Geger Isu Liar Istana! Prabowo Disebut Bisa Mundur dari Kursi Presiden, Skenario Gibran Naik Tahta Makin Nyata?

DEMOCRAZY.ID — Panggung politik nasional kembali diguncang oleh analisis tingkat tinggi yang memantik spekulasi liar di kalangan publik.

Praktisi intelijen kawakan, Kolonel (Purn) Sri Radjasa Chandra, secara terbuka membeberkan adanya potensi Presiden Prabowo Subianto melepaskan jabatannya sebelum masa bakti berakhir.

Dalam ulasannya di kanal YouTube 2045 TV, Radjasa menyebut ada dua variabel utama yang menjadi titik rawan kepemimpinan Prabowo, yakni faktor kesehatan yang kian rentan serta eskalasi desakan publik yang diprediksi mulai memuncak pasca-Agustus 2026.

“Sesungguhnya gini ya, kita dari kondisi kesehatan Prabowo itu juga enggak baik-baik aja loh. Yang kita khawatirkan nanti ketika terjadi gonjang-ganjing mulai Agustus dan seterusnya, ini bisa juga tiba-tiba presiden mengundurkan diri karena desakan publik,” ujar Radjasa, dikutip Kamis (30/7/2026).

Ia menegaskan, skenario mundurnya seorang kepala negara melalui jalur pengunduran diri sukarela merupakan mekanisme yang berbeda jalur dengan proses pemakzulan (impeachment) formal di parlemen.

“Kalau presiden mengundurkan diri itu beda loh. Mungkin bisa satu paket,” tandasnya, menyiratkan adanya skenario suksesi senyap yang menempatkan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka untuk naik takhta menggantikan posisi petahana sesuai konstitusi.

Menghidupkan Kembali Isu “Jabatan 2 Tahun” yang Pernah Dibongkar Connie Bakrie

Pernyataan dari kalangan intelijen ini sontak menarik ingatan publik pada kontroversi serupa yang sempat dilemparkan pengamat militer Connie Rahakundini Bakrie pada awal 2024 silam.

Kala itu, Connie sempat melempar klaim mengejutkan mengenai batasan masa jabatan Prabowo yang disebut-sebut hanya akan berlangsung singkat sebelum estafet kepemimpinan diserahkan kepada Gibran.

Kendati demikian, kubu pemenangan kala itu langsung pasang badan.

Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Prabowo-Gibran saat itu, Rosan Roeslani, secara tegas membantah klaim tersebut dan menyebut bahwa isu masa jabatan dua tahun justru dihembuskan pertama kali oleh pihak Connie sendiri dalam sebuah ruang diskusi tertutup.

“Pernyataan yang dua tahun itu bukan datang dari saya. Beliau mengatakan, ‘Ini gimana kalau sudah dua tahun, atau kalau tiba-tiba Pak Prabowo, saya ini orang intelijen, bisa saja Pak Prabowo diracun, bisa lebih cepat, itu gimana?’,” ungkap Rosan dalam konferensi pers kala itu, menepis keras narasi spekulatif tersebut.

Hingga detik ini, tidak ada satupun sinyal atau pernyataan resmi dari Istana yang mengonfirmasi adanya rencana pengunduran diri Presiden Prabowo.

Seluruh skenario yang dilemparkan oleh para pengamat maupun purnawirawan intelijen masih sebatas pembacaan geopolitik dan spekulasi tingkat tinggi.

Kendati demikian, guliran isu ini membuktikan bahwa bayang-bayang transisi kekuasaan dan dinamika relasi Istana terus menjadi bara dalam sekam yang mengawasi jalannya pemerintahan saat ini.

Artikel terkait lainnya