Gibran Mendadak Rajin Blusukan Jenguk Korban Keracunan MBG, Anah Buah Ibu Mega: Cari Simpati Karena Mau Didiskualifikasi MK!

DEMOCRAZY.ID – Wakil Presiden Gibran Rakabuming disebut kerap menjenguk korban keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk berburu simpati.

Hal tersebut diungkapkan kader PDIP Mohamad Guntur Romli.

Dia mengatakan Gibran saat ini terjepit diskualifikasi usai digugat di Mahkamah Konstitusi (MK).

“Terjepit diskualifiikasi di MK, Gibran rajin cari simpati. Nyusuh korban MBG bawa bekal dari rumah, program pemerintah mau ciampakkan?” kata Romli dikutip dari unggahannya di X, Kamis (1/10/2026).

Menurut Romli, pola kunjungan Gibran selalu sama.

“Datang ke rumah sakit, meminta maaf. Lalu menitip pesan. Anak-anak bawa bekal dari rumah saja, masakan ibunya,” ucapnya.

Lebih jauh, dia melihat pesan yang ditinggalkan Gibran kepada korban keracunan MBG sama saja pengakuan.

“Kalimat seerhana tapi isinya pengakuan langsung. Negara sendiri saja tak lagi percaya terhadap makanan yang dimasaknya,” ujarnya.

Pengakuan tersebut, bahkan disampaikan langsung oleh pihak yang jadi bagian dari program tersebut.

“Ironis, karena yang bicara bukan pengamat, bukan pihak yang di luar pemerintahan. Tapi orang nomor dua di republik ini, wapres yang seharusnya memegang kendali koreksi, justru menyuruh rakyat menyelamatkan diri sendiri,” ungkapnya.

“Kalau bawa bekal dari rumah lebih aman, untuk apa triliunan rupiah digelontorkan ke dapur SPPG,” sambung Romli.

Lebih parahnya lagi, kata dia, tak ada langkah perbaikan yang dia umumkan.

“Tidak ada perintah audit yang menyeluruh, tidak ada desakan pidana bagi penanggung jawab dapur, tidak ada target kongkret untuk BGN,” terangnya.

“Bola dilempar. Kamera merekam. Simpati diburu. Dari Karo sampai Batang polanya sama, datang, minta maaf, berfoto, pulang, korban berikutnya tinggal menunggu giliran,” tambah Romli.

Dia mengatakan polemik ijazah Gibran dan rajinnya Gibran menyambangi korban keracunan MBG tak bisa dilihat sebagai kebetulan.

“Waktunya tidak bisa disebut kebetulan, karena saat MK meyidangkan permohonan diskualifikasi dirinya soal ijazah SMA, mendadak rajin tampil sebagai sosok peduli di samping ranjang pasien,” imbuhnya.

Baginya, semua itu cara seorang pemimpin memoles citra.

Padahal, itu menurut Romli hal yang tak dibutuhkan korban keracunan.

“Anak-anak keracunan tidak butuh seorang wapres yang pandai berempati di depan kamera saja. Mereka butuh negara yang menjamin piring di depan mereka tidak meracuni,” terangnya.

Romli mendesak Gibran berhenti menjadikan korban keracunan MBG sebagai bancakan pencitraan.

“Jika tak sanggup memperbaiki MBG, berhentilah menjadikan penderitaan korban sebagai panggung pencitraan,” pungkasnya.

Artikel terkait lainnya