Sentilan Telak Rustam Effendi: Jokowi Bicara ‘Ojo Mateni’, Padahal Dia Pembunuh Ribuan Orang!

DEMOCRAZY.IDAktivis 98, Rustam Effendi, melontarkan pernyataan kontroversial dengan menuding balik Presiden ke-7 Jokowi sebagai ‘pembunuh’ yang sebenarnya.

Hal tersebut diungkapkan Rustam saat merespons Jokowi yang sebelumnya menyebut bahwa meskipun memiliki kesaktian, seseorang tidak boleh menjatuhkan atau membunuh.

“Seolah-olah kan kayak dia orang bener gitu, kan. Jadi penguasa kalau berkuasa tidak boleh menekan, membunuh. Padahal dia kan pembunuh yang banyak,” ujar Rustam, Minggu (6/9/2026).

Ia menyebut ribuan orang meninggal di era kepemimpinan Jokowi, mulai dari tragedi Kanjuruhan, KPPS, hingga peristiwa KM 50 dan Bawaslu.

“KM 50, Bawaslu, Kanjuruhan, KPPS, ribuan yang dibunuh, Bang. Tapi dengan seolah-olah dia orang bersih, orang baik, berani ngomong begitu, Bang,” tukasnya.

Rustam juga menekankan bahwa Jokowi sebagai pembohong besar atas sejumlah program yang dinilainya hanya janji manis.

Ribuan Orang Meninggal di Era Jokowi

Rustam menegaskan bahwa sejak era kepemimpinan Jokowi, banyak orang meninggal dan aktivis ditangkap.

Ia menyebut rezim Jokowi telah melakukan penindasan terhadap berbagai pihak, termasuk anak Soekarno yang juga ditangkap.

“Oh iya. Semenjak rezim Jokowi, kita tahu, Bang, berapa banyak orang yang meninggal. Dan berapa banyak aktivis yang ditangkap-tangkap, gitu kan? Termasuk juga anak Soekarno ditangkap juga,” Rustam menuturkan.

“Ini kan luar biasa orang ini. Tapi seolah-olah hari ini merasa orang yang paling bersih, bicaranya seolah-olah seorang negarawan, padahal kan pembohong orang ini. Penipu, pembunuh!,” tambahnya.

Sebut Jokowi Pembohong Besar

Rustam juga menuding sejumlah program Jokowi yang dinilainya sebagai kebohongan, mulai dari IKN, kereta cepat, hingga mobil Esemka.

“Pembohongan apa yang enggak dibohongin dari Jokowi? IKN, kereta cepat, Esemka, kan pembohongan juga. Luar biasa orang ini. Makanya kami aktivis, nasional maupun daerah, berupaya sepakat untuk menghilangkan dinasti Jokowi,” imbuhnya.

TAGS

Sebelumnya, Jokowi menyampaikan pesan penting kepada masyarakat saat menghadiri peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW sekaligus Haul ke-8 Al-Maghfurlah KH Musyafa Ali di Pondok Pesantren Al-Falah, Kebumen, Jawa Tengah, Sabtu (29/8/2026) kemarin.

Dalam kesempatan tersebut, Jokowi turut menyinggung berbagai fitnah, hinaan, dan cacian yang menurutnya kerap sampai kepadanya.

Ia mengatakan, perbedaan sikap dalam politik merupakan hal yang biasa terjadi.

Hanya saja, Jokowi mengingatkan agar setiap orang tetap mengedepankan perbuatan baik dan tidak menggunakan kekuasaan untuk menjatuhkan pihak lain.

Jokowi Singgung Fitnah dan Cacian

Jokowi mengawali pesannya dengan menyinggung banyaknya fitnah dan cacian yang ditujukan kepadanya.

“Bahwa banyak fitnah, banyak inaan, banyak cacian yang sampai ke saya. Ya karena ada yang senang, ada yang tidak senang tadi. Dan, biasa dalam politik,” ujar Jokowi, dikutip fajar.co.id, Minggu (30/8/2026).

Meski demikian, ia mengajak masyarakat untuk memilih jalan yang baik dalam menghadapi berbagai persoalan.

“Kalau bisa berbuat yang baik, kenapa kita harus berbuat yang jelek?,” tukasnya.

Dikatakan Jokowi, pesan tersebut merupakan bagian dari nasihat yang sebelumnya telah berulang kali ia sampaikan terkait penggunaan kekuasaan.

Jokowi kemudian mengutip filosofi Jawa yang disebutnya sebagai salah satu dari tiga pesan yang disampaikan oleh Pak Kiai Zulfan.

“Jadi ini sudah sering saya ulang-ulang mengenai tiga hal yang disampaikan oleh Pak Kiai Zulfan,” Jokowi menuturkan.

“Jadi, yang pertama, lamun siro sakti ojo mateni. Meskipun kamu sakti, jangan suka menjatuhkan atau membunuh,” tambahnya.

Ia menekankan bahwa kekuasaan yang besar tidak seharusnya digunakan untuk menjatuhkan orang lain.

“Tidak boleh mentang-mentang kita punya kekuasaan yang besar, kemudian kita pakai untuk menjatuhkan orang. Itu hal yang tidak baik,” imbuhnya.

Sindir Pemegang Jabatan

Dalam pesannya, Jokowi juga memberikan contoh penggunaan kekuasaan di tingkat pemerintahan paling bawah.

“Termasuk Bapak Ibu semuanya juga, jangan seperti itu mentang-mentang jadi lurah kemudian ke rakyatnya bakbuk, bakbuk, bakbuk,” ucapnya.

Ia mengingatkan agar seseorang tidak berubah menjadi kasar hanya karena memiliki jabatan atau kewenangan.

“Sering ngendiko kasar ke rakyat, gak boleh. Karena kekuasaan itu hanya sementara. Kekuasaan itu hanya sampiran,” tegasnya.

Jokowi kembali menekankan bahwa jabatan yang dimiliki seseorang bukanlah sesuatu yang bersifat kekal.

“Jabatan itu hanya sampiran, itu yang harus diingat waktu kita memiliki kekuasaan,” kuncinya.

Artikel terkait lainnya