Singgung Upaya Hancurkan Relasi Jokowi dan Prabowo, Ada Bocoran Terbaru dari Ketum Projo Budi Arie!

DEMOCRAZY.ID — Ketua Umum Projo, Budi Arie Setiadi, akhirnya angkat bicara untuk merespons polemik yang menyeret hubungannya dengan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) serta Presiden ke-8 RI Prabowo Subianto.

Budi Arie menyebut ada banyak pihak yang sengaja ingin mengadu domba kedua tokoh tersebut.

Pernyataan ini disampaikan menyusul banyaknya pihak yang mencoba menyeret mantan presiden Jokowi sebagai dalang di balik ucapannya yang sempat viral di media sosial.

“Gini loh, pihak-pihak yang ingin mengadu domba Pak Jokowi dan Pak Prabowo. Ini kan banyak sekali,” kata Budi Arie, dikutip Jumat (28/8/2026).

Menurut Budi Arie, keberadaannya dalam pertemuan dengan Jokowi tidak bisa dijadikan dasar untuk menyimpulkan bahwa mantan kepala negara tersebut menyetujui analisis politik yang ia sampaikan.

Ia pun meminta publik agar tidak membingkai pernyataannya seolah-olah berasal dari kehendak Jokowi.

“Jangan di-framing-framing bahwa beliau mau ini, seperti ini,” ujarnya.

Konteks Pertemuan dan Analisis “Patahan Sejarah”

Budi Arie lantas menjelaskan konteks di balik pertemuan tersebut.

Menurutnya, Jokowi saat itu justru berupaya menenangkan para relawan yang datang menyampaikan berbagai masukan mengenai dinamika kondisi nasional.

Dalam kesempatan itu, kata Budi Arie, mantan presiden sempat memaparkan pandangannya terkait kondisi ekonomi Indonesia.

Jokowi menyebut bahwa pertumbuhan ekonomi nasional masih berada di kisaran atas 5 persen, sementara tingkat inflasi terkendali di angka sekitar 3,2 persen.

“Masih semuanya on the track,” ujar Budi Arie menirukan pesan Jokowi.

Sebelumnya, nama Budi Arie menjadi sorotan publik setelah ia mengaku memiliki insting bahwa pemilu berpotensi berlangsung lebih cepat dari jadwal resmi pada 2029.

Pernyataan itu sempat dilontarkannya di hadapan Jokowi.

“Saya ingin sampaikan, tadi saya sudah bisik ke Pak Jokowi, ‘Pak, kok insting saya ini lebih cepat dari 2029?’. Apakah kita mau? Belum tentu kita mau. Kita masih ngomong ke Pemilu 2029. Kalau terjadi percepatan gimana? Kita siap, enggak?” ungkap Budi Arie saat itu.

Ia juga sempat mengaitkan kemungkinan percepatan tersebut dengan kondisi sosial serta tekanan ekonomi masyarakat.

Budi Arie bahkan membandingkan situasi saat ini dengan kondisi menjelang peralihan besar pada akhir era Orde Baru.

“Ini terjadi yang namanya kalau menurut pendapat saya terjadi yang namanya patahan sejarah, bagaimana tahun ’97 itu tiba-tiba pemilu berikutnya ’99. Dan potensi ini bukan tak ada, sangat besar dengan keresahan masyarakat dan kondisi ekonomi,” tegasnya.

Artikel terkait lainnya