DEMOCRAZY.ID – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman kembali mencatatkan kinerja tertinggi di antara menteri Kabinet Merah Putih pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Capaian tersebut tercatat dalam dua penilaian berbeda pada 2025 dan 2026.
Pada 2025, Amran memperoleh tingkat kepuasan publik tertinggi berdasarkan survei Indikator Politik Indonesia.
Sementara pada 2026, Amran kembali berada di posisi teratas berdasarkan penilaian IndexPolitica Indonesia.
Namun, kedua penilaian tersebut menggunakan pendekatan yang berbeda.
Pada 2025, Indikator Politik Indonesia menempatkan Amran sebagai menteri dengan tingkat kepuasan publik tertinggi, yakni 84,9 persen.
Menariknya, nama Amran tidak masuk dalam daftar 10 menteri yang paling populer dalam survei tersebut.
Posisi Amran kemudian diikuti Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya dengan tingkat kepuasan 84,5 persen dan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sebesar 84,1 persen.
Selanjutnya, Menteri Agama Nasaruddin Umar memperoleh 83,4 persen dan Menteri Sekretariat Negara Prasetyo Hadi sebesar 82,9 persen.
Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi mengatakan tingginya tingkat kepuasan terhadap Amran banyak berasal dari kalangan petani.
Menurut dia, kelompok tersebut merasakan secara langsung kebijakan pemerintah di sektor pertanian.
Survei evaluasi setahun pemerintahan Prabowo-Gibran itu melibatkan ribuan responden dari berbagai latar belakang sosial dan ekonomi di Indonesia.
Penilaian mencakup persepsi masyarakat terhadap kinerja sejumlah pejabat tinggi negara.
Setahun kemudian, Amran kembali berada di posisi pertama.
Kali ini, penilaian dilakukan IndexPolitica Indonesia melalui evaluasi kinerja kementerian.
Dalam infografis IndexPolitica, Amran memperoleh skor 91 dan menjadi peringkat pertama dari lima menteri dengan kinerja tertinggi.
Empat menteri lainnya yang masuk dalam lima besar adalah Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Perkasa Roeslani dengan skor 89, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa 87, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti 86, serta Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin 85.
Berikut daftar lima menteri dengan skor kinerja tertinggi versi IndexPolitica:
IndexPolitica menegaskan penilaian tersebut tidak didasarkan pada popularitas menteri maupun seberapa sering seorang pejabat muncul di media.
Founder sekaligus peneliti senior IndexPolitica Indonesia Denny Charter mengatakan lembaganya menggunakan pendekatan Evidence-Based Government Performance Evaluation dengan metode Multi-Criteria Decision Analysis (MCDA).
Dengan metode tersebut, kinerja kementerian dinilai berdasarkan bukti pencapaian program, hasil kebijakan, serta dampak yang dapat diukur.
“Yang kami ukur adalah kinerja, bukan popularitas. Menteri yang sering diberitakan belum tentu menteri dengan kinerja terbaik. Sebaliknya, menteri yang tidak terlalu populer dapat memiliki kinerja yang sangat baik apabila mampu menghasilkan output dan outcome kebijakan yang terukur,” kata Denny, dikutip Selasa (8/9/2026).
Ia menegaskan popularitas dan kinerja merupakan dua hal berbeda.
“Popularitas adalah persepsi. Kinerja adalah delivery. Karena itu, keduanya tidak boleh dicampur dalam satu indikator,” ujarnya.
Dalam evaluasinya, IndexPolitica menggunakan enam dimensi penilaian dengan total bobot 100 persen.
Keenam dimensi tersebut meliputi:
Dari enam indikator tersebut, Policy Outcome memiliki bobot paling besar, yakni 25 persen.
Aspek ini menilai hasil akhir kebijakan dan sejauh mana kebijakan tersebut memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Artinya, evaluasi tidak hanya melihat berapa banyak program yang dibuat atau dijalankan, tetapi juga apakah program tersebut menghasilkan perubahan yang dapat dibuktikan.
Untuk sektor pertanian, sejumlah indikator yang digunakan untuk melihat kinerja antara lain produksi pangan, stok pangan, dan produktivitas.
Indikator tersebut dinilai relevan karena dapat dibandingkan dan diverifikasi menggunakan data sektoral.
Dalam dua tahun terakhir, Kementerian Pertanian menjalankan berbagai kebijakan yang diarahkan untuk meningkatkan produksi dan produktivitas pertanian sekaligus memperkuat ketahanan pangan.
Program yang dijalankan antara lain penguatan irigasi dan pompanisasi, penyediaan benih, mekanisasi pertanian, pupuk, percepatan tanam, hingga berbagai program peningkatan produktivitas.
Pendekatan tersebut membuat kinerja sektor pertanian dapat diukur tidak hanya berdasarkan aktivitas kementerian, tetapi juga melalui output dan outcome yang dihasilkan.
Capaian Amran dalam dua tahun tersebut perlu dibaca dengan melihat perbedaan metode penilaiannya.
Pada 2025, Indikator Politik Indonesia mengukur kepuasan publik terhadap kinerja menteri.
Hasilnya, Amran memperoleh angka tertinggi meskipun tidak termasuk 10 menteri paling populer.
Sementara pada 2026, IndexPolitica mengukur kinerja berbasis bukti menggunakan sejumlah indikator output, outcome, efektivitas implementasi, dampak, inovasi, dan koordinasi.
Dengan demikian, posisi Amran di urutan pertama pada dua penilaian tersebut tidak berarti kedua lembaga menggunakan ukuran yang sama.
Meski demikian, kedua hasil itu sama-sama menunjukkan tingginya penilaian terhadap kinerja Menteri Pertanian dalam periode tersebut, terutama terkait kebijakan dan capaian di sektor pertanian.
Bagi pemerintah, hasil evaluasi berbasis kinerja menjadi penting karena keberhasilan kementerian tidak hanya diukur dari popularitas pejabat, tetapi juga dari kemampuan menerjemahkan kebijakan menjadi hasil yang dapat dirasakan masyarakat.