DEMOCRAZY.ID – Pernyataan Presiden Prabowo Subianto mengenai ibu Susanah yang disebut mendapat upah Rp700 ribu per kilogram untuk mengupas bawang masih menjadi perbincangan publik.
Di tengah polemik itu, Kepala Badan Komunikasi Pemerintah, Muhammad Qodari, memberikan penjelasan mengenai apa yang sebenarnya tertulis dalam naskah pidato Presiden.
Dikatakan Qodari, angka yang tercantum dalam teks bukanlah Rp700 ribu, melainkan Rp700 per kilogram.
Qodari menuturkan bahwa kekeliruan tersebut terjadi ketika Prabowo menyampaikan pidato dalam durasi yang cukup panjang.
Ia memastikan angka yang tertulis dalam naskah berbeda dengan angka yang kemudian terdengar saat Presiden menyampaikan pidatonya.
“Sebetulnya teksnya atau naskahnya itu kan Rp700 rupiah per kilogram,” ujar Qodari, Selasa (18/8/2026).
Qodari menekankan bahwa angka Rp700 ribu seharusnya dapat dilihat secara kritis karena nominal tersebut dinilai tidak sejalan dengan harga bawang di pasaran.
Lebih lanjut, Qodari mengajak publik melihat persoalan tersebut dengan mempertimbangkan konteks harga bawang.
Ia mengatakan, jika harga bawang saja berada di kisaran puluhan ribu rupiah per kilogram, maka sulit diterima jika ongkos mengupasnya mencapai ratusan ribu rupiah.
“Dan rasanya juga sebetulnya kalau membaca dengan menganalisa dengan niat baik saya kira, pasti nggak mungkin lah Rp700 ribu, karena harga bawang berapa sekarang di Jakarta?” timpalnya.
Qodari kemudian menyebut perkiraan harga bawang yang menurutnya berada di kisaran Rp42 ribu per kilogram.
“Kalau nggak salah itu sekitar 42 ribu satu kilogram, nggak mungkin,” imbuhnya.
Qodari juga memberikan gambaran mengenai kemungkinan harga bawang setelah melalui proses pengupasan.
Baginya, sekalipun bawang tersebut sudah dalam kondisi terkupas, harga jualnya diperkirakan tidak sampai menghasilkan perbedaan yang sangat jauh.
“Upah mengupasnya itu sampai Rp700 ribu kan, begitu, jadi kalaupun misalnya bawangnya sudah bawang yang sudah terkupas, mungkin harga jualnya menjadi Rp70.000 atau Rp80.000,” jelasnya.
Karena itu, ia menegaskan bahwa angka Rp700 ribu yang terucap dalam pidato tidak mencerminkan angka yang dimaksud dalam naskah.
Qodari menekankan bahwa kekeliruan dalam menyampaikan angka merupakan hal yang dapat terjadi ketika seseorang berbicara dalam waktu lama.
Ia bahkan mengaitkan hal tersebut dengan pengalamannya sendiri ketika menyampaikan pernyataan di hadapan publik.
“Jadi sekali lagi itu murni merupakan sisi manusiawi dari seorang Pak Prabowo,” bebernya.
Qodari mengatakan dirinya juga tidak luput dari kesalahan ketika harus berbicara atau memberikan penjelasan secara rutin di media.
Menurut Qodari, aktivitas berbicara di depan publik dengan materi yang beragam memiliki potensi terjadinya kesalahan penyebutan.
Ia mencontohkan dirinya yang rutin memberikan tanggapan terhadap berbagai persoalan melalui rekaman maupun konferensi pers.
“Saya sendiri kan selain sering ke media juga rekaman untuk menanggapi permasalahan dan isu-isu tiap minggu hari Senin,” terangnya.
Ia mengatakan kesalahan serupa juga dapat terjadi ketika dirinya menyampaikan pembaruan mengenai program pemerintah.
“Itu rekaman bisa salah-salah sebut termasuk juga hari Rabu kalau ada press conference update program prioritas pemerintah juga sering salah sebut,” imbuhnya.
Qodari kembali menegaskan bahwa kekeliruan penyebutan angka tersebut tidak perlu dibesar-besarkan.
Kata dia, durasi pidato yang panjang dapat membuat seseorang mengalami slip of the tongue atau salah mengucapkan kata maupun angka.
“Jadi itu sesuatu yang sebetulnya sangat manusiawi, saya kira siapapun kalau berbicara dengan durasi yang begitu panjang ya selip-selip satu dua kata,” tandasnya.
Ia pun kembali memberikan penegasan mengenai angka yang sebenarnya dimaksud dalam pidato Presiden.
“Sesuatu yang sangat manusiawi, mohon maaf, artinya bukan Rp700 ribu, artinya bukan Rp700 ribu, tapi Rp700 rupiah,” kuncinya.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto memperkenalkan Susanah dalam pidatonya pada Sidang Tahunan MPR RI.
Dalam kesempatan tersebut, Prabowo menyampaikan kondisi Susanah yang disebut berasal dari Kabupaten Bogor dan bekerja sebagai buruh harian.
“Hari ini hadir bersama kita Ibu Susana dari Kabupaten Bogor,” ujar Prabowo diiringi tepuk tangan para pejabat negara dan tamu undangan.
“Ia bekerja sebagai buruh harian, mengupas bawang dengan upah 700 ribu rupiah per kilogram,” tambahnya.
Prabowo juga menyebut Susanah mendapatkan dukungan melalui sejumlah program bantuan pemerintah.
“Program Keluarga Harapan dan Program Sembako membantu menjaga pendidikan anak-anaknya,” jelasnya.
Dalam pidato yang sama, Prabowo turut memperkenalkan sosok lainnya, yakni Margaret Lita Roy dari Kupang, Nusa Tenggara Timur.
“Hadir pula Ibu Margaret Lita Roy dari Kupang, Nusa Tenggara Timur,” ucap Prabowo.
“Sejak kecil ia hidup dalam kesulitan dan tidak pernah menyenyam pendidikan,” sambung dia.
Prabowo menyebut Margaret pada usia 38 tahun masih berdagang sekaligus merawat tantenya yang telah berusia 80 tahun.
“Pada usia 38 tahun, ia masih berdagang serta merawat tantunya yang sudah berusia 80 tahun,” imbuhnya.
Menurut Prabowo, bantuan sosial yang diterima Margaret menjadi salah satu penopang keluarganya.
“Bantuan sosial atensi berupa beras dan minyak menjadi penopang keluarganya,” tandasnya.
Lebih jauh, Prabowo bilang bahwa kehadiran negara semestinya memperkuat perjuangan masyarakat, bukan menggantikan kerja keras mereka.
“Negara hadir bukan untuk menggantikan kerja keras rakyat negara hadir agar kerja keras rakyat tidak sia-sia,” kuncinya.