PANAS! Hubungan Prabowo dan Jokowi Disebut Mulai Retak, Gibran Dipersiapkan ‘Geng Solo’ Untuk 2029?

DEMOCRAZY.ID — Hubungan antara Presiden RI Prabowo Subianto dan pendahulunya, Presiden ke-7 RI Joko Widodo, kini di ambang ujian berat menyusul sinyal-sinyal keretakan politik yang kian kasat mata di lingkaran kekuasaan.

Di tengah transisi kepemimpinan nasional, dinamika relasi kedua tokoh tersebut disorot tajam oleh para pengamat akibat manuver-manuver politik tersembunyi yang mulai terkuak ke permukaan.

Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO), Dedi Kurnia Syah, menilai bahwa posisi Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka memegang peranan krusial sebagai salah satu pemicu utama keretakan tersebut.

Ia mengamati adanya jarak politik yang cukup kontras, di mana Prabowo terpantau kerap tidak melibatkan Gibran dalam sejumlah agenda strategis pemerintahan.

Tak hanya itu, langkah pemangkasan perlahan juga mulai diberlakukan oleh Prabowo terhadap sejumlah pejabat Kabinet Merah Putih yang terafiliasi kuat dengan lingkaran “Gang Solo”.

“Sisi lain, Gibran sejak awal pemerintahan banyak tidak dilibatkan oleh Prabowo, ini juga bisa memicu keretakan hubungan, hanya saja yang belum terbaca jelas, apakah Jokowi yang memulai meretakkan hubungan, atau Prabowo,” ujar Dedi, Sabtu (12/9/2026).

Peta Koalisi Berubah Kalkulasi Jokowi Tunjukkan Peluang Gibran Jadi Cawapres Prabowo Makin Kecil!

Manuver Roadshow Politik dan Kekhawatiran Suksesi 2029

Menurut Dedi, indikasi ketidakharmonisan ini sebenarnya sudah lama terpantau, namun eskalasinya semakin nyata bukan sekadar karena kegiatan blusukan atau roadshow mantan presiden ke berbagai daerah untuk merawat basis massa.

Sebagai tokoh politik, kegiatan semacam itu dinilai sah-sah saja secara konstitusional.

Namun, substansi di balik pergerakan tersebut menyentuh isu yang jauh lebih sensitif.

“Lebih pada manuver Jokowi yang terkesan mendorong Gibran untuk maju dan potensial melawan Prabowo di 2029,” tegasnya.

Dedi menambahkan, meski Prabowo tidak memiliki kewenangan untuk membatasi hak politik sang mantan presiden, istana tentu membaca adanya potensi ancaman pengembosan kekuasaan secara perlahan dari balik layar.

Bayang-Bayang Wacana Pemilu Dipercepat

Kecurigaan kian menguat manakala dinamika politik ditarik ke dalam diskursus nasional mutakhir, termasuk kemunculan pernyataan Ketua Umum Projo Budi Arie Setiadi mengenai wacana percepatan pelaksanaan Pemilu 2029.

Bagi kubu petahana, narasi-narasi semacam itu dibaca sebagai bagian dari grand design politik jangka panjang yang dirancang Jokowi untuk mengendalikan peta suksesi dari belakang layar.

“Misalnya terbaru soal wacana Pemilu yang dipercepat yang disampaikan Budi Arie bersama Jokowi, ini terbaca jika Jokowi selama ini merencanakan langkah politik di belakang Prabowo,” pungkas Dedi membedah konstelasi panas di lingkar kekuasaan hari ini.

Artikel terkait lainnya