DEMOCRAZY.ID – Persoalan pembiayaan proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung atau Whoosh kini menjadi bagian dari pekerjaan Menteri Keuangan baru Suahasil Nazara setelah Purbaya Yudhi Sadewa menyerahkan jabatan tersebut.
Purbaya sebelumnya menjadi salah satu pejabat yang terlibat dalam pembahasan opsi penanganan beban pembiayaan PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC).
Total utang proyek Whoosh kepada China Development Bank disebut mencapai sekitar US$4,5 miliar atau setara Rp79,45 triliun.
Setelah tidak lagi menjabat sebagai Menteri Keuangan, Purbaya berseloroh dirinya sudah tidak memiliki kewenangan untuk menentukan kebijakan terkait utang proyek tersebut.
Purbaya menyampaikan hal itu seusai serah terima jabatan Menteri Keuangan kepada Suahasil Nazara di Kementerian Keuangan, Jakarta, Selasa (15/9/2026).
“Kan gue bukan menteri keuangannya, alhamdulillah selamat gue,” kata Purbaya seusai serah terima jabatan di Kementerian Keuangan, Jakarta.
Sebelum meninggalkan posisi Menteri Keuangan, Purbaya memang telah menyiapkan sejumlah opsi untuk menangani kewajiban pembiayaan Whoosh.
Salah satu skema yang dibahas adalah melibatkan Special Mission Vehicle (SMV) pemerintah.
Opsi tersebut mencakup pemanfaatan PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) atau SMI dan PT Indonesia Infrastructure Finance (IIF) untuk membantu menangani kewajiban pembayaran utang Whoosh.
Pada hari terakhirnya sebagai Menteri Keuangan, Purbaya bahkan menargetkan proses serah terima saham BUMN di KCIC dari Danantara kepada Kementerian Keuangan dapat dilakukan.
“Umur saya enggak sampai 80 tahun, 10 tahun lagi sudah syukur kalau bisa. Ya kita doa saja,” ucapnya.
Pergantian Menteri Keuangan membuat pembahasan mengenai skema penyelesaian utang Whoosh menjadi salah satu pekerjaan yang harus dilanjutkan Suahasil Nazara.
Sebelumnya, Suahasil menjabat sebagai Wakil Menteri Keuangan dan kini dipercaya Presiden Prabowo Subianto memimpin Kementerian Keuangan.
👇👇
Bayangin, lu lagi rapat dan masih kerja, tetiba ditelpon sama atasan kalau lu udah nggak kerja per detik itu juga.
Hal ini yang dialami Purbaya. Sebelum direshuffle, Purbaya tengah menghadiri rapat di Dewan Perwakilan Daerah di Kompleks Senayan, Jakarta, Senin (14/9).
Di… https://t.co/qRORmvXEkI pic.twitter.com/3ijaumipf1
— Gumilar (@pw_gun) September 14, 2026
Dosen Akuntansi Universitas Padjadjaran (Unpad) Ersa Tri Wahyuni menyoroti momen Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menerima kabar pemberhentian dirinya saat tengah mengikuti rapat di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (14/9/2026).
Purbaya saat itu diketahui sedang menjalankan agenda bersama anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD).
Di tengah rapat, ia terlihat keluar dari ruang pertemuan dan menerima telepon.
Momen tersebut kemudian menjadi perhatian setelah diketahui bahwa Purbaya mendapat informasi dari Istana mengenai pergantian jabatan Menteri Keuangan.
Pada hari yang sama, Presiden Prabowo Subianto resmi memberhentikan Purbaya dari posisi Menteri Keuangan.
Jabatan tersebut kemudian diberikan kepada Suahasil Nazara yang sebelumnya menjabat sebagai Wakil Menteri Keuangan.
Suahasil dilantik Prabowo di Istana Negara, Jakarta, Senin (14/9/2026).
Pergantian tersebut dituangkan dalam Keputusan Presiden Nomor 97/P Tahun 2026 tentang Pemberhentian dan Pengangkatan Menteri Keuangan Kabinet Merah Putih untuk sisa masa jabatan 2024-2029.
Pergantian mendadak tersebut membuat momen Purbaya di ruang rapat menjadi sorotan.
Pasalnya, ketika masih menjalankan agenda resmi dengan lembaga negara, posisinya sebagai bendahara negara sudah berakhir dan penggantinya bahkan telah dilantik di Istana.
Ersa Tri Wahyuni kemudian mengaitkan peristiwa tersebut dengan kejadian serupa yang pernah terjadi sekitar tahun 2000.
“Sekitar tahun 2000 pernah juga begini. Menteri rapat sama DPR, lalu para wartawan dengerin berita di Istana ada pelantikan menggantikan dia,” ungkapnya dikutip dari X, Selasa (15/9/2026).
Pada momen tersebut, menteri yang tidak disebut namanya langsung menghentikan rapat dan meminta maaf ke anggota dewan.
“Dia lagi bicara, lalu ada staf dari belakangnya ngasih tahu. Pak Menteri langsung berhenti dan minta maaf ke anggota Dewan untuk menghentikan,” tulis Ersa.
Sekitar thn 2000 pernah juga begini. Menteri rapat sama DPR, lalu para wartawan dengerin berita di istana ada pelantikan menggantikan dia. Dia lagi bicara, lalu ada staff dari belakangnya ngasih tahu Pak Menteri langsung berhenti dan minta maaf ke anggota Dewan utk menghentikan https://t.co/1E8QybUyyA
— Ersa Tri Wahyuni (@ErsaTriWahyuni) September 14, 2026
Pernyataan tersebut disampaikan Ersa saat mengomentari video yang memperlihatkan detik-detik Purbaya meninggalkan ruang rapat dan menerima telepon.
Dari video yang beredar tampak Purbaya meninggalkan ruang rapat dan menerima telepon di luar ruangan.
Terdengar Purbaya hanya mengiyakan instruksi yang diduga menjadi perintah terakhirnya sebelum melepas jabatan yang diembannya setahun terakhir.
“Iya Pak, siap Pak, saya masih di DPD,” kata Purbaya.