Rakyat Berhak Jadi Hakim Bongkar Keburukan Menteri Prabowo, Pengamat: Jangan Cemen, Hadapi Kabinet Bayangan!

DEMOCRAZY.ID – Rakyat dinilai harus menjadi penilai paling objektif terhadap kualitas para menteri Kabinet Merah Putih.

Karena itu, pemerintah didorong membuka ruang dialog terbuka antara menteri dan anggota Kabinet Bayangan bentukan Koalisi Masyarakat Sipil agar publik dapat menyaksikan langsung adu data, adu argumentasi, dan adu gagasan dalam menyelesaikan persoalan bangsa.

Kabinet Bayangan dibentuk dan diumumkan Koalisi Masyarakat Sipil pada 27 Juli 2026 sebagai wadah pengawasan terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Beranggotakan akademisi, pakar hukum, ekonom, aktivis hingga pegiat lingkungan, kelompok ini dibentuk menyerupai struktur kabinet dengan tugas mengawal dan mengkritisi kinerja kementerian sesuai bidang masing-masing melalui kajian dan rekomendasi kebijakan.

Pakar komunikasi politik Emrus Sihombing menilai keberadaan Kabinet Bayangan akan memberi manfaat apabila pemerintah tidak menghindari kritik.

Sebaliknya, ia mendorong agar pemerintah membuka ruang dialog yang dapat disaksikan publik sehingga masyarakat memperoleh informasi langsung mengenai kualitas argumentasi kedua belah pihak.

“Sejatinya lebih baik dialog publik terbuka. Sehingga rakyat bisa menilai kompetensi menteri dari Kabinet Bayangan dan kompetensi menteri dari pemerintahan. Kita bisa melihat dari dialognya,” kata Emrus dalam wawancara bersama Tribunnews Redaksi Solo, Rabu (5/8/2026)..

Menurut Emrus, forum terbuka akan menghadirkan ruang adu data, adu fakta, dan adu argumentasi.

Dari proses tersebut, masyarakat dapat menilai secara objektif siapa yang memiliki pemahaman lebih baik terhadap persoalan yang dibahas sekaligus siapa yang menawarkan solusi paling rasional.

“Nah, dengan demikian mereka adu data, adu argumentasi, adu fakta satu dengan yang lain,” ujarnya.

Bukan Ancaman Pemerintah

Emrus menegaskan pemerintah tidak perlu memandang Kabinet Bayangan sebagai lawan politik.

Dalam sistem demokrasi, keberadaan kelompok yang menjalankan fungsi kontrol merupakan bagian dari mekanisme check and balance yang dibutuhkan untuk menjaga kualitas pemerintahan.

Ia menilai fungsi tersebut selama ini juga dijalankan oleh pers, kalangan akademisi, lembaga swadaya masyarakat, hingga masyarakat sipil.

Kabinet Bayangan hanya mengorganisasikan fungsi pengawasan itu menjadi lebih terstruktur dengan pembagian bidang layaknya kementerian.

“Tanpa kritik, tanpa masukan dari pihak di luar pemerintahan, maka matinya demokrasi. Kabinet Bayangan justru mengambil peran menghidupkan demokrasi kita,” katanya.

Karena itu, ia meminta pemerintah tidak bersikap defensif terhadap kritik yang muncul.

“Jangan dimusuhi, tapi ajak berdialog,” tegasnya.

Dialog Terbuka Dinilai Menguntungkan Presiden

Emrus juga menilai forum dialog terbuka akan memberi manfaat langsung bagi Presiden Prabowo Subianto.

Menurutnya, Presiden dapat memperoleh gambaran objektif mengenai kemampuan para menterinya menghadapi kritik sekaligus menjelaskan kebijakan pemerintah kepada masyarakat.

Apabila kritik Kabinet Bayangan terbukti berdasar dan kementerian tidak mampu memberikan jawaban yang memadai, kondisi tersebut dapat menjadi bahan evaluasi terhadap kinerja para pembantu Presiden.

Sebaliknya, apabila pemerintah mampu membantah kritik dengan data dan fakta yang kuat, kepercayaan publik terhadap kebijakan pemerintah juga akan meningkat.

“Justru dengan kritik dan masukan secara terbuka dari Kabinet Bayangan positif bagi Prabowo. Menjadi landasan bagi Prabowo mengingatkan pembantunya dan sekaligus menjadi dasar melakukan evaluasi,” ujarnya.

Kritik Harus Berbasis Data

Meski mendukung keberadaan Kabinet Bayangan, Emrus mengingatkan legitimasi kelompok tersebut sangat bergantung pada kualitas kritik yang disampaikan.

Ia menilai kritik tanpa data justru akan meruntuhkan kredibilitas para anggotanya sendiri.

“Kalau kritik mereka mengada-ada, justru kredibilitas mereka turun. Kritik harus rasional,” katanya.

Karena itu, ia meminta setiap anggota Kabinet Bayangan fokus mengawal kementerian yang menjadi tanggung jawabnya dengan menyampaikan kritik yang spesifik, berbasis fakta lapangan, dan disertai solusi.

Emrus berharap hubungan pemerintah dengan Kabinet Bayangan tidak diwarnai saling curiga maupun saling menyerang.

Ia mengusulkan agar kritik dijadikan budaya demokrasi yang sehat melalui forum dialog yang terbuka dan berkesinambungan.

Menurutnya, ketika menteri, Kabinet Bayangan, dan masyarakat sama-sama memiliki akses terhadap data serta ruang diskusi yang setara, kualitas kebijakan publik akan meningkat.

Pada saat yang sama, rakyat memperoleh kesempatan menjadi penilai objektif terhadap kapasitas para pejabat negara maupun para pengkritiknya.

“Biar rakyat yang menilai. Dari dialog itu akan terlihat siapa yang menguasai persoalan, siapa yang menyampaikan fakta, dan siapa yang benar-benar menawarkan solusi bagi bangsa,” ujar Emrus.

Artikel terkait lainnya