

DEMOCRAZY.ID — Isu mengenai skenario pembagian masa jabatan di lingkaran transisi kekuasaan kembali dibuka ke ruang publik.
Spekulasi ihwal keberadaan pakta rahasia antara Presiden Prabowo Subianto dan pendahulunya, Joko Widodo, diungkit kembali seiring menguatnya sinyal manuver politik jangka panjang di internal partai pendukung.
Mantan Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Lukas Luwarso, menyoroti kejanggalan momentum politik saat perayaan HUT ke-17 Partai Gerindra pada Februari 2025 lalu.
Menurutnya, langkah Sekjen Partai Gerindra Ahmad Muzani yang secara terbuka menegaskan dukungan agar Prabowo kembali maju pada Pemilu 2029 memunculkan tanda tanya besar, mengingat masa pemerintahan baru berjalan seumur jagung.
Deklarasi dini tersebut dibaca sebagai upaya mematahkan rumor liar yang sejak awal transisi santer memperbincangkan batas waktu kepemimpinan sang jenderal.
“Makanya ada satu settingan agar di ulang tahun ke-17 itu… waktu itu diumumkan ketua panitianya atau Sekjennya bahwa Prabowo akan maju lagi tahun 2029,” ujar Lukas dalam kanal YouTube Forum Keadilan TV, dikutip Rabu (5/8).
“Padahal yang beredar adalah ada kesepakatan Prabowo hanya akan bertahan maksimal 2 tahun… Rumor yang beredar. Kita enggak pernah tahu itu benar atau tidak,” imbuhnya.
Isu pembatasan masa jabatan ini sejatinya bukan barang baru.
Sebelumnya, pengamat militer Connie Rahakundini Bakrie sempat memantik kehebohan dengan mengeklaim bahwa dirinya pernah mendapat paparan dari Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Prabowo-Gibran, Rosan Roeslani, mengenai skenario transisi kekuasaan kepada Gibran Rakabuming Raka di tengah jalan.
“Saya bilang apa dulu saya mau tanya emang Pak Prabowo ini bakal jadi presiden berapa lama? Ini menyampaikan Pak Rosan loh, duta besar kita, mantan, di Amerika. Jadi rencananya dua tahun. Tiga tahun berikutnya diikuti oleh Gibran,” beber Connie kala itu.
Kendati demikian, klaim tersebut langsung mendapat bantahan keras dari Rosan Roeslani.
Dalam konferensi pers di Media Center TKN Prabowo-Gibran, Jakarta Selatan, Rosan menegaskan bahwa narasi “dua tahun” justru pertama kali dilontarkan oleh Connie sendiri dengan nada asumsi yang tidak pantas.
“Pernyataan yang dua tahun itu bukan datang dari saya. Beliau (Connie) mengatakan, ‘Ini gimana kalau sudah dua tahun, atau kalau tiba-tiba Pak Prabowo, saya ini orang intelijen, bisa saja Pak Prabowo diracun, bisa lebih cepat, itu gimana?’, dia bilang begitu,” tegas Rosan.
“Saya bilang, ‘Bu, udahlah, itu tidak pantas. Ya sudahlah, kita, sih, nggak ada pikiran seperti itu lah, janganlah’,” pungkasnya.