Misteri Yang Belum Terpecahkan: Deretan ‘Fakta Janggal’ di Balik Kematian Sutrimo Penjaga Rumah Eks Jampidsus Febrie Adriansyah!

DEMOCRAZY.ID — Teka-teki di balik kematian Sutrimo, mantan Kepala Rumah Tangga (Karumga) eks Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Febrie Adriansyah, kian pekat.

Berbagai fakta baru yang dihimpun mengungkap rangkaian kejanggalan kronologis—mulai dari detik-detik terakhir sebelum ia meregang nyawa, misteri pemesanan ambulans daring anonim, hingga pengakuan keluarga atas teror psikologis yang membayangi almarhum.

Berikut adalah rangkuman lengkap fakta-fakta janggal seputar kematian Sutrimo yang dihimpun dari berbagai kesaksian:

1. Kronologi Penemuan dan Rekam Medis Tragis

  • Panggilan Darurat: Pada Kamis (23/7/2026) sekitar pukul 06.37 WIB, Sutrimo sempat menghubungi seorang kerabat untuk mengeluhkan kondisi kesehatannya yang memburuk.
  • Kondisi Korban: Ketika didatangi di sekitar kawasan Klinik Mordent, Sutrimo sudah ditemukan tergeletak tidak bergerak dalam kondisi tidak sadarkan diri, dengan busa keluar dari bagian mulut dan hidungnya.
  • Tiba dalam Kondisi DOA: Korban kemudian dilarikan ke RS Muhammadiyah Taman Puring, Jakarta Selatan. Namun, catatan rekam medis rumah sakit mengonfirmasi bahwa Sutrimo telah tiba dalam keadaan Dead on Arrival (DOA) alias sudah meninggal dunia.

2. Misteri Pemesan Ambulans dan Pengantar Anonim

  • Pemesanan Daring Tanpa Identitas: Sopir ambulans yang mengevakuasi korban mengaku tidak mengetahui identitas pemesan. Pemesanan dilakukan secara daring oleh orang tak dikenal yang hanya menginstruksikannya untuk menjemput korban di depan Klinik Mordent.
  • Empat Pengantar Misterius: Pihak keamanan RS Muhammadiyah Taman Puring mencatat bahwa Sutrimo diantar ke rumah sakit oleh empat orang tak dikenal. Sementara itu, dalam administrasi rumah sakit, nama penanggung jawab pasien tercatat atas nama Febrio Adianto.
  • Kondisi Tubuh: Pihak rumah sakit mencatat bahwa korban memiliki riwayat medis amputasi pada ibu jari kaki kiri, dan saat tiba di rumah sakit, seluruh tubuhnya dilaporkan telah tertutup kain.

3. Jenazah Tiba di Rumah Duka Sudah Dikafani

  • Pemulangan Malam Hari: Jenazah Sutrimo baru tiba di rumah duka sekitar pukul 23.00 WIB menggunakan ambulans dari Jakarta dengan didampingi tiga orang (satu sopir dan dua pria berpostur tegap yang disebut keluarga berpenampilan seperti anggota TNI) serta disaksikan oleh kepala desa setempat.
  • Ruang Tutup Bagi Keluarga: Setibanya di rumah duka, jenazah didapati sudah dalam kondisi dimandikan dan dikafani, sehingga pihak keluarga kehilangan kesempatan untuk memeriksa kondisi fisik secara utuh dan hanya sempat melihat wajah almarhum sesaat sebelum dimakamkan.
  • Barang Pribadi Lenyap: Hingga proses pemakaman selesai, seluruh barang pribadi milik almarhum—mulai dari telepon seluler, dompet, kartu ATM, hingga pakaian—belum pernah diserahkan kembali kepada pihak keluarga.

4. Pengakuan Keluarga: Janji Mobil yang Diingkari dan Konflik Tambang Jambi

  • Teror Ketakutan: Adik ipar almarhum mengungkapkan bahwa sebelum wafat, Sutrimo sering mencurahkan isi hatinya dan hidup dalam kecemasan mendalam akibat berselisih paham dengan kakak ipar Febrie Adriansyah terkait proyek tambang batu bara di Jambi. Hubungan keduanya disebut tidak pernah akur hingga akhir hayat.
  • Janji Palsu: Keluarga juga menyebut almarhum sempat dijanjikan sebuah unit mobil, namun janji tersebut tidak pernah direalisasikan hingga ia meninggal dunia.

5. Jejak Klinik Mordent

  • Kepemilikan Eks Jampidsus: Berdasarkan keterangan mantan pegawai klinik bernama Agus, Sutrimo tercatat pernah bekerja di Klinik Mordent selama kurang lebih dua tahun dan tinggal di lokasi tersebut. Agus juga mengonfirmasi bahwa Klinik Mordent merupakan milik Febrie Adriansyah, kendati operasionalnya telah berhenti sejak sekitar lima tahun lalu.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi maupun klarifikasi dari Febrie Adriansyah maupun pihak-pihak lain yang namanya disebut dalam kesaksian keluarga.

Sebagian besar fakta di atas masih bersumber dari keterangan keluarga dan saksi di lapangan yang memerlukan investigasi serta verifikasi independen lebih lanjut.

DEMOCRAZY.ID akan terus mengawal misteri di balik kematian janggal ini hingga tuntas!

Artikel terkait lainnya