DEMOCRAZY.ID — Dinamika perpolitikan nasional di bawah bayang-bayang transisi kekuasaan dinilai telah memasuki babak baru yang semakin sengit.
Pengamat kebijakan publik, Said Didu, melontarkan analisis tajam terkait manuver politik mantan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) yang diindikasikan mulai turun tangan secara langsung demi mengamankan masa depan politik putra sulungnya, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, menuju kontestasi Pemilihan Presiden 2029.
Melalui unggahan di akun media sosial pribadinya, Said Didu mengungkapkan bahwa konstelasi elite saat ini telah mencapai titik eskalasi tertinggi, di mana pertarungan kekuasaan antar-kelompok tidak lagi berjalan melunak, melainkan menggunakan prinsip bertahan atau disingkirkan.
“Seperti yang berkali-kali saya katakan bahwa sekarang sudah pada titik ‘to kill or to be killed’,” ujar Said Didu, Kamis (13/8/2026).
Ia menilai, indikasi mengerasnya persaingan tersebut semakin kasat mata tatkala melihat keterlibatan aktif Jokowi dalam merancang dan mempersiapkan langkah-langkah strategis bagi Gibran agar siap menghadapi pertarungan politik merebut kursi RI 1 pada tahun 2029 mendatang.
“Jokowi sudah terjun langsung persiapkan anaknya (Gibran) untuk jadi Presiden,” tegasnya.
Selain itu, Said Didu turut menyoroti pergerakan faksi politik yang kerap diidentifikasikan sebagai “Geng Solo”.
Menurutnya, pola dan arah konsolidasi kelompok tersebut kini semakin terbaca dengan jelas dalam peta percaturan kekuasaan nasional, menandakan adanya upaya sistematis untuk mempertahankan pengaruh politik pasca-kepresidenan Jokowi.
Posisi Gibran Rakabuming Raka yang saat ini mengemban amanat sebagai Wakil Presiden secara otomatis menempatkannya sebagai salah satu figur sentral sekaligus poros kekuatan dalam kalkulasi politik menuju 2029.
Kendati pandangan yang disampaikan Said Didu merupakan analisis serta pembacaan subyektif dari kacamata pengamat publik—dan bukan merupakan pernyataan atau keputusan resmi dari pihak keluarga terkait pencalonan—diskursus ini semakin memanaskan diskursus politik nasional.
Pergerakan para elite, dinamika relasi kuasa dengan lingkaran istana saat ini, serta manuver kelompok-kelompok politik diprediksi akan terus menjadi sorotan utama di tengah publik seiring berjalannya waktu menuju tahapan pemilu berikutnya.