Balas Kritikan Pakai Umpatan, Pengamat: Bukti Nyata Prabowo Pemimpin Arogan!

DEMOCRAZY.ID — Pidato kontroversial Presiden Prabowo Subianto dalam perayaan puncak Hari Ulang Tahun (HUT) ke-28 Partai Amanat Nasional (PAN) di Plenary Hall JCC Senayan, Jakarta, menuai gelombang kecaman luas dari berbagai kalangan.

Dalam pidatonya pada Rabu (18/9/2026) malam, Prabowo melontarkan respons keras terhadap para pengamat dan akademisi yang kerap mengkritik program-program pemerintah.

Mengabaikan ruang evaluasi konstruktif, Kepala Negara justru melontarkan kalimat menohok yang menyebut para pakar tersebut “saking pintarnya, jadi goblok” akibat dituding melontarkan kritik berujung fitnah.

Kecaman Keras: “Gaya Preman” hingga Ancaman Stabilitas Politik

Pernyataan terbuka tersebut langsung memantik reaksi tajam para pengamat politik dan aktivis hukum.

Direktur Rumah Politik, Fernando Emas, menilai reaksi reaktif dan emosional tersebut membuktikan bahwa Prabowo menampilkan figur pemimpin yang arogan serta antikritik.

Mengutip langsung pernyataan resminya, Fernando menegaskan:

“Reaksi reaktif terhadap kritik ini memunculkan anggapan bahwa Prabowo Subianto menampilkan sosok pemimpin yang arogan. Alih-alih membuka diri terhadap berbagai evaluasi demi penyempurnaan program kerja, umpatan tersebut dinilai lebihm pantas menjadi bahan introspeksi bagi sang presiden sendiri,”

Menurut Fernando, alih-alih menjadikan kritik publik sebagai bahan introspeksi dan evaluasi kebijakan, tindakan membalas kritikan dengan umpatan di ruang publik justru menjadi batu sandungan serius bagi masa depan pemerintahannya sendiri.

Bahkan, ia meragukan kapasitas kepemimpinan Prabowo untuk bertahan hingga akhir masa jabatannya pada 2029 mendatang jika gaya komunikasi tertutup dan reaktif ini terus dipertahankan.

“Jika gaya kepemimpinan tertutup dan emosional ini terus dipertahankan, muncul keraguan besar bahwa ia mampu menuntaskan kepemimpinannya hingga tahun 2029,”

“Menuntaskan masa jabatan periode pertama dengan kondisi politik yang stabil dinilai akan menjadi tantangan yang sangat berat, dengan potensi pergolakan yang membuka peluang turunnya kekuasaan sebelum masa jabatan resmi berakhir,”

Kritik senada juga dilontarkan oleh mantan pengacara Roy Suryo, Ahmad Khozinudin, yang mengaku terkejut dengan pilihan diksi kasar seorang kepala negara.

Ia menilai penggunaan kata-kata umpatan di ruang publik sangat tidak pantas dan mencerminkan gestur yang jauh dari nilai kepemimpinan yang beradab.

“Miris. Seorang Kepala Negara sekaligus Kepala Pemerintahan, di ruang publik mengeluarkan ujaran preman,”

“Umpatan goblok, tak layak keluar dari mulut seorang Presiden,”

Khozinudin mengingatkan bahwa diksi-diksi kasar seperti itu bukan kali pertama keluar dari lisan Prabowo dalam merespons kritikus, di mana dalam berbagai pidatonya ia kerap membalas kritik publik dengan kata-kata kasar seperti ‘Ndasmu’, ‘bajingan’, hingga ‘londo ireng’.

Ia lantas mendesak agar Prabowo bisa segera memperbaiki cara komunikasi publiknya.

Artikel terkait lainnya