DEMOCRAZY.ID – Polemik dugaan ijazah palsu yang menyeret sejumlah pihak kembali memanas. Tersangka dugaan fitnah ijazah palsu, Roy Suryo, membantah anggapan bahwa dirinya sengaja mengulur-ulur proses perkara.
Roy justru menuding Presiden ke-7 RI Jokowi yang sejak awal membuat persoalan tersebut menjadi panjang.
“Siapa yang bikin panjang? Ya, sejak awal Jokowi sendiri yang bikin panjang,” ujar Roy, Minggu (23/8/2026).
Dikatakan Roy, polemik tersebut sebenarnya dapat diselesaikan dengan cara sederhana apabila ijazah yang dipersoalkan ditunjukkan sejak awal.
Roy kemudian membandingkan polemik ijazah Jokowi dengan pengalaman sejumlah tokoh lain yang menurutnya pernah diminta menunjukkan dokumen pendidikan.
Ia menyebut nama Arsul Sani dan Barack Obama sebagai contoh.
Khusus Obama, lawan politiknya pernah mempersoalkan akta kelahirannya melalui teori konspirasi birther.
Mereka menuduh Obama tidak lahir di Amerika Serikat sehingga dianggap tidak sah menjadi presiden.
Untuk meredam isu tersebut, Obama akhirnya merilis salinan resmi akta kelahirannya ke publik pada tahun 2011.
“Kalau mau dari awal, udah banyak contohnya. Arsul Sani ditanya ijazahnya, tunjukkan. Obama ( Asrul Sani bilang, red) saya ditanya ijazahnya kemarin, saya tunjukkan,” tukasnya.
Lanjut Roy, jika dokumen tersebut diperlihatkan, perdebatan tidak perlu berlangsung panjang.
“Perkara orang-orang masih ribut, ya silahkan aja. Jadi kalau ditunjukkan, dia nggak perlu bikin reuni-reunian,” ucap dia.
Roy juga menyinggung kegiatan reuni yang dikaitkan dengan Jokowi. Ia mempertanyakan kehadiran Jokowi dalam kegiatan reuni UGM maupun Kagama.
“Kalau mau datang reuni, reuni UGM, Kagama. Mana pernah dia datang ke Kagama? Nggak pernah datang ke Kagama. Ya, saya selalu datang ke Kagama,” timpalnya.
Bukan hanya itu, kata Roy, proses pemberkasan perkara tersebut telah berlangsung lebih dari 400 hari.
Ia mempertanyakan lamanya waktu yang dibutuhkan apabila persoalan yang diperiksa sebenarnya sederhana.
“Terus itu satu. Kedua, 400 lebih hari dibutuhkan polisi itu untuk memberkaskan. Mana ada persoalan sebenarnya sederhana?,” jelasnya.
Roy mengingatkan bahwa sebelumnya sempat ada pernyataan proses tersebut dapat diselesaikan dalam waktu sekitar dua bulan.
“Kata polisi dulu katanya ini 2 bulan saja selesai. Nyatanya enggak, karena ya palsu,” imbuhnya.
Roy juga tidak habis pikir dengan jumlah barang bukti yang disebut mencapai 712 item.
Menurutnya, banyaknya barang bukti tersebut tidak serta-merta menjawab persoalan utama yang dipersoalkan.
“Mana ijazah aslinya saja enggak pernah ada pakai 712 barang bukti. 712 barang bukti itu isinya apa? Formulir Jokowi ketika mendaftarkan wali kota. Ketika mendaftarkan apa?,” bebernya.
Roy menyebut sejumlah barang yang menurutnya tidak berkaitan langsung dengan pembuktian ijazah.
“Enggak ada, ada mesin ketik juga, ya, terus ada. USB flash disk dari orang-orang yang tidak ada hubungannya, ngapain juga. buktinya cukup satu, ijazah aslinya,” tegasnya.
Roy juga menanggapi kabar mengenai kemungkinan Jokowi membawa ijazah dalam persidangan.
Ia mempertanyakan bagaimana dokumen tersebut dapat dibawa jika benar telah disita oleh kepolisian.
“Sekarang kalau ada cerita dia akan membawa ijazahnya, kok bisa membawa, ijazahnya sudah disita polisi, akan membawa, bohong lagi dia,” Roy menuturkan.
“Artinya itu, jadi banyaklah kebohongannya, udah jelas lah itu jadi makanya kalau mau dia tampil di sidang tunggu saja tanggal mainnya,” tambahnya.
Roy kemudian mengaku tidak yakin Jokowi akan hadir secara langsung dalam persidangan.
Ia menyinggung adanya berbagai wacana mengenai pengamanan hingga kemungkinan persidangan dilakukan secara daring.
“Udah banyak caranya. Banyak tuh relawan bilang gak boleh tampil di sidang. Nanti akan ada keamanan gini. Bahkan akan diusulkan nanti adalah pakai zoom. Itu kan udah jelas lah,” tandasnya.
Roy menilai berbagai wacana tersebut menunjukkan adanya kemungkinan Jokowi tidak hadir langsung di persidangan.
“Niatnya aja udah gak akan datang ke sidang. Dan saya tidak akan percaya dia datang di sidang,” kuncinya.