DEMOCRAZY.ID — Panggung polemik hukum yang menyeret mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus), Febrie Adriansyah (FA), kian membara dan merambah ke pusaran episentrum kekuasaan lama.
Politikus senior PDI Perjuangan, Beathor Suryadi, melontarkan pernyataan paling eksplosif yang menyeret langsung nama Presiden ke-7 RI, Joko Widodo.
Tak tanggung-tanggung, mantan tahanan politik era Orde Baru itu menduga masih bertebaran aset-aset jarahan jumbo hasil sitaan yang sengaja disembunyikan.
Beathor bahkan secara terbuka menuding sebagian dari harta haram tersebut kini disimpan rapat di dalam sebuah “bungker” rahasia yang berada di Solo.
Tudingan ini dilontarkan Beathor menyusul temuan fantastis dari serangkaian penggeledahan sebelumnya, di mana aparat berhasil mengamankan tumpukan emas batangan seberat kurang lebih 74 kilogram serta gelimangan uang tunai dalam berbagai pecahan mata uang asing yang jika ditotal menembus angka ratusan miliar rupiah.
Namun, bagi Beathor, angka tersebut baru sekadar puncak gunung es.
“Yang ditemukan itu baru sebagian. Saya menduga masih ada yang disimpan di berbagai tempat,” cetus Beathor, Selasa (21/7/2026).
Ketegangan pernyataan Beathor semakin memuncak tatkala ia menghubungkan erat rekam jejak Febrie Adriansyah sebagai sosok yang selama ini berada di lingkaran dekat kekuasaan Jokowi.
Berbekal asumsi bahwa seorang pejabat setingkat Jampidsus saja mampu menguasai tempat penyimpanan senilai miliaran hingga ratusan miliar rupiah, ia menilai kekuatan figur sekelas mantan presiden tentu menyimpan skala yang jauh lebih masif.
Tanpa tedeng aling-aling, Beathor melontarkan provokasi terbuka kepada publik luas untuk mendatangi kediaman sang mantan kepala negara di Solo guna membongkar dugaan tempat persembunyian aset tersebut secara paksa.
“Saya ajak rakyat Indonesia untuk membongkar bungker yang diduga milik Jokowi di Solo,” tegasnya tanpa kompromi.
Sebelumnya, politikus vokal ini juga sempat melempar bensin ke tengah kobaran api investigasi dengan menyebut adanya dugaan aliran dana potong kompas dari hasil penyelamatan aset negara yang disisihkan untuk membasahi kantong sejumlah oknum pejabat tinggi, termasuk yang sempat ia singgung berinisial “SS”.
Kritik tajam turut dialamatkan Beathor pada lambatnya gerak aparat penegak hukum yang hingga detik ini dinilai belum menyentuh langkah penahanan secara tegas terhadap sang mantan petinggi kejaksaan tersebut, kendati barang bukti bernilai raksasa telah di tangan.
Hingga berita ini diturunkan, gelombang tudingan miring yang dilayangkan oleh Beathor Suryadi masih berstatus sebagai spekulasi politik pihak luar.
Belum ada satu pun keterangan resmi, klarifikasi, maupun bantahan dari pihak Kepolisian, Kejaksaan Agung, kubu Febrie Adriansyah, maupun dari pihak Presiden ke-7 RI Joko Widodo terkait keberadaan bungker misterius dan tumpukan aset di Solo yang digembar-gemborkan tersebut.