DEMOCRAZY.ID — Dinamika hukum yang sedang diuji di Mahkamah Konstitusi terkait syarat pencalonan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka memang membuka kotak Pandora ketatanegaraan yang luar biasa pelik.
Ketika asumsi dan skenario terburuk dari gugatan tersebut benar-benar dikabulkan oleh majelis hakim, panggung politik nasional dipastikan akan langsung bergejolak hebat.
Menanggapi dua persoalan fundamental yang Anda utarakan, berikut adalah bedah perspektif dan kalkulasi politik di balik badai suksesi tersebut:
Secara nalar politik praktis dan etika koalisi, pasangan capres dan cawapres memang lahir, berkampanye, dan terpilih sebagai satu kesatuan paket tunggal.
Filosofi “mati siji, mati kabeh” (tiji tibeh) terasa sangat ideal menggambarkan ikatan emosional maupun politis antara Prabowo dan Gibran—terlebih jika klaim bahwa koalisi akan pecah jika Gibran tidak disertakan benar adanya.
Namun, dalam kacamata hukum tata negara positif Indonesia, konstitusi kita tidak mengenal doktrin tiji tibeh untuk jabatan eksekutif tertinggi.
Pelanggaran, sengketa administratif pencalonan, atau proses pemberhentian wakil presiden tidak secara otomatis merontokkan legitimasi presiden yang terpilih bersama dalam paket yang sama, kecuali jika sang presiden sendiri terbukti melakukan pelanggaran berat yang memenuhi syarat impeachment (pemakzulan) di bawah Pasal 7A UUD 1945.
Di sinilah rumitnya sistem hukum kita: logika politik sering kali bertabrakan telak dengan kaku pasal-pasal konstitusi.
Jika skenario ekstrim pendepakan Gibran benar-benar terjadi, mekanisme Pasal 8 ayat (2) UUD 1945 mewajibkan Presiden Prabowo Subianto untuk mengajukan dua nama calon wakil presiden pengganti ke MPR dalam waktu selambat-lambatnya 60 hari.
Pada titik inilah perebutan pengaruh di lingkar dalam kekuasaan akan mencapai puncaknya.
Menakar figur-figur yang beredar di bursa spekulasi publik memperlihatkan kompromi kepentingan yang sarat warna:
Agus Harimurti Yudhoyono (AHY): Merepresentasikan rekonsiliasi kubu poros Cikeas dengan koalisi pemerintah saat ini, memiliki kendaraan partai yang solid di parlemen, serta pengalaman birokrasi pertahanan yang seirama dengan ritme Istana.
Jika poros Megawati ditarik masuk lewat kursi kekuasaan eksekutif tertinggi kedua, peta oposisi nasional akan jungkir balik total.
Namun, kalkulasi ini menuntut kelenturan ego yang luar biasa dari kedua belah pihak.
Ambisi dan kelihaian lobinya menjadikan ia figur yang sulit diabaikan dalam kalkulasi elit.
Masuknya Mayor Teddy mencerminkan loyalitas mutlak dan pola komando ring 1 militer yang sangat dipercaya oleh sang presiden, meski jalan penunjukannya dipastikan akan memantik badai penolakan dari partai-partai koalisi parlemen yang merasa jatah kue kekuasaannya direbut oleh figur non-partai.
Pada akhirnya, seluruh kalkulasi panas ini sangat bergantung pada sejauh mana keberanian institusi peradilan menguji batas-batas konstitusional yang ada.
Apakah skenario pergantian kepemimpinan ini akan menjadi kenyataan, ataukah sekadar riak badai wacana di tengah transisi kekuasaan?
Kita tinggal menunggu detik-detik putusan akhir dibacakan.
Bagaimana menurut Anda sendiri, apakah mesin koalisi Prabowo akan cukup tangguh meredam turbulensi politik jika kursi wakil presiden benar-benar kosong mendadak?