DEMOCRAZY.ID – Polemik buku Islam Ala Prabowo kembali bergulir setelah kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Mohamad Guntur Romli menyoroti pencantuman nama sejumlah tokoh dalam buku tersebut.
Guntur menyoroti nama Gus Kautsar, Tuan Guru Bajang (TGB) atau KH Muhammad Zainul Majdi, serta Prof KH Said Aqil Siradj.
Menurut Guntur, ketiga tokoh tersebut disebut menyatakan tidak pernah dimintai tulisan maupun dilibatkan dalam proses penyusunan buku Islam Ala Prabowo.
“Ketiganya menegaskan tidak pernah dilibatkan dan diminta tulisan dalam buku tersebut,” ujar Guntur, dikutip Selasa (8/9/2026).
Guntur menilai persoalan pencantuman nama tersebut tidak semestinya dipandang sebagai kesalahan teknis dalam proses penyusunan buku.
Sejumlah tokoh merasa namanya dicatut untuk penerbitan buku “Islam Ala Prabowo”…
Mulai dari mantan Ketua Umum PB NU KH Said Aqil Siradj, mantan Gubernur NTB TGB Muhammad Zainul Majdi hingga Gus Kautsar, Pengasuh Pondok Pesantren Al Falah, Ploso, Kediri…Mereka menyatakan… pic.twitter.com/Hz7rRoQ253
— ferizandra (@ferizandra) September 8, 2026
Ia bahkan menggunakan istilah keras untuk menggambarkan persoalan tersebut.
“Ini bukan sekadar kesalahan redaksional. Melainkan pencatutan nama yang pantas disebut kejahatan intelektual,” kata Guntur.
Menurut Guntur, polemik tersebut justru berpotensi kontraproduktif bagi Presiden Prabowo Subianto.
Buku yang dimaksudkan sebagai bentuk apresiasi kepada Prabowo, kata dia, dapat berbalik menjadi sumber kritik apabila terdapat tokoh yang namanya dicantumkan tetapi merasa tidak pernah terlibat.
“Alih-alih Presiden Prabowo mendapatkan poin positif yang ada kritik keras hingga ejekan,” ujar Guntur.
Karena itu, Guntur meminta Prabowo lebih berhati-hati terhadap berbagai bentuk apresiasi yang ditujukan kepadanya.
Ia menilai presiden perlu membedakan pihak yang benar-benar memberikan penghargaan dengan pihak yang justru berpotensi menimbulkan persoalan.
“Presiden Prabowo mestinya hati-hati pada segelintir orang yang benar-benar mau memberikan apresiasi dan pengakuan dengan mereka yang ingin menjatuhkan,” kata Guntur.
Kritik tersebut menambah sorotan terhadap buku Islam Ala Prabowo yang memuat narasi mengenai bagaimana Prabowo Subianto mengamalkan ajaran Islam.
Persoalan mengenai pihak-pihak yang terlibat dalam penyusunan dan pencantuman nama di dalam buku kini menjadi bagian dari perdebatan publik.
Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan (Menko Kumham Imipas) Yusril Ihza Mahendra juga memberikan klarifikasi mengenai keterlibatannya dalam buku tersebut.
Yusril menegaskan dirinya bukan penulis dan hanya pernah diwawancarai oleh tim penyusun.
“Saya tidak menulis buku itu. Saya hanya diwawancarai oleh tim penyusunnya,” kata Yusril saat dikonfirmasi di Jakarta, Selasa (8/9/2026).
Yusril juga mengatakan dirinya baru membaca buku tersebut secara utuh setelah diterbitkan.
Ia tidak keberatan pandangannya dimuat karena keterangan yang disampaikannya dalam wawancara merupakan pandangan yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademik.
“Saya tidak keberatan pandangan tersebut dimuat dan saya siap mempertanggungjawabkannya secara akademik,” ucap Yusril.
Polemik mengenai buku Islam Ala Prabowo dengan demikian tidak hanya berkaitan dengan isi dan narasi yang dibangun, tetapi juga menyangkut proses penyusunan serta pencantuman nama sejumlah tokoh di dalamnya.
Tudingan mengenai keterlibatan para tokoh tersebut masih merupakan pernyataan dari pihak-pihak yang disampaikan dalam polemik dan perlu dikonfirmasi kepada penyusun maupun penerbit buku.