Eks Jampidsus Jadi Tersangka, Ulah Jokowi? Pengamat Bongkar Politik ‘Saling Sandera’ Yang Mengerikan!

DEMOCRAZY.ID – Penetapan mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus), Febrie Adriansyah, sebagai tersangka tidak hanya mengguncang korps Adhyaksa, tetapi juga membuka kotak pandora yang mengungkap betapa kotornya dapur politik nasional.

Di balik seragam kejaksaan, terselip benang merah antara skandal hukum, loyalitas yang bergeser, hingga perebutan kursi orang nomor satu di Kejaksaan Agung.

‘Lampu Kuning’ bagi Jokowi?

Praktisi intelijen senior, Kolonel (Purn) Sri Radjasa Chandra, melihat penetapan tersangka ini sebagai babak baru dalam drama “politik saling sandera”.

Radjasa mencurigai bahwa jeratan hukum yang kini dialami Febrie bukan murni soal penegakan integritas, melainkan buntut dari ketakutan pihak tertentu terhadap “nyanyian” Febrie mengenai perkara-perkara besar yang menyeret nama Presiden ke-7 RI, Joko Widodo.

“Kasus Pertamina, seperti Ahok bilang di hadapan persidangan bahwa kalau berani Pak Hakim panggil Pak Jokowi. Kedua, kasus Nadiem,” ujar Radjasa dalam tayangan Forum Keadilan TV.

Indikasi pergeseran loyalitas Febrie dari lingkaran lama ke arah Presiden Prabowo Subianto dianggap sebagai “dosa besar” yang tak termaafkan.

Isu yang berembus kencang menyebutkan Febrie sempat digadang-gadang bakal menggantikan ST Burhanuddin sebagai Jaksa Agung di era Prabowo.

Inilah yang diyakini Radjasa sebagai pemicu utama mengapa Febrie tiba-tiba harus “diamputasi” lewat status tersangka.

Febrie Adriansyah Tak Tinggal Diam Usai Jadi Tersangka, Siapkan Serangan Balik ke Jokowi!

Golkar dan ‘Sandera’ Politik

Radjasa kembali menegaskan bahwa Febrie bukanlah orang asing dalam pusaran kekuasaan Jokowi.

Ia adalah “pemain utama” yang memegang kendali atas kasus-kasus sensitif seperti Asabri dan Jiwasraya.

Dalam kacamata Radjasa, kasus-kasus tersebut sengaja tidak dituntaskan demi membungkam tokoh-tokoh penting di Partai Golkar, seperti Airlangga Hartarto dan Aburizal Bakrie.

“Penanganan dua kasus tersebut tidak pernah benar-benar dituntaskan. Perkara itu sempat dimanfaatkan sebagai tekanan politik hingga akhirnya Bahlil Lahadalia memimpin Partai Golkar,” ungkapnya.

Kini, nasib berbalik 180 derajat. Sosok yang dulu menjadi tangan kanan penguasa dalam menyandera partai politik, kini justru menjadi “buruan” yang disandera oleh kelompok politik yang merasa terancam dengan informasi-informasi sensitif yang dimilikinya.

Mafia Hukum Sesungguhnya

Radjasa dengan tegas mengamini pernyataan Mahfud MD bahwa fenomena ini adalah wajah asli dari “mafia hukum” yang selama ini mencengkeram Indonesia.

Kejahatan kerah putih (white collar crime) yang seharusnya bisa dibongkar hingga ke akar-akarnya justru terkubur dalam-dalam karena terbentur kompromi-kompromi politik.

“Inilah yang dinamakan politik saling sandera. Ini mafia hukum sesungguhnya sehingga persoalan kejahatan kerah putih tidak pernah terungkap secara jelas,” tandas Radjasa.

Publik kini diingatkan untuk tidak terlena. Kasus Febrie Adriansyah berpotensi menjadi bola salju yang bisa menguak konspirasi besar atau justru menguap ditelan skenario “penyelesaian di bawah meja”.

Radjasa menyerukan agar masyarakat tidak berhenti mengawal, karena di balik proses hukum yang berjalan, ada pertarungan hidup-mati untuk menentukan siapa yang akan menguasai peta politik 2029 mendatang.

Akankah Febrie menjadi tumbal terakhir, ataukah ia akan melawan dan membuka rahasia besar yang selama ini dijaga ketat di balik tembok kekuasaan? Satu hal yang pasti, panggung politik Indonesia sedang dipertaruhkan.

Artikel terkait lainnya