DEMOCRAZY.ID – Setelah Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono, menyalahkan guru, orangtua siswa, hingga jurnalis terkait keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG), potongan ceramah Prof.
KH Yahya Zainul Ma’arif kini ramai di X.
Buya Yahya, sapaannya, meminta Presiden Prabowo Subianto melakukan introspeksi terhadap pelaksanaan program tersebut.
Buya Yahya mengingatkan agar pemerintah tidak hanya melihat MBG dari sisi kebijakan, tetapi juga memastikan proses penyaluran hingga pembagiannya benar-benar berjalan sesuai tujuan.
Menurutnya, persoalan MBG perlu dilihat secara jujur dan adil.
Kesalahan dalam pelaksanaan, kata dia, tidak semestinya langsung dibebankan kepada Presiden apabila memang persoalan tersebut berada pada level teknis.
“Pak Presiden mohon ditinjau kembali. Sudahkah benar tentang MBG atau tidak? Cobalah jujur gitu saja,” ujar Buya Yahya, dikutip fajar.co.id, Selasa (15/9/2026).
Buya Yahya menekankan bahwa masyarakat juga perlu objektif dalam melihat berbagai persoalan yang muncul terkait MBG.
Ia meminta publik tidak serta-merta mengaitkan seluruh persoalan dalam program tersebut dengan Presiden Prabowo apabila masalahnya memang berasal dari pelaksana di lapangan.
“Anda sebagai rakyat yang jujur juga menilai ya, kalau bukan kesalahan Presiden ya jangan langsung disebutkan MBG orang-orang kelepek-kelepek keracunan Pak Presiden. Anda nggak adil juga menilainya,” ucapnya.
Buya Yahya secara khusus meminta pemerintah mengevaluasi bagaimana MBG disalurkan dan dibagikan kepada masyarakat.
Ia mengingatkan bahwa seorang pemimpin memiliki tanggung jawab moral, termasuk pertanggungjawaban kepada Tuhan atas kebijakan yang dijalankan.
“Tentang penyalurannya, pembagiannya dan seterusnya. Ini benar atau tidak. Anda punya tanggung jawab di hadapan Allah,” tukasnya.
Ia juga mengingatkan agar masyarakat tidak mudah menyalahkan pihak tertentu tanpa melihat persoalan secara utuh.
“Hei rakyat, hei presiden, kadang kalau sudah ada adil, tidak benar, rakyat tidak adil. Yang salah tukang masaknya, yang disalahkan Pak Presiden,” imbuhnya.
Bukan hanya itu, Buya Yahya juga menyinggung kemungkinan adanya persoalan serius dalam kebijakan MBG yang menurutnya perlu dinilai secara objektif.
“Kalau memang ternyata kebijakannya Presiden banyak korup, ini perlu presiden amanat dong. Saya sampaikan, ada Tuhan, ada Allah,” Buya Yahya menuturkan.
“Hidup di dunia sesaat, kalau tahu sesuatu itu tidak baik, membawa ketidakbaikan, ketidakadilan ya harus segera yang punya kemampuan untuk menghentikannya,” tambahnya.
Buya Yahya kemudian mengingatkan bahwa kekuasaan dan kehidupan di dunia bersifat sementara.
Karena itu, ia meminta para pemegang kewenangan tidak mengabaikan persoalan yang dapat berdampak kepada masyarakat.
“Kamu punya Tuhan, ingat hidupmu sesaat di dunia. Kezaliman yang kita lakukan di dunia menjadi sebab kehancuran di alam barzah,” tegasnya.
Ia juga mengajak masyarakat untuk mengedepankan kejujuran ketika memberikan penilaian terhadap pemerintah maupun kebijakan MBG.
“Yuk semuanya jujur deh, gitu saja jadi kita pun kadang-kadang kalau tidak senang dengan seseorang, semuanya jadi dinisbatkan kepada orang tersebut,” bebernya.
Lanjut Buya Yahya, kritik terhadap MBG harus tetap dibangun berdasarkan fakta dan proporsi tanggung jawab.
“Jadi rakyat yang benar, misalnya jujur, kalau memang bukan kesalahan presiden, jangan dinisbatkan,” ucap dia.
Ia mengatakan persoalan teknis harus dilihat sebagai persoalan teknis apabila memang sumber masalahnya berada pada pelaksana di lapangan.
Namun, jika terdapat persoalan yang bersumber dari kebijakan, hal tersebut juga harus dievaluasi.
“Itu bilangnya biasa, jadi urusan tukang masak, akan tapi kalau ada kesalahan presiden dari sisi, misalnya saya melihat ada banyak kejahatan di balik ini semua dan sebagainya, itu yang perlu kita nilai,” kata dia.
Buya Yahya selanjutnya meminta Presiden Prabowo membuka ruang evaluasi dan mencermati berbagai persoalan yang muncul dalam pelaksanaan MBG.
“Lalu kita kembali tanyakan, wahai bapak presiden anda punya hati insya Allah dan Anda juga pikirkan bisa mencermati benar atau tidak MBG tanpa hawa nafsu,” terangnya.
Ia juga meminta Presiden mendengar berbagai informasi mengenai pelaksanaan program tersebut sebelum mengambil keputusan.
“Coba, kemudian Anda mendengar enggak apa yang selama ini terjadi. Kalau ternyata Anda (Presiden) tahu kemudian membiarkan, urusanmu dengan Allah. Tugas kami (ulama) hanya mengingatkan,” tandasnya.
Lebih jauh, Buya Yahya menegaskan bahwa introspeksi dan pertobatan merupakan jalan untuk memperbaiki kesalahan, termasuk bagi seorang pemimpin.
“Tobat menjadi lebih baik. Saya sendiri, Anda kalau salah, tobat. Termasuk Pak Presiden,” kuncinya.
👇👇
View this post on Instagram