

DEMOCRAZY.ID — Tabir gelap di balik kematian tragis Sutrimo, mantan Kepala Rumah Tangga (Karumga) rumah dinas eks Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Febrie Adriansyah, semakin berlapis misteri dan aroma janggal.
Berbagai kesaksian baru dari pihak keluarga dan lingkaran terdekat mulai membuka sisi-sisi gelap yang selama ini tersimpan rapat.
Sutrimo diketahui meregang nyawa pada Kamis (23/7/2026) lalu.
Namun, rangkaian peristiwa sebelum hingga sesudah kematiannya menyisakan banyak tanda tanya besar yang mengarah pada dugaan tekanan psikologis hingga kejanggalan prosedur pemulangan jenazah.
Berdasarkan informasi eksklusif yang dihimpun redaksi dari pihak keluarga, Sutrimo sempat menyimpan beban berat sebelum ajal menjemputnya.
Almarhum disebut-sebut pernah dijanjikan sebuah unit mobil oleh Febrie Adriansyah, namun janji manis tersebut tak kunjung direalisasikan hingga akhir hayatnya.
Tak hanya itu, ketegangan psikologis Sutrimo dikabarkan memuncak akibat perselisihan pelik yang melibatkannya dengan kakak ipar Febrie Adriansyah terkait proyek tambang batu bara di Jambi.
Konflik tersebut disebut-sebut membuat korban hidup dalam bayang-bayang ketakutan mendalam, di mana hubungan keduanya dilaporkan retak permanen dan tidak pernah membaik hingga korban ditemukan tak bernyawa.
Laporan internal dan catatan medis mengungkap detik-detik terakhir sebelum korban dinyatakan tiba di RS Muhammadiyah Taman Puring, Jakarta Selatan, dalam kondisi sudah tidak bernyawa.
Sekitar pukul 06.37 WIB, Sutrimo sempat melakukan kontak terakhir dengan kerabatnya untuk mengeluhkan kondisi fisiknya yang sakit.
Namun, saat didatangi di lokasi, korban sudah tergeletak tidak sadarkan diri dengan busa keluar dari mulut dan hidungnya di depan area Klinik Mordent—sebuah klinik tak beroperasi yang disebut-sebut merupakan milik Febrie Adriansyah dan pernah menjadi tempat tinggal korban selama dua tahun bekerja.
Kejanggalan kian terasa pada proses evakuasi. Sopir ambulans yang membawa korban mengaku bahwa armada tersebut dipesan secara daring oleh seseorang yang identitasnya tidak ia kenal untuk menjemput korban yang sudah tergeletak di depan klinik.
Proses pemulangan jenazah ke rumah duka pada malam harinya pun tak luput dari sorotan.
Jenazah Sutrimo diantar menggunakan ambulans yang didampingi oleh tiga orang asing, di mana dua di antaranya diduga kuat merupakan oknum berbadan tegap berpenampilan ala anggota TNI.
Setibanya di rumah duka, jenazah diserahkan dalam kondisi sudah dimandikan dan dikafani, membuat pihak keluarga hanya sempat melihat sekilas wajah almarhum sebelum dikebumikan.
Hingga proses pemakaman selesai, pihak keluarga melaporkan bahwa seluruh barang-barang pribadi milik almarhum—mulai dari telepon genggam, dompet, kartu ATM, hingga pakaian yang dikenakan saat kejadian—raib dan belum pernah diserahkan kembali kepada pihak keluarga.
Hingga berita ini diturunkan, Febrie Adriansyah masih memilih bungkam dan belum memberikan pernyataan resmi apa pun terkait rentetan pengakuan keluarga, termasuk ihwal dugaan janji mobil maupun pusaran konflik proyek batu bara di Jambi.
Seluruh narasi sensitif ini masih memerlukan investigasi independen yang mendalam guna menguak kebenaran di balik kematian misterius sang mantan Karumga.