Permainan Kotor ‘Geng Solo’ Terbongkar: Sengaja Tiupkan Isu Ketidakpuasan ke Prabowo Demi Kerek Elektabilitas PSI!

DEMOCRAZY.ID – Direktur Eksekutif Parameter Publik Indonesia Ras MD menilai pernyataan Ketua Umum Projo Budi Arie Setiadi mengenai kemungkinan percepatan Pemilu 2029 tak bisa dilepaskan dari dinamika politik kelompok yang disebutnya sebagai Geng Solo.

Istilah itu merujuk pada jejaring politik Presiden ke-7 Joko Widodo atau Jokowi.

Menurut Ras MD, pernyataan Budi Arie dapat dibaca sebagai bagian dari upaya membangun posisi politik baru bagi kelompok tersebut.

Salah satu kepentingannya, kata dia, adalah mendongkrak elektabilitas Partai Solidaritas Indonesia atau PSI.

“Kita harus melihat bahwa PSI sedang membangun elektabilitas yang masih tergolong kecil dengan menangkap berbagai momentum,” kata Ras MD, Kamis, 27 Agustus 2026.

Elektabilitas PSI memang belum menunjukkan posisi yang kuat.

Survei Saiful Mujani Research and Consulting atau SMRC mencatat elektabilitas PSI sebesar 4,1 persen.

Sejumlah survei lain menempatkan partai tersebut di bawah angka 4 persen.

Ras MD menilai angka tersebut belum cukup untuk menyimpulkan bahwa PSI telah menjadi kekuatan politik besar.

“Saya tidak melihat jika PSI dengan modal elektabilitas 2 sampai 4 persen di berbagai lembaga survei menjadi bukti jika PSI saat ini sudah kuat. Survei ini punya margin error,” ujarnya.

Karena itu, menurut dia, PSI membutuhkan momentum agar terus berada dalam percakapan publik.

Pernyataan Budi Arie mengenai kemungkinan Pemilu 2029 dipercepat disebut menjadi salah satu momentum tersebut.

“Tujuannya agar PSI selalu menjadi perbincangan di berbagai ruang-ruang publik,” kata Ras MD.

Membidik Kelompok yang Tak Puas

Ras MD membaca pernyataan Budi Arie bukan sebagai sinyal pasti bahwa PSI sedang mendorong gerakan politik untuk mempercepat pemilu.

Ia melihat ada pesan politik yang lebih subtil di balik pernyataan tersebut.

“Pernyataan Budi Arie perihal isu percepatan pemilu adalah pesan yang tidak bisa diartikan secara kaku dan meyakinkan jika PSI sedang merancang gerakan radikal,” tuturnya.

Menurut Ras MD, pernyataan itu justru dapat dimaknai sebagai upaya memosisikan PSI di antara kelompok masyarakat yang tidak puas terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

“Saya membacanya jika PSI sedang membangun pandangan jika ia berada dalam kelompok yang tak puas terhadap rezim Prabowo,” ujarnya.

Strategi tersebut, menurut Ras MD, berpotensi menguntungkan PSI karena kelompok masyarakat yang menyatakan ketidakpuasan terhadap pemerintahan masih cukup besar berdasarkan sejumlah survei.

“Kan kelompok tak puas dengan rezim Prabowo di atas 50 persen. Bahkan di data terbaru Tempo ketidakpuasan Prabowo mencapai 60 persen,” katanya.

Dengan memasuki ruang politik kelompok tersebut, PSI dinilai berpeluang mendapatkan ceruk elektoral baru.

“Melebur ke dalam kelompok yang tak puas adalah berkah bagi partai sekelas PSI yang sedang membangun elektabilitasnya. Apalagi jika respons kelompok tak puas terbuka bagi PSI,” kata Ras MD.

Jokowi Masih Jadi Penyeimbang

Namun, strategi tersebut bukan tanpa risiko. Menurut Ras MD, mengambil jarak secara politik dari pemerintahan Prabowo dapat menimbulkan konsekuensi bagi PSI dan jejaring politik Jokowi.

Meski begitu, ia menilai keberadaan Jokowi masih menjadi faktor yang dapat menjaga keseimbangan politik kelompok tersebut.

“Tentu ada risiko. Risiko kebijakan, namun saya yakin Jokowi masih mampu mengimbangi atas pengaruh yang ia miliki,” ujarnya.

Bagi Ras MD, tantangan terbesar PSI saat ini tetap meningkatkan elektabilitas.

Berbagai isu politik, termasuk pernyataan mengenai kemungkinan percepatan pemilu, dapat menjadi instrumen untuk menjaga partai tersebut tetap berada dalam perhatian publik.

“Bagi PSI saat ini mendongkrak elektabilitasnya menjadi PR utama,” kata dia.

Budi Arie Bicara Percepatan Pemilu

Pernyataan Budi Arie mengenai kemungkinan percepatan Pemilu 2029 disampaikan di hadapan Jokowi.

Dalam video yang beredar, Budi Arie mengatakan telah menyampaikan pandangan tersebut secara langsung kepada Jokowi.

“Tetapi saya ingin sampaikan, tadi saya udah bisik ke Pak Jokowi, ‘Pak, kok insting saya ini lebih cepat dari 2029?’ Apakah kita mau? Belum tentu kita mau. Kita masih ngomong ke Pemilu 2029,” kata Budi Arie.

Ia kemudian mengajukan pertanyaan kepada peserta yang hadir.

“Kalau terjadi percepatan gimana? Kita siap, gak?” ujarnya.

Peserta kemudian menjawab, “Siap!”

Budi Arie lantas mengaitkan kemungkinan tersebut dengan situasi sosial dan ekonomi.

Ia menyinggung pengalaman menjelang Reformasi 1998 ketika perubahan politik berlangsung lebih cepat dari perkiraan.

Menurut dia, keresahan masyarakat dan kondisi ekonomi dapat menjadi variabel yang memicu perubahan politik.

“Ini terjadi yang namanya kalau menurut pendapat saya terjadi yang namanya patahan sejarah, bagaimana tahun 97 itu tiba-tiba pemilu berikutnya 99,” kata Budi Arie.

Ia kemudian menyebut kemungkinan terjadinya perubahan serupa bukan sesuatu yang mustahil.

“Dan potensi ini bukan tak ada, sangat besar dengan keresahan masyarakat dan kondisi ekonomi saat ini yang betul-betul tidak membuat masyarakat happy,” ujar Budi Arie.

Artikel terkait lainnya