DEMOCRAZY.ID – Presiden ketujuh RI Joko Widodo atau Jokowi memberikan acungan jempol kepada Presiden Prabowo Subianto seusai pidato dalam Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR serta DPD RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat, 14 Agustus 2026.
Momen itu terjadi setelah Prabowo menyampaikan pidato selama hampir dua jam.
Seusai turun dari mimbar, Prabowo menyapa para peserta sidang sebelum berjalan menuju deretan tamu naratetama yang ditempati sejumlah mantan presiden dan wakil presiden.
Di deretan tersebut, Jokowi duduk bersama Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI Jusuf Kalla, Wakil Presiden ke-11 RI Boediono, serta Wakil Presiden ke-13 RI Ma’ruf Amin.
Saat tiba di hadapan Jokowi, Prabowo terlihat memberikan gestur hormat. Jokowi membalas hormat tersebut.
Setelah kedua tangan mereka kembali turun, Jokowi kemudian mengacungkan jempol ke arah Prabowo.
Prabowo melanjutkan langkahnya menyusuri area naratetama.
Ia kemudian menyapa sejumlah mantan wakil presiden, di antaranya Boediono, Ma’ruf Amin, dan Jusuf Kalla.
Momen singkat antara Jokowi dan Prabowo tersebut terjadi di tengah dinamika politik yang kerap memperbincangkan hubungan kedua kelompok pendukung mereka.
Sebelumnya, pengamat politik Rocky Gerung menyoroti dinamika hubungan politik antara kelompok yang diasosiasikan dengan Jokowi, yang ia sebut sebagai “Solo”, dan lingkaran kekuasaan Prabowo yang disebutnya sebagai “Hambalang”.
Menurut Rocky, hubungan kedua kelompok tersebut terus mengalami perubahan seiring dengan berkembangnya persepsi publik terhadap pemerintahan Prabowo.
Rocky menilai kelompok di sekitar Prabowo mulai mengambil pendekatan yang lebih kalkulatif dalam menghadapi berbagai persoalan politik.
Perhitungan itu, menurut dia, berkaitan dengan kesadaran elite terhadap perkembangan opini publik.
Dalam pandangan Rocky, pemerintah dan kelompok pendukungnya perlu memperhitungkan tingkat penerimaan masyarakat terhadap figur maupun narasi politik tertentu.
Karena itu, ia melihat kemungkinan adanya kecenderungan untuk mengambil jarak secara bertahap dari figur atau isu yang dinilai dapat menjadi beban politik bagi pemerintahan Prabowo.
Rocky kemudian mengaitkan dinamika tersebut dengan langkah kelompok yang diasosiasikan dengan Jokowi dalam membangun jaringan politik sendiri.
Menurut dia, ketika dukungan politik dari pusat kekuasaan di Hambalang tidak lagi dirasakan kuat di Solo, kelompok tersebut akan terdorong membangun sumber daya politik secara mandiri.
“Suplai energi dari Hambalang tidak dirasakan impact-nya di Solo. Karena itu, Solo membangun pusat energi sendiri,” kata Rocky.
Pernyataan Rocky tersebut menggambarkan dinamika politik kedua kelompok dari perspektifnya.
Sementara itu, gestur Jokowi kepada Prabowo seusai pidato dalam sidang tahunan menjadi salah satu momen yang menarik perhatian dalam pertemuan para tokoh nasional di Kompleks Parlemen.
Namun, acungan jempol Jokowi tersebut tidak disertai pernyataan verbal mengenai isi pidato Prabowo maupun makna gestur tersebut.