘Karpet Merah’ Buat Dinasti Jokowi dan PSI!

DEMOCRAZY.ID – Hasil survei terbaru Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) yang menempatkan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) di atas ambang batas parlemen menjadi perhatian sejumlah pengamat politik.

Pengamat Ekonomi dan Politik, Heru Subagia, menyebut bahwa capaian elektabilitas PSI yang berada di atas ambang batas parlemen bukan terjadi secara kebetulan.

PSI Tembus Parliamentary Threshold Versi SMRC

Ditekankan Heru, capaian tersebut tidak bisa dilepaskan dari kerja-kerja politik yang dilakukan Presiden ke-7 RI Jokowi, termasuk aktivitas politiknya di berbagai daerah.

“PSI yang berhasil menembus angka di atas ambang batas parlemen ini menunjukkan kerja-kerja politik terutama yang dilakukan Jokowi, safari di Lampung dan juga empat hari kedepan di NTT,” ujar Heru, Minggu (2/8/2026).

Ia menyebut rangkaian aktivitas politik tersebut menjadi bagian dari strategi yang dianggap berpengaruh terhadap peningkatan elektabilitas PSI.

“Ini bagian dari strategis politik yang menjadi veto utama,” ucapnya.

Lebih lanjut, Heru menekankan bahwa keberhasilan PSI juga tidak lepas dari upaya membangun identitas politik yang konsisten.

“Terutama secara simultan PSI berhasil membranding ideologi, visi misi, dan tentunya stakeholder. Salah satu stakeholdernya ini adalah Jokowi,” tukasnya.

Korelasi dengan Turunnya Approval Rating Prabowo

Dalam analisanya, Heru melihat adanya hubungan antara menurunnya tingkat kepuasan terhadap Presiden Prabowo Subianto dengan meningkatnya elektabilitas PSI.

“Ada korelasi dimana terjadi perputaran arah publik berkaitan dengan approval rating Prabowo yang nyaris di angka 51 persen,” Heru menuturkan.

Ia bahkan menyebut kondisi tersebut menjadi keuntungan politik bagi kubu yang diasosiasikan dengan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi).

“Keuntungan yang didapatkan PSI, benar kemerosotan Prabowo adalah durian runtuh bagi Jokowi,” tambahnya.

Heru juga menyinggung polemik ijazah Jokowi yang menurutnya kini tidak lagi menjadi isu dominan di tengah publik.

“Ada korelasi yang sangat kuat sekali bagaimana isu ijazah Jokowi pun saat ini sudah mereda dan yang didapatkan adalah counter balik yang positif terhadap isu tersebut,” jelasnya.

Ia kemudian mengaitkan perkembangan tersebut dengan posisi Dokter Tifauzia Tyassuma (Dokter Tifa).

“Bahwa kemenangan Tifa juga diperoleh bagi Jokowi sendiri. Masyarakat melihat saat ini terjadi perubahan arah, terutama cara pandang dan sikap bagaimana Jokowi dan ijazahnya berhasil dimoderasi,” imbuhnya.

Ia juga berpendapat bahwa proses hukum telah membentuk persepsi baru di tengah masyarakat.

“Bahkan juga ditaklukkan, ini sangat strategic sekali bagaimana lawan Jokowi menggunakan isu ijazah pada akhirnya hukumlah yang memutuskan,” terangnya.

Heru menilai kondisi tersebut berdampak pada meningkatnya citra politik Jokowi.

“Hal positifnya, elektoral kemenangan Tifa berbalik arah ke Jokowi yang menganggapnya bahwa Jokowi sudah taat hukum,” tegasnya.

Karena itu, ia menyimpulkan Jokowi memperoleh keuntungan secara elektoral.

PSI Disebut Ikut Menikmati Efek Elektoral Jokowi dan Gibran

Heru memandang bahwa kenaikan elektabilitas PSI tidak bisa dipisahkan dari pengaruh politik Jokowi.

“Sadar atau tidak, kemenangan PSI dengan menembus amban batas parlemen bagian dari kemenangan Jokowi,” jelasnya.

Selain Jokowi, ia juga menaruh perhatiannya pada posisi Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang dinilai memunculkan simpati publik.

“Kerja-kerja Gibran dan isu yang saat ini bagaimana Gibran terlihat teraniaya, tidak diberikan kursi, layaknya sebagai Wapres,” kata dia.

“Itulah bagian dinamika politik yang dianggap playing fictim sehingga mau tidak mau masyarakat menaruh iba dan juga kasihan,” sambung Heru.

Heru berujar, simpati publik kepada Gibran ikut berkontribusi terhadap elektabilitas PSI.

“Inilah yang menyebabkan Gibran memperoleh simpati publik dan ada hubungannya dengan elektoral yang didapatkan PSI,” bebernya.

Program MBG Untungkan Gibran

Heru juga menilai aktivitas Gibran dalam mengawal sejumlah program pemerintah, termasuk MBG, menjadi salah satu faktor yang membangun citra positif di masyarakat.

“Karenanya ada yang mengatakan Gibran mengambil alih peran yang tidak sensitif atau tidak mengenai hal-hal pokok yang saat ini diambil Prabowo,” terang Heru.

Menurut Heru, strategi tersebut menjadi bagian dari kalkulasi politik yang matang.

“Tapi justru di sinilah letak permainan politik Gibran dan timnya melampaui batas sketsa yang dianalisa Prabowo, tekanan terhadap program strategis seperti MBG dan Kopdes mematikan elektabilitas Prabowo,” tandasnya.

Lebih jauh, Heru kembali menegaskan optimismenya terhadap prospek PSI ke depan.

“Optimisme PSI semakin kuat ketika kerja-kerja politik yang dilakukan Jokowi menjadi bagian ekselerasi yang bisa melihat,” kuncinya.

Sebelumnya, simulasi pilihan partai apabila Pemilu digelar saat ini, Partai Gerindra menempati posisi teratas dengan elektabilitas 16,9 persen.

Gerindra mengungguli PDIP yang memperoleh 11,7 persen. Posisi berikutnya ditempati Partai Golkar dengan 9,6 persen, disusul Partai Demokrat yang meraih 8,1 persen.

Sementara itu, PSI berada di angka 4,1 persen, tepat di bawah Partai NasDem dan PKS yang masing-masing mencatatkan elektabilitas 4,4 persen.

Survei tersebut juga mencatat masih terdapat 25,9 persen responden yang belum menentukan pilihan atau undecided voters.

Elektabilitas Gerindra Turun

Meski berada di peringkat pertama, elektabilitas Gerindra dalam survei terbaru ini tercatat menurun dibandingkan awal tahun.

Pada survei Februari-Maret 2026, partai yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto itu sempat meraih elektabilitas 29,3 persen. Namun, pada survei Juli 2026 angkanya turun menjadi 16,9 persen.

Artikel terkait lainnya