DEMOCRAZY.ID – Belum genap dua bulan menduduki jabatan sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Nanik Sudaryati Deyang resmi mengajukan pengunduran diri pada Rabu (22/7/2026).
Masalah kesehatan berupa penyumbatan pembuluh darah jantung akibat tekanan kerja tinggi menjadi alasan utama Nanik harus menepi dan menjalani pengobatan di luar negeri.
Posisinya kini dialihkan kepada Wakil Menteri Pertanian Sudaryono.
Pengunduran diri yang terbilang mendadak ini langsung menyedot perhatian luas media-media internasional, mulai dari Channel News Asia (CNA), Associated Press (AP), Nikkei Asia, hingga Reuters, yang memberikan sudut pandang tajam atas gejolak di tubuh BGN.
Media berbasis di Singapura, Channel News Asia (CNA), mengulas secara detail rekam jejak singkat Nanik melalui artikel bertajuk “New head of Indonesia’s free meals programme quits after 45 days citing health reasons, as budget cuts loom”.
CNA melaporkan, keputusan Nanik berobat ke luar negeri murni berdasarkan saran rekan-rekan medisnya, tanpa bermaksud mengecilkan kualitas dokter di Tanah Air.
CNA juga membeberkan bahwa Presiden Prabowo Subianto meminta Nanik untuk tetap mendampingi BGN lewat dewan pengawas yang akan segera dibentuk.
Nanik sendiri mengaku trauma jika harus berurusan kembali dengan masalah keuangan teknis, sehingga ia memilih membatasi diri pada fungsi pengawasan.
Di samping itu, CNA mengulas langkah reformasi internal yang sempat dieksekusi Nanik selama 45 hari memimpin.
Mengutip laporan kantor berita Antara dan pejabat Istana, Nanik telah mengevaluasi hampir 28.000 dapur komunitas, menyusun klasifikasi mutu untuk 3.000 dapur, menghentikan ekspansi di wilayah jenuh, serta membentuk 11 tim reformasi internal.
Langkah radikal ini diklaim berhasil menghemat anggaran hingga ratusan miliar rupiah dan menindak 414 dapur bermasalah.
CNA menilai, orientasi program Makan Bergizi Gratis kini perlahan bergeser.
Presiden Prabowo tak lagi ngotot mengejar kuantitas target 83 juta penerima manfaat, melainkan lebih memprioritaskan keamanan dan mutu makanan demi mencegah kasus keracunan berulang.
Sementara itu, kantor berita Associated Press (AP) merilis ulasan berjudul “Chief of troubled Indonesian nutrition agency replaced for second time in 2 months”.
AP menyoroti fenomena pergantian pucuk pimpinan BGN yang terbilang sangat cepat, di mana lembaga ini sudah dua kali kehilangan kepalanya dalam kurun waktu kurang dari dua bulan.
Kondisi tersebut membuat AP mempertanyakan arah dan masa depan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
AP mengingatkan bahwa program kebanggaan Presiden Prabowo ini terus diterpa gelombang kritik sejak awal digulirkan, mulai dari anggaran yang membengkak, kasus keracunan di sekolah, hingga isu dugaan korupsi.
AP juga mengulas kebijakan pemerintah yang terus memangkas alokasi anggaran tahunan BGN.
Meski begitu, AP turut menyisipkan klarifikasi resmi dari BGN bahwa evaluasi tersebut dilakukan agar skema distribusi makanan menjadi lebih presisi dan tepat sasaran melalui pembenahan data penerima manfaat.
Sorotan tak kalah menohok datang dari media ekonomi terkemuka Nikkei Asia lewat laporan bertajuk “Indonesia’s free meal scheme hit by further turmoil as program boss quits”.
Nikkei menilai pengunduran diri Nanik memicu babak baru gejolak internal BGN.
Nikkei menggarisbawahi timing pengunduran diri ini yang bergulir hanya sehari setelah pejabat BGN mengumumkan pemangkasan alokasi anggaran dari Rp268 triliun menjadi Rp229 triliun.
Menurut kalkulasi Nikkei, pemangkasan ini berpotensi merembet pada penurunan nilai alokasi dana per porsi makan hingga pengurangan jumlah penerima manfaat.
Nikkei juga mengutip pandangan pengamat ekonomi yang membaca adanya tekanan politik kompleks serta dugaan konflik kepentingan di balik bongkar-pasang pimpinan BGN.
“Pengunduran diri dua kepala lembaga ini dalam waktu singkat menunjukkan bahwa masalah terkait makan gratis sudah kronis dan sulit diperbaiki tanpa kemauan politik Prabowo,” tegas Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira, dalam wawancaranya kepada Nikkei Asia.
Adapun kantor berita Reuters menurunkan artikel berjudul “Indonesia’s Prabowo appoints new chief of troubled free meals agency”.
Media kawakan asal Inggris ini mengulas keputusan mundurnya Nanik di tengah situasi BGN yang memang sedang terdesak berbagai masalah kompleks.
Reuters merinci tumpukan persoalan yang membelit BGN, mulai dari pemotongan anggaran, penyelidikan pidana, persoalan logistik, hingga rentetan kasus keracunan massal yang membayangi program sejak resmi diluncurkan pada Januari 2025.
Reuters juga mengingatkan publik bahwa pendahulu Nanik telah diberhentikan Presiden Prabowo dan ditangkap terkait dugaan korupsi proyek bernilai miliaran dolar tersebut.
Dalam laporannya, Reuters mengutip curahan hati Nanik di media sosial Facebook.
Nanik membeberkan bahwa tim medis telah memperingatkan adanya penyumbatan pada arteri jantungnya akibat tingkat stres yang sangat tinggi.
Nanik mengonfirmasi bahwa Presiden Prabowo menyetujui pengunduran dirinya dan menugaskannya untuk memimpin dewan pengawas BGN kelak.
Reuters mengakhiri ulasannya dengan menyoroti tren pemangkasan anggaran BGN yang terus merosot.
Untuk tahun 2026, alokasi dana BGN dipangkas menjadi Rp229 triliun dari rencana Rp268 triliun –sebuah angka yang tergerus lebih dari Rp100 triliun dibanding patokan awal sebesar Rp335 triliun, dengan ruang pemotongan lanjutan yang masih terbuka lebar.