‘Kudeta Senyap’ Mengancam? Jokowi Disebut Hanya Beri Waktu Prabowo Dua Tahun hingga Oktober 2026!

DEMOCRAZY.ID — Panggung politik nasional kembali diguncang oleh isu panas yang melibatkan lingkaran kekuasaan tertinggi di Indonesia.

Mantan Sekretaris Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Said Didu melontarkan pernyataan mengejutkan dengan mengklaim bahwa Presiden ke-7 RI Joko Widodo sedang berupaya melancarkan kudeta senyap terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Klaim Kudeta Senyap dan Target Waktu Singkat

Dalam pernyataannya, Said Didu menyebutkan bahwa gerakan politik bawah tanah tersebut dirancang dengan target waktu yang sangat singkat bagi kepemimpinan Prabowo Subianto.

Dia memperkirakan masa jabatan Prabowo sebagai orang nomor satu di negara ini hanya akan diberikan waktu selama dua tahun saja.

“Saya was-wasnya benar, bahwa Prabowo hanya dikasih waktu dua tahun, artinya Oktober 2026,” kata Said Didu dilansir dari saluran YouTube Abraham Samad Speakup.

Pernyataan ini langsung memicu gelombang spekulasi di tengah publik mengenai stabilitas koalisi dan masa depan pemerintahan yang sedang berjalan.

Dugaan Motif Penguasaan Kekuasaan

Meskipun tidak memaparkan secara terperinci strategi teknis di balik gerakan tersebut, Said Didu menduga bahwa dinamika ini didasari oleh ketidakrelaan Jokowi dalam melepaskan kendali kekuasaan yang telah dipegangnya selama satu dekade penuh.

Menurut pandangannya, transisi kepemimpinan yang terjadi belum sepenuhnya memutus pengaruh lama dari lingkaran Istana sebelumnya.

“Intinya Jokowi tuh tidak pernah rela melepaskan kekuasaan ke siapapun termasuk Prabowo,” ujarnya.

Hal inilah yang diyakini menjadi pemicu utama munculnya potensi gesekan politik antara kekuatan lama dan rezim yang sedang berkuasa saat ini.

Ancaman Gerakan Politik Tersembunyi

Lebih lanjut, Said Didu memperingatkan bahwa upaya pelengseran tersebut tidak akan dilakukan secara frontal, melainkan melalui pola gerakan politik yang merayap dan sulit dideteksi sejak dini.

Serangan-serangan tersembunyi diprediksi akan diarahkan dari berbagai sisi untuk menggoyang fondasi pemerintahan Prabowo Subianto secara perlahan namun berdampak besar.

“Kudeta senyap, senyap dan merayap. Kita enggak tahu apa yang akan terjadi, ini ronde terakhir, apakah KO atau menang angka,” pungkasnya.

Isu ini kini menjadi sorotan tajam berbagai pihak, menguji ketahanan politik nasional di tengah berbagai tantangan transisi kekuasaan yang sedang berlangsung.

[FULL VIDEO]

Artikel terkait lainnya