DEMOCRAZY.ID – Guru Besar Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Prof. Ryaas Rasyid melontarkan kritik keras terhadap gaya kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, terutama setelah kepala negara menyebut para pakar terlalu pintar hingga menjadi “goblok”.
Menurut Ryaas, persoalan yang dihadapi Prabowo bukan semata-mata kurangnya orang pintar di sekeliling Presiden.
Ia justru menilai persoalan tersebut berkaitan dengan sikap kepemimpinan dan keterbukaan seorang pemimpin dalam menerima masukan.
“Saking pintarnya, saking pintarnya kemudian malah menjadi goblok,” kata Ryaas mengomentari pernyataan Prabowo mengenai para pakar di podcast Forum Keadilan Madilog, Selasa (22/9/2026).
Ryaas juga menyoroti kebiasaan marah dan mengumpat di hadapan publik.
Menurut dia, seorang pemimpin semestinya mampu menjaga ucapan dan perilakunya karena setiap tindakan pemimpin menjadi perhatian masyarakat.
“Marah di muka umum itu sebenarnya haram buat seorang pemimpin. Mengumpat itu sesuatu yang tercela,” ujar Ryaas.
Ia kemudian mengaitkan persoalan tersebut dengan kebutuhan seorang pemimpin untuk memiliki guru atau pembimbing spiritual.
Ryaas menyebut, apabila seorang pemimpin mengikuti nasihat guru spiritual dalam menjalankan kepemimpinan, maka guru tersebut juga harus mampu memberikan arahan yang benar.
“Kalau itu ada guru spiritualnya dan apa yang dilakukan ini adalah mengikuti guru spiritual, pasti guru itu menyimpang,” katanya.
Ryaas menegaskan, mendatangkan orang-orang pintar dari seluruh dunia pun menurutnya tidak otomatis menyelesaikan persoalan pemerintahan apabila pola kepemimpinan tidak berubah.
“Seandainya pun semua orang pintar di dunia didatangkan ke Indonesia, yang paling pintar di dunia datang ke Indonesia mengurus Indonesia sekarang, tidak akan selesai dengan pola sekarang ini,” ujarnya.
Karena itu, Ryaas menyebut persoalan yang menurutnya lebih mendasar adalah ketidakmampuan untuk membuka diri terhadap pembelajaran dan masukan.
“Masalah pada beliau itu adalah ketidakmampuan. Tidak mungkin ada solusi. Enggak mungkin ada solusi. Tidak mungkin. Ini soal kepribadian. Tidak mau belajar,” kata Ryaas.
Dalam pembicaraan tersebut, Ryaas juga membandingkan gaya kepemimpinan Prabowo dengan Presiden Soeharto dan Presiden Soekarno.
Ia menyinggung Soeharto yang disebutnya sebagai mertua Prabowo.
Menurut Ryaas, ada hal yang dapat dipelajari Prabowo dari cara Soeharto mengendalikan emosi ketika memimpin pemerintahan.
“Mertuanya pula kan. Kau tidak mau belajar sedikit saja dari Pak Harto tentang bagaimana seharusnya jadi pemimpin itu,” ujar Ryaas.
Ia kemudian mengatakan bahwa sepanjang memimpin pemerintahan, Soeharto menurut pengamatannya tidak biasa marah dan memaki orang di depan umum.
“Pak Harto itu selama memimpin pemerintahan, Pak, tidak pernah marah di muka umum, apalagi memaki orang di depan umum,” katanya.
Ryaas juga mengingatkan gaya Soekarno yang menurutnya membuka ruang bagi masukan.
Ia menyebut kebiasaan Bung Karno menerima tamu di Istana sebagai salah satu gambaran keterbukaan seorang pemimpin terhadap pandangan dari berbagai pihak.
“Setiap pagi itu Bung Karno menerima tamu di istana, di beranda belakang istana itu. Bung Karno itu membuka diri untuk menerima masukan-masukan,” kata Ryaas.
Dalam podcast tersebut, Ryaas juga ditanya mengenai siapa saja orang di sekitar Prabowo yang menurutnya dapat memberikan nasihat kepada Presiden. Jawaban Ryaas cukup tajam.
“Saya tidak melihat seseorang pun,” ujarnya.
Namun, Ryaas kemudian mengarahkan persoalan tersebut kembali kepada Prabowo sebagai pemimpin.
Menurutnya, perubahan tidak akan terjadi apabila pemimpin tidak terlebih dahulu membuka diri.
Ia mengatakan seorang pemimpin harus melakukan introspeksi dan membuka hubungan spiritual dengan Tuhan.
“Lihat kembali dulu diri sendiri. Ini manusia harus membuka diri dulu kepada Allah, kepada Tuhannya,” ujar Ryaas.
[VIDEO]