Selain Greenpeace, Ini 4 Organisasi yang Gencar Bersuara Soal Karhutla!

DEMOCRAZY.ID – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi salah satu isu lingkungan yang kembali mendapat perhatian masyarakat Indonesia.

Di tengah berbagai persoalan yang disuarakan Greenpeace bersama masyarakat dalam aksi di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), kemarin (20/10/2026), persoalan karhutla juga terus menjadi sorotan seiring dampaknya terhadap lingkungan dan kehidupan warga.

Sejumlah organisasi lingkungan dan masyarakat sipil turut menyuarakan persoalan ini melalui berbagai cara, mulai dari publikasi kajian hingga aksi damai.

Upaya tersebut dilakukan untuk mendorong penanganan karhutla yang lebih serius, pengusutan penyebab kebakaran, serta perlindungan terhadap masyarakat dan kawasan hutan yang terdampak.

Merangkum dari berbagai sumber pada Rabu (21/10/2026), berikut sejumlah organisasi yang turut menyuarakan isu karhutla di Indonesia:

1. Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI)

Melansir dari situs resmi walhi.or.id, Walhi merupakan organisasi terbesar di Indonesia yang bergerak di lingkungan hidup.

Sejak 1980, WALHI aktif memperjuangkan penyelamatan dan restorasi lingkungan hidup di Indonesia.

Organisasi ini berfokus untuk mendorong pengakuan hak atas lingkungan hidup yang terlindungi, serta terpenuhinya HAM sebagai tanggung jawab negara atas sumber kehidupan masyarakat.

WALHI menghimpun 506 organisasi non-pemerintah dan pencinta alam, serta 187 anggota perorangan di 29 provinsi.

WALHI menegaskan komitmennya pada untuk menjadi bagian dari gerakan yang mewujudkan keadilan ekonomi, sosial, dan ekologis bagi generasi saat ini maupun mendatang.

Pada Rabu (14/10/2026), WALHI mengeluarkan siaran pers pada situs resminya mengenai tuntutan terkait dalang dibalik api, sesiapa saja yang paling diuntungkan dari musibah karhutla.

Dalam siaran pers tersebut, WALHI meluncurkan kajian dengan dengan empat persoalan utama yaitu:

Keterlibatan modal asing di balik konsesi berisko tinggi,Keterkaitan lima sosok yang memiliki kedekatan dengan Prabowo Subianto,Konsentrasi titik panas di kawasan Proyek Strategis Nasional (PSN) yang melibatkan korporasi maupun wilayah yang diampu pemerintah,Serta pola karhutla yang perlu ditelusuri hingga tingkat kelompok usaha (corporate group).

2. Jaringan Kerja Penyelamat Hutan Riau (Jikalahari)

Berdiri sejak 26 Februari 2002 di Pekanbaru, Jikalahari merupakan sebuah forum yang terdaftar di Pengadilan Negeri Pekanbaru dengan akta Notaris Rahmat Nauli Siregar No. 05 tanggal 21 Mei 2004.

Jikalahari beranggotakan organisasi non-pemerintah (ORNOP) yang memiliki dedikasi tinggi terhadap isu lingkungan.

Saat ini, Jikalahari menaungi 21 organisasi, yang terdiri dari 15 LSM dan enam kelompok Mahasiswa Pencinta Alam, serta tujuh individu sebagai Saudara Jikalahari.

Jikalahari memiliki prinsip untuk mewujudkan pengelolaan hutan Riau yang adil dan lestari dengan berpegang pada: adil, independen, demokratis, transparan, partisipatif, menjunjung HAM, supremasi hukum, akuntabilitas, dan keadilan gender.

Selain itu, Jikalahari juga berpihak pada masyarakat adat dan kaum marjinal, menjaga keberlanjutan ekologi-ekonomi hutan, kearifan lokal, serta masyarakat sipil.

Pada situs resminya, Jikalauhari fokus memberitakan berbagai isu lingkungan terutama yang berkaitan dengan pembalakan hutan.

3. Kongres Rakyat Kalimantan Tengah (KRKT)

Organisasi ini berfokus untuk menyuarakan persoalan warga dan kebijakan yang dibuat oleh pemerintah di Kalimantan Tengah.

Pada Kamis (15/10/2026) KRKT mengadakan aksi damai di depan kantor Gubernur dan kantor DPRD Provinsi Kalimantan Tengah.

Aksi tersebut membawa empat tuntutan utama terkait penanganan karhutla, dampak kemarau panjang, serta perlindungan masyarakat terdampak di Kalimantan Tengah.

Detail Empat Tuntutan yang Diajukan:

Melalui aksi tersebut, KRKT berharap untuk tanggap mengambil langkah konkret dalam penangan karrhutla, pemulihan kondisi bagi masyarakat terdampak, serta perlindungan kawasan hutan gambut di Kalimantan Tengah.

4. Trend Asia

Trend Asia merupakan organisasi sipil yang independen dan menjadi penggerak percepatan transisi energi serta pembangunan berkelanjutan di Asia.

Organisasi ini mempunyai tiga misi utama yaitu:

  • Mendorong percepatan transisi energi melalui pembangunan ekosistem dan model energi bersih terbarukan yang adil, berkelajutan, dan berbasis masyarakat.
  • Memperkuat ekosistem produksi, distribusi, hingga konsumsi yang bertumpu pada prinsip ekonomi demokratis dan berkelanjutan.
  • Menggerakkan inisatif ekososionomik yang mengintegrasikan aspek ekologi, sosial, dan ekonomi demi menjamin kesejahteraan rakyat serta keadilan antar generasi.

Pada bulan September 2026, Trend Asia mempublikasikan berbagai laporan terkait isu lingkungan salah satunya masalah karhutla.

Itulah sejumlah organisasi yang turut menyuarakan isu karhutla di Indonesia!

Artikel terkait lainnya