DEMOCRAZY.ID – Pernyataan Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP), Ulta Levenia Nababan yang menyebut bencana Indonesia diorkestrasi asing dianggap mempertontonkan kebodohan.
Hal tersebut diungkapkan Dosen Universitas Multimedia Nusantara, Haryanto Ignatius.
Sebagai bagian dari istana, dia dianggap kurang literasi.
“Inilah contoh pejabat kurang literasi. Kurang baca,” kata Haryanto dikutip dari unggahannya di X, Selasa (8/9/2026).
Dia menyarankan Ulta lebih banyak membaca.
“Gampang benar ngomong konspirasi. Mbak, banyakin baca sebelum ngomong,” imbuhnya.
Menurut Haryanto, Ulta hanya mempertontonkan kebodohan publik.
Alih-alih memberi penjelasan yang terang kepada publik.
“Anda cuma mempertontonkan kebodohan anda di depan publik,” terangnya.
Video di Akhir Artikel
Hal tersebut diungkapkan Ulta dalam sebuah siniar yang tayang di YouTube Reform Syndicate.
Mulanya, Ulta memberi peringatan, bahwa pendapatnya mungkin akan membuat dirinya dilihat gila.
Meski begitu, dia tetap menyampaikannya.
“Pasti gue bakal dibilang gila ini,” kata Ulta dikutip Senin (7/9/2026).
Dia lalu mengungkit gempa di China dan di Turki.
Menurutnya, gempa tersebut terjadi setelah adanya konflik dengan Amerika Serikat.
“Tapi dulu pernah di Turki sama di China, mereka pernah gesekan sama Amerika,” ucapnya.
Setelah dicecar gempa mana yang dia maksud, Ulta tak merinci.
Dia hanya menyebut gempanya terjadi di China dan Turki.
“Lu bisa cek di berita, terus beberapa hari kemudian gempa, di China sama di Turki itu. Itu ada,” terangnya.
“Iya (yang belum lama ini). Kalau ditelusurin lagi itu ada,” sambungnya.
Baru-baru ini, Ulta mengaku merefleksikan bencana yang terjadi di Indonesia.
Mulai banjir bandang dan tanah longor di Aceh, hingga kebakaran di Kalimantan dan Papua.
“Gua sempat ngobrol sama teman gua tuh, ini kok bisa kayak gini yah. Aceh terus Papua bergejolak, habis itu Kalimantan juga kan,” ucapnya.
Rentetan peristiwa itu dia hubungkan dengan film yang baru saja dia tonton.
Ulta pun tak menyebut film apa.
“Terus yang lebih aneh lagi, seminggu lalu gua lihat sebuah film, film ini merangkum hal keanehan itu,” imbuhnya.
Berdasarkan hal tersebut, dia meyakini lebih dari 50 persen bencana di Indonesia hingga demonstrasi ada yang mengorkestrasi.
“Sehinga gua 73,5 persen, wah ini pasti ada yang orkestrasi. Kemudian ada demonstrasi,” pungkasnya.
👇👇
ta
Anak buah prabowo, ahli KSP Ulta levenia nababan tuding ada campur tangan antek antek asing dibalik gempa dan erupsinya 6 gunung di Indonesia..
*Gak main-main, alam pun mereka fitnah🤣🤣 pic.twitter.com/bZBnB6WFV1
— Uni liswara (@Uniliswara0) September 8, 2026
s
buat yang penasaran siapa itu levenia:
– dia sekarang kerja sebagai plt. deputi bidang pembinaan komunikasi pemerintah di badan komunikasi (bakom) ri
– s1 ilmu politik universitas indonesia
– s2 di university of leeds, inggris, bidang insurgensi dan terorisme
– ikut program studi… pic.twitter.com/Gz2KizsFMm
— Lambe Saham (@LambeSahamjja) September 8, 2026
Di sisi lain, anggaran Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk tahun 2026 hanya Rp491 miliar.
Angka itu menurun drastis dari tahun sebelumnya.
Pada 2025 mencapai Rp2,01 triliun.
Bahkan pada tahun 2021 anggaran BNPB mencapai Rp7,14 triliun.
Berikut ini daftar anggaran BNPB: