Skenario ‘Big Zero’ Intai Jokowi, Pakar Kupas Habis Akhir Tragis Trah Politik Mantan Presiden!

DEMOCRAZY.ID — Gelombang kritik pedas terhadap sisa-sisa pengaruh politik mantan Presiden Joko Widodo kian mengalir deras dari kalangan intelektual dan budayawan.

Peneliti senior yang juga budayawan terkemuka, Mohamad Sobary, melontarkan vonis telak bahwa seluruh rangkaian manuver politik yang dilakukan Jokowi pascapurnatugas tidak akan berbuah hasil, melainkan berujung pada kehampaan total atau “big zero”.

Menurut Sobary, berbagai langkah agresif yang dimainkan di ujung masa kekuasaan hingga saat ini justru mencerminkan kepanikan dan keputusasaan politik dalam mempertahankan pengaruh dinasti.

“Silakan terus melakukan tindakan-tindakan penuh kecemasan itu. Lakukan tindakan-tindakan frustrasi itu terus-menerus untuk membuktikan bahwa di ujung perjalanan di akhir semua tindakan itu semuanya adalah big zero,” ujar Sobary dalam kanal YouTube Forum Keadilan TV.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa kerja politik yang dipaksakan tersebut sama sekali tidak memiliki bobot substansial bagi masa depan demokrasi bangsa, melainkan sebuah kesia-siaan belaka secara politis.

“Seluruh tindakan Jokowi itu akan berakhir menjadi big zero. Bukan meaningful. Bukan meaningful. Itu meaninglessness. Meaninglessness secara apapun secara politik enggak dapat apa-apa,” imbuhnya.

Safari Politik di Tengah Vonis Kekosongan Makna

Vonis “tanpa arti” tersebut dilayangkan di tengah gencarnya aksi turun gunung Jokowi untuk menyelamatkan masa depan Partai Solidaritas Indonesia (PSI).

Setelah memulai safari politik pertamanya di Lampung pada akhir Juni 2026—bahkan sempat tampil mencolok mengenakan atribut topi berlogo partai—gerilya politik ini dipastikan terus berlanjut.

Berdasarkan jadwal resmi dari DPP PSI, agenda blusukan purnatugas tersebut akan kembali dilanjutkan ke Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 31 Juli 2026 mendatang.

Rangkaian tur ini dirancang menyasar hingga tingkat akar rumput dan kecamatan demi mendongkrak struktur serta mengamankan tiket lolos ambang batas parlemen pada Pemilu 2029 demi sang putra bungsu, Kaesang Pangarep.

Di tengah gempuran vonis meaningless dan kritik tajam para pengamat, akankah mesin politik Istana mampu mematahkan ramalan kehampaan tersebut, atau justru benar-benar tersungkur di ujung sejarah?

Artikel terkait lainnya